I resigned from Anthropic today. I spent the last three years doing pretraining research at both OpenAI and Anthropic. Neither company is acting responsibly. They are racing straight to self-improving superintelligence and gambling with our lives. More thoughts below.
Guys, ada laporan baru dari lembaga riset Celios yang menurut gue adalah salah satu yang paling mengerikan yang pernah gue baca tentang kondisi ekonomi Indonesia.
Judulnya: Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026.
Dan datanya bukan dari sembarang sumber.
Dari Forbes.
Dari LHKPN.
Data yang sudah terverifikasi dan tidak bisa dibantah.
Fakta pertama yang langsung bikin gue sesak napas:
50 orang terkaya Indonesia hanya 50 orang total kekayaannya mencapai Rp4.600 triliun per 2026.
APBN Indonesia?
Rp3.800 triliun.
Artinya 50 orang itu lebih kaya dari seluruh anggaran negara yang digunakan untuk membiayai 270 juta rakyat Indonesia selama satu tahun penuh.
Satu tahun.
Gaji PNS, subsidi BBM, bayar utang, bangun jalan, biaya militer, semua program sosial semuanya masih kalah dari 50 orang itu.
Dan setiap harinya harta 50 orang itu naik Rp13 miliar per hari.
Sementara upah pekerja harian di Indonesia bergerak di kisaran Rp2.000 sampai Rp5.000 per jam.
Fakta kedua ketimpangan di antara pejabat negara sendiri:
Total kekayaan pejabat negara era Prabowo-Gibran: Rp1 triliun lebih.
Dan dari seluruh pejabat itu 73% kekayaannya hanya dikuasai oleh 12 orang.
Dua belas orang.
Yang masing-masing punya kekayaan di atas Rp1 triliun.
Siapa?
Salah satu yang terbesar adalah Menteri Pariwisata Widya Kusuma.
Ada juga Menteri Perumahan Rakyat.
Keduanya masuk dalam daftar lima pejabat terkaya.
Fakta ketigayang paling menohok soal TNI dan Polri:
Setiap tamtama TNI prajurit paling bawah butuh 252 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Panglima TNI.
Dua ratus lima puluh dua tahun.
Kalau mulai kerja umur 20 baru bisa menyamai kekayaan atasannya di umur 272 tahun.
Itu bukan angka. Itu absurditas.
Di Polri sedikit "lebih baik" polisi golongan paling rendah butuh 139 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Kapolri.
Ketimpangan ini bukan hanya antara rakyat dan orang kaya. Tapi di dalam institusi yang sama.
Di antara satu korps yang sama.
Fakta keempat anggota DPR versus konstituennya:
Anggota DPR Gorontalo kekayaannya 800 kali lipat dari rata-rata masyarakat Gorontalo yang mereka wakili.
Anggota DPR Yogyakarta 400 kali lipat dari rata-rata masyarakat Yogyakarta.
Orang-orang yang mengklaim mewakili rakyat hidupnya 400 sampai 800 kali lebih kaya dari rakyat yang katanya mereka wakili.
Dan mereka yang membuat undang-undang. Mereka yang memutuskan kebijakan pajak. Mereka yang menentukan siapa yang dapat subsidi dan siapa yang tidak.
Dan ini yang membuat seluruh gambar itu menjadi sangat gelap:
Celios mengajukan satu pertanyaan yang sangat sederhana: kalau 50 orang terkaya itu dipajaki hanya 2% dari total kekayaan mereka negara dapat berapa?
Rp93 triliun per tahun.
Sembilan puluh tiga triliun.
Setiap tahun.
Dari pajak 2% saja atas kekayaan 50 orang.
Itu lebih dari cukup untuk membiayai rekonstruksi bencana besar.
Untuk membenarkan semua perlintasan kereta berbahaya di Jawa yang butuh Rp4 triliun.
Untuk menggaji 8 juta guru honorer setahun penuh.
Untuk menutup seluruh defisit BPJS Kesehatan.
Hanya dari 50 orang.
Hanya 2%. Per tahun.
Tapi itu tidak terjadi.
Dan Celios menjelaskan kenapa:
Karena orang-orang yang punya kekayaan itu — adalah orang-orang yang sama yang membiayai kampanye politik, yang duduk di dewan komisaris BUMN, yang punya akses langsung ke pengambil keputusan.
Pajak kekayaan sudah masuk dalam rencana Kementerian Keuangan paling lambat 2028 kata mereka. Tapi implementasinya? Masih "akan akan akan" saja. Tidak pernah benar-benar dieksekusi.
Sementara yang terus dipajaki adalah kelas menengah yang sudah ngos-ngosan. Kelas menengah Indonesia turun 1,1 juta orang dalam setahun tapi mereka yang paling mudah dikejar pajaknya karena datanya ada, penghasilannya kelihatan.
Seperti kata peneliti Celios: berburu di kebun binatang. Hewannya kelihatan, tinggal tembak. Sementara yang benar-benar harus dipajaki terlalu kuat untuk disentuh.
Dan ini yang paling mengerikan dari seluruh laporan ini:
Ketimpangan yang ekstrem ini bukan hanya masalah ekonomi. Ini adalah bahan bakar untuk sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Celios menelusuri pola historis dan hasilnya konsisten. Ketika ketimpangan mencapai titik ekstrem dan orang-orang hopeless tidak melihat jalan keluar yang rasional mereka tidak lari ke gerakan buruh atau gerakan sosial yang terorganisir.
Mereka lari ke kelompok-kelompok yang menawarkan identitas, musuh bersama, dan rasa memiliki.
Di Italia 1930-an orang yang di-PHK direkrut oleh Black Shirt. Di Jerman industri tutup, pengangguran meledak, orang mencari pegangan.
Di Indonesia sendiri kerusuhan 1998 dan berbagai gejolak sosial sesudahnya, ketika ditelusuri, akar masalahnya selalu sama: ketimpangan ekonomi yang dibalut isu identitas.
Dan tanda-tandanya sudah mulai terlihat sekarang ormas-ormas yang berdemo bukan ke instansi pemerintah tapi ke lembaga bantuan hukum masyarakat sipil, bayaran demo yang menjadi solusi pengangguran, program-program besar yang menyerap tenaga kerja tapi dengan cara yang menciptakan ketergantungan bukan kemandirian.
Solusi yang Celios rekomendasikan dan ini sangat konkret:
Satu — pajak kekayaan 2% untuk 50 orang terkaya. Langsung hasilkan Rp93 triliun per tahun. Bukan mimpi Brazil dan Colombia sudah melakukannya dengan komite audit independen.
Dua — moratorium MBG. Hentikan sementara, perbaiki tata kelola dari akar, baru jalankan lagi dengan tepat sasaran fokus ke daerah 3T dan keluarga miskin ekstrem, bukan merata ke semua sekolah termasuk swasta di Jabodetabek.
Tiga — kembalikan 20 triliun yang diambil dari anggaran kesehatan ke Kementerian Kesehatan untuk program stunting yang sudah terbukti efektif. Benefit yang dihasilkan: Rp400 triliun. Versus MBG yang belum jelas benefit konkretnya.
Empat — pajak windfall untuk komoditas yang sedang untung besar batu bara, sawit, nikel, minyak. Mereka untung dari harga global yang tinggi, sementara rakyat menanggung subsidi energi. Ini bukan soal nasionalisasi ini soal keadilan distribusi keuntungan.
Indonesia bukan negara miskin. Indonesia adalah negara yang kekayaannya terkonsentrasi pada sangat sedikit orang, yang sistem pajaknya melindungi orang kaya dan membebani kelas menengah, dan yang program-program besarnya lebih banyak menciptakan celah korupsi baru daripada menyelesaikan masalah lama.
50 orang lebih kaya dari APBN. 12 pejabat kuasai 73% kekayaan seluruh pejabat negara. Tamtama butuh 252 tahun untuk menyamai Panglima. Anggota DPR 800 kali lebih kaya dari konstituennya.
Dan solusinya sudah ada. Jelas. Terukur. Bisa dijalankan hari ini.
Yang tidak ada adalah kemauan politik untuk melakukannya. Karena yang harus meloloskan kebijakan pajak kekayaan itu adalah orang-orang yang sama yang akan paling terdampak olehnya.
Itu bukan korupsi yang bisa ditangkap KPK. Itu adalah struktur. Dan struktur hanya bisa diubah kalau tekanan dari bawah lebih kuat dari kenyamanan di atas.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan laporan Celios "Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026" dan wawancara peneliti Celios Bima Yudistira. Data bersumber dari Forbes dan LHKPN yang dapat diverifikasi publik. Ini analisis berbasis riset independen bukan tuduhan hukum kepada individu manapun.
Oy, @grok! Cek profil dan tweet2 ane deh, ente tau kan akun ini kerjaannya ngapain? Nah, menurut ente, ente udh bisa gantiin kerjaan akun ini blm?
Klo bisa, knp? Klo belum bisa, knp?
LO BISA MENGETAHUI WAKTU TERBAIK UNTUK BELI & JUAL ASSET DENGAN MENGETAHUI SIKLUS INI!
Gua yakin photo ini sering muncul di FYP twitter kalian kan? Yuk kita bahas!
Theory ini di temukan oleh seorang jenius bernama W.D. Gann pada tahun 1909, Dia menyadari bahwa ekonomi dunia bergerak dalam siklus 18-20 tahun.
Tahun A: Moment di mana ekonomi dunia sedang Panik, krisis, dan crash besar!
Tahun B: Tahun easy mode. Dimana majority stocks dan barang sedang dalam harga tinggi, idealnya kita bisa jual di tahun-tahun ini.
Tahun C: Tahun yang sudah. Harga rendah, pasar lesu, waktu terbaik untuk belanja.
Gua bakal jelasin dengan singkat bagaimana kita bisa memanfaatkan theory ini dalam kita berinvestasi. Jangan lupa kalaian SAVE, REPOST & BOOKMARK Thread ini.
The biggest medical scam:
ADHD.
It’s not a mental disorder, it’s a superpower in disguise.
Here’s how you turn ADHD into hyper-focus (backed by science):
kalo mau belajar dengan lebih efektif + hafal lebih cepet, coba cara ini deh!
The Generation Effect: kita lebih mudah inget info yang kita bikin sendiri daripada info yg kita terima secara pasif.
contoh: nyatet pake kata2 sendiri, bikin jembatan keledai, ngajarin org lain, dll
Bismillahirrohamanirrohim~
Izin mas Khoirul, saya mau membedah opini mas dari segi keilmuan ya… (yang mungkin sebenernya gak akan tembus juga ke yang emang pro sama rokok, tapi gapapa)
Benar, dari segi keilmuan karena apa yang dibilang oleh mas Khoirul di sini adalah hanya sebuah anekdot.
Pernah gak lihat brand yang aktif buat konten tapi VIEWS dan FOLLOWERS masih gitu-gitu aja
Ternyata konten yang dibuat masih Product Centric, yang cuma nunjukin fitur produk.
Padahal market itu selalu berubah-ubah sesuai masanya.
Pakai strategi sosmed marketing 3.0 untuk Bikin Unik Gaya Konten Sosmed Brand kamu
~ A THREAD ~
[Thread Cara Crawling Data X/Twitter untuk kebutuhan Sentimen Analisis/Data Analisis/dll]
thread ini akan membahas tutorial cara mengambil data dari twitter/x untuk kebutuhan skripsi, ta, dll.
jangan gunakan data-data tersebut untuk hal yang aneh-aneh.
jadi untuk mengambil data twit itu dibatasin perhari, kabarnya sih sehari cuman bisa 600-1000 data twit, dan untuk tutorial ini, saya menggunakan tweetharvest
source code:
https://t.co/nhEJ5ThnNP
berikut tutorial lengkapnya:
https://t.co/yrVrlCZZQo
Ada produk finance yang jarang dibahas, yang tahun ini nilai transaksinya adalah Rp 1,400 T (seribu empat ratus triliun rupiah)
For context, ini berarti:
~36x nilai transaksi SELURUH uang elektronik (Rp 39.2 Triliun); all e-wallet kayak gopay ovo dana + e-money combined
~77x nilai transaksi QRIS (Rp 18 Triliun) yang tahun ini sebenernya naik hampir 2x lipatnya
dan ini adalah (jeng jeng) ..
BRILink dari Bank super oldies yaitu BRI
It's an inclusive, superior, and f**in brilliant product: semua orang di pelosok Indonesia bisa setor & tarik tunai uang di warung depan rumahnya.
1) Daripada push aplikasi digital ke seluruh masyarakat di pelosok yang pegang hp aja masih bingung, mendingan rekrut pemilik warung jadi agen
2) Daripada pasang ATM di daerah terpencil dan kena biaya mahal harga mesin + maintenance, mending kasih mesin EDC ke agen
Kalau bank lain pake ATM yang gratis biaya, di agen BRILink setiap transaksi setor/tarik tunai dikenakan Rp 3rb flat fee yang dibagi 50:50 antara BRI dan agen.
Every transaction is PROFITABLE. Menurut gw kalau ada jargon "Banking the Unbanked", ya inilah true ultimate productnya.
Setelah jadi orang tua, w akhirnya paham kalo orang tua itu pengen selalu berguna buat anaknya. Makanya w ga ngelarang pas nyokap jauh2 dateng dari bali cuma buat ngurusin w yg habis lahiran. Meskipun sebenernya w ga tega
Tau ga? Terlalu lama duduk hgg kurang aktivitas, apalagi rebahan berhubungan dg risiko penyakit jantung & kematian mendadak.
Owen (2012) nemuin, terlalu lama duduk meningkatkan risiko kematian dini juga.
Ini perlu jadi catatan bagi kamu yg masih demen rebahan/ga suka olahraga!
Barusan selesai ngarsip semua flowchart, mind map, matriks, diagram venn, dsb yang menguraikan tentang perancangan kerangka penelitian, penyusunan karya tulis ilmiah, dan statistika yang pernah disampaikan di Twitter ke Google Drive.
Barangkali bermanfaat https://t.co/ohpzJm1t2d