Aku baru baca ini,
Hasil survey dari Policy Research Center (Porec)
Judulnya "Siapa yang diuntungkan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG)"
Silahkan kita baca hasil penelitiannya, yang sebenernya hasilnya tidak mengagetkan namun melegitimasi dan mengkonfimasi asumsi kita.
Menyederhanakan NU
Kisruh dan dinamika internal PBNU belakangan ini seperti membuka kembali lembaran lama tentang betapa rentannya jam’iyyah ketika struktur kepemimpinan melebar tanpa kejelasan garis komando. Semua pihak merasa memiliki legitimasi—Rais ‘Aam dipilih Muktamar, Ketua Umum juga dipilih Muktamar. Keduanya merasa memegang mandat langsung dari jama’ah, dan di titik inilah roda organisasi mulai tersendat, bahkan berhenti berbulan-bulan.
Dari sini, muncul satu kebutuhan mendesak: menyederhanakan NU.
1. Menata Ulang Struktur Puncak Jam’iyyah
Sudah saatnya NU mempertimbangkan model yang lebih ringkas dan jelas. Pada Muktamar mendatang, posisi yang dipilih langsung oleh Muktamar mungkin cukup Rais ‘Aam saja. Setelah itu, Rais ‘Aam terpilih diberi mandat untuk menunjuk Ketua Umum, bukan melalui kontestasi terbuka.
Model ini menyelesaikan dua persoalan sekaligus:
- Tidak ada lagi dualisme dua figur yang sama-sama merasa dipilih Muktamar;
- Konsolidasi Syuriyah dan Tanfidziyah menjadi lebih stabil karena Ketua Umum berangkat dari amanah Rais ‘Aam, bukan menjadi “kutub” tandingan.
NU berdiri di atas hikmah tatanan ulama; bukan pertempuran kuasa yang menggerus marwah jam’iyyah.
Halo sobat inklusi!
Kali ini kita bahas soal alasan kenapa hak hak disabilitas perlu dipenuhi. Ya intinya sih karena setiap manusia punya hak terlepas ketebatasan yang dimiliki. Kalo menurut kalian gimana nih? Sharing yuk!
#sapda#sapdajogja#difabel#inklusivitas
Orang yang ikhlas memiliki pola hidup yang lebih berkualitas dibanding lainnya.
Tenang menghadapi masalah, lega dengan setiap usahanya dan bersahaja dalam bertindak.
Untuk mencapainya, ada tiga cara membuat hati ikhlas.
https://t.co/J9f5om8ExJ