@Stakof cmiiw
Indonesia pake MOPS di harga minyaknya, didasarkan pd harga rata2 dua bulan sebelumnya.
Jadi klo minyak dunia naik/turun, kita g langsung ikut naik/turun.
Ada plus/minusnya.
cmiiw 🙏🏻
Mengapa Tuhan menciptakan/mengijinkan iblis melakukan kejahatan di dunia?
Jawabannya satu, Entropi.
Entropi adalah hukum alam yang menyatakan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini secara alami akan bergerak dari kondisi yang teratur menuju kondisi yang acak, kacau, dan rusak (disorder).
Rumah yang dibiarkan akan berdebu. Besi yang dibiarkan akan berkarat.
Jika Tuhan menciptakan alam semesta fisik, maka Tuhan juga menciptakan "hukum" yang mendasarinya, termasuk entropi. Dalam konteks spiritual, "Iblis" atau "Kejahatan" adalah bentuk entropi bagi moral dan kesadaran manusia.
Kejahatan adalah representasi dari kekacauan, kerusakan, dan disintegrasi moral. Tanpa adanya potensi kerusakan ini, hukum alam semesta tidak akan berjalan.
Bayangkan sebuah kehampaan yang mutlak (the void). Tidak ada ruang, tidak ada waktu, tidak ada materi. Di dalam keheningan total itu, hanya ada satu hal yaitu Kesadaran Murni.
Ketika Kesadaran ini mulai menyadari dirinya sendiri, muncul letupan kesadaran pertama "Aku Ada" (I Am).
Namun, di dalam kehampaan, jika Anda adalah satu-satunya hal yang ada, Anda tidak bisa "mengalami" diri Anda sendiri.
Untuk mengalami diri-Nya, Kesadaran itu memunculkan pikiran kedua. Tanpa adanya pembanding, Cahaya tidak tahu bahwa ia terang, dan Kebaikan tidak tahu bahwa ia mulia. Agar bisa mengenali dan mengalami Diri-Nya, Kesadaran Agung ini harus memunculkan pikiran yang kedua.
Ia kemudian menciptakan sebuah manifesto dengan mentajalikan diri-Nya, ibarat seseorang yang tiba-tiba memandang tangannya sendiri. Ketika melihat tangan itu, muncul persepsi "Ini adalah tanganku, dan ini adalah Aku yang sedang melihatnya."
Secara visual, tangan dan mata seolah-olah adalah dua hal yang terpisah (separate things). Tangan berada "di luar" sana, dan subjek yang melihat berada "di dalam" sini. Namun kenyatannya, keduanya adalah bagian dari satu tubuh yang sama (the same body). Tangan itu tidak punya kehidupan sendiri yang terlepas dari tubuh.
Melalui ilusi keterpisahan inilah, permainan kosmik dimulai. Kesadaran Agung memecah diri-Nya menjadi miliaran bahkan triliunan ciptaan alam semesta, manusia, hingga entitas yang kita sebut sebagai Iblis atau Kejahatan.
Di sinilah hukum alam fisik dan spiritual bekerja secara beriringan melalui prinsip Entropi.
Air baru menjadi air karena ia mengalir, dan matahari baru menjadi matahari karena ia bersinar. Sesuatu baru dianggap 'hidup' jika ia mengekspresikan sifat aslinya. Maka, sifat asli dari Kesadaran adalah Kehendak Bebas dan Pilihan.
Tanpa adanya ruang untuk memilih, manusia tidak memiliki kesadaran, melainkan hanya robot yang sudah diprogram.
Dalam panggung eksistensi ini, Iblis atau Kejahatan adalah wujud dari entropi moral. Ia diciptakan bukan sebagai kegagalan desain Sang Pencipta, melainkan sebagai penyeimbang kosmik yang bertugas menciptakan gaya gesek, kekacauan, dan kegelapan.
Mengapa kegelapan itu diizinkan ada? Jawabannya adalah demi Kesadaran Diri (Self-Awareness).
Jika kanvas alam semesta ini seluruhnya berwarna putih bersih, Anda tidak akan pernah bisa melihat lukisan yang digambar dengan kuas berwarna putih. Kebaikan (cahaya) hanya bisa disadari, dipilih, dan diapresiasi secara utuh jika ada kejahatan (kegelapan) sebagai latar belakang kontrasnya.
Manusia tidak akan pernah bisa berevolusi secara spiritual, tidak akan pernah tahu indahnya memilih jalan pulang menuju Keteraturan (Tuhan), jika mereka tidak pernah diuji oleh potensi untuk rusak (entropi) yang dibawa oleh Iblis.
Pada level tertinggi, Iblis, kebaikan, kejahatan, dan manusia yang sedang berjuang di antaranya, sebenarnya tidak pernah benar-benar terpisah. Kita semua adalah bagian dari Satu yang sama. Tuhan mengizinkan Iblis dan entropi ada agar Kesadaran bisa bercermin, menguji diri-Nya sendiri melalui drama dualitas, hingga akhirnya manusia sebagai Percikan Kesadaran itu bisa bangun, sadar, dan mengenali jati diri mereka yang sesungguhnya.
Selesai.