proses paling panjang dalam hidup seseorg adalah proses menerima dirinya sendiri. it's never easy. karna musuh terbesar seringnya bukan orang lain, tapi diri kita yang selalu merasa "tidak cukup.
Ada orang yang kalau lagi sakit hati itu ga teriak, ga marah, dia itu cuma diam, bukan karena ga ada yang mau diomongin, justru di kepalanya ribuan kalimat tuh udah muter-muter terus, semuanya jelas, semuanya rapi, tapi pas mau di keluarin nyangkut di mulut.
Akhirnya ya udah di pendam aja dan pelan-pelan pun jadi kebiasaan.
tertampar sama quotes ini :
anak kecil yang dulu dibesarkan dengan ayat dan larangan, kini justru merasa aman diantara dosa dosa yang tak pernah selesai ia tinggalkan.
cita-cita gue kalo udah kaya.
uninstall Whatsapp
mau stop sosmed, mau fokus membaca, melukis, berkebun, memasak. udah lalu tinggal di swiss isinya cuma metik stroberi sama ngasih makan kambing.
besok-besok ga boleh excited sama siapapun ya, harus ingat manusia punya titik mengecewakannya. excited boleh tapi harus jadi kaya cermin, cukup lakuin seperti yang mereka lakuin ke kamu.
at the end, gua sadar kalo ternyata gua ga sepenting itu bagi orang orang di sekitar gua, bahkan mereka yg gua anggap deket sekalipun ga se inget itu tentang gua.
tapi gua yg selalu paling excited di tengah tengah nya, ga nyesel. tpi kecewa aja, trnyta gaada satupun yg bener-bener nganggep gua sesuatu
jangan hanya karena tidak secepat yang lain, bukan berarti gagal sebagai manusia. semuanya memiliki cerita, waktu dan garis takdir sendiri, hidup bukan perihal siapa yang tercepat, tapi siapa yang bertahan dan berjuang.
kalau belum mampu memahami perasaan orang setidaknya pakai logika: "kalau aku di gituin, pasti ga enak ya?"
prinsipnya sederhana : "perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan, attitude itu bukan soal umur, tapi cara kita memperlakukan sesama"