Today, flash flooding carrying wood logs hit Solimandungan 2 Village, Bolaang District, Bolaang Mongondow Regency, North Sulawesi, Indonesia, after heavy rainfall triggered overflowing water currents on May 27, 2026 🇮🇩
Roads and homes were covered with mud, grass, and tree branches carried by the floodwaters, disrupting residents’ activities and making several access roads difficult to pass.
A massive fire is burning in a gas pipeline following an explosion this morning in Gampong Blang Rubek, Lhoksukon District, North Aceh Regency, Aceh Province, Indonesia 🇮🇩 (May 22)
Makanya woyy jangan pada sibuk ngurusin embegeh, noh laut nya kecolongan ‼️
Temuan sampah diduga dari luar negeri di perairan Indonesia memicu kekhawatiran publik. Asal sampah tersebut masih dalam penyelidikan, sementara desakan muncul agar pemerintah segera mengusut tuntas dan memperketat pengawasan laut demi melindungi lingkungan dan kedaulatan negara.
yang tau info lengkapnya komen ya gaess 🙏
HARI-HARI YANG MENENTUKAN SEJARAH AMERIKA DAN IRAN: PERANG ATAU DAMAI?
Jenewa kota yang indah, damai dan saat ini hawanya sejuk. Namun, jam-jam ini, hari-hari mendatang, kota yang penuh legenda ini bisa menjadi saksi sejarah. Bisa melahirkan sebuah “game change” yang berimplikasi besar pada perkembangan dunia.
Di penghujung Februari 2026 ini, tengah berlangsung sebuah perundingan dan negosiasi yang sangat penting. Juru runding Amerika Serikat tengah melakukan pertemuan tidak langsung (melalui mediator) dengan juru runding Iran. Banyak kalangan yang tengah menunggu hasil negosiasi itu, utamanya bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah. Sukses atau gagal? Bawa kedamaian, atau sebaliknya menyulut terjadinya peperangan yang dahsyat?
Semua tahu bahwa negosiasi, utamanya menyangkut masa depan proyek nuklir Iran itu sesuatu yang sangat rumit dan tidak mudah untuk membangun opsi yang bisa diterima kedua belah pihak. Kepentingan kedua negara sangat berbeda. Ketika perundingan tengah berlangsung, di kawasan Timur Tengah sedang berhadap-hadapan dua negara yang siap berperang. Para juru runding juga harus cerdas membaca pikiran kedua pemimpin yang memberikan mandat pada mereka, Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei. Membangun “harmoni” antara juru runding dengan para bosnya mungkin juga sesuatu yang tidak mudah.
Sebagai seorang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam resolusi konflik, baik pada tingkat nasional maupun internasional, saya mesti mengatakan bahwa sebuah negosiasi itu sangat melelahkan. Perlu kesabaran, kecerdasan, dan keuletan. Siap untuk berkompromi serta bersedia untuk sebuah “take and give”. Keinginan dan sasaran yang digariskan oleh kedua pemimpin negara juga harus sangat dimengerti.
Khusus negosiasi Amerika-Iran ini, saya mengamati bahwa kedua pemimpin mereka, Donald Trump dan Ali Khamenei memiliki “uniqueness”. Keduanya memiliki ego, ambisi dan juga “personal interest”. Trump khawatir kalau sampai gagal, reputasi serta “legacy” indah yang ingin diraih bisa hancur berantakan. Ali Khamenei juga khawatir kalau sengketa sengit dengan Amerika ini, jika nasibnya naas, bisa berakhir dengan pergantian rezim dan “he must go”. Berarti, ini merupakan “survival interest” buat pemimpin Iran itu.
Banyak pihak yang memprediksi atau menyimpulkan jika perundingan ini gagal, maka perang besar pun akan segera meletus. Ibaratnya kondisi sudah matang. Tinggal menunggu komando Trump dan Khamenei.
Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak. Apalagi kalau para jenderal di kedua belah pihak, terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah.
Ada catatan penting bagi seorang “commander-in-chief” untuk mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya.
Pertama, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain? Inilah yang sering disebut “war of necessity” dan “war of choice”. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain.
Kedua, negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Baik Trump maupun Khamenei harus bisa meyakinkan dirinya sendiri, dengan menggunakan logika dan akal sehatnya, bahwa perang yang ia pilih memang akan bisa dimenangkan. Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya, yang memberikan mandat dan kepercayaan, suara mereka mesti didengar. Pertimbangan dan saran para jenderal dan petinggi militer juga mesti diindahkan, jangan terkubur dengan ego pemimpin yang kelewat tinggi.
Bagi Amerika yang boleh dikatakan terus sesumbar untuk menghancurkan Iran (meskipun belakangan Iran juga mengobarkan dan menjanjikan ancaman), perlu dipikirkan dalam-dalam sebelum mengambil keputusan untuk berperang. Maksud saya, jangan-jangan bagi Amerika menang perangnya sulit dicapai, kemudian “exit” atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah dilakukan. Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan.
Terakhir, ada pesan dari seorang warga Indonesia dan juga warga dunia melalui media ini. Bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada sebuah tombol untuk memulai peperangan.
Begini pesan saya.
Para perwira dan para prajurit itu juga punya jiwa, punya keyakinan, punya akal sehat, dan tentunya punya harapan. Kalau soal berkorban untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap mengorbankan jiwa dan raganya. Hal itu tidak perlu diragukan. Selama 30 tahun saya mengabdi di dunia militer, lima tahun saya pernah bertempur untuk Sang Merah Putih. Namun, sukses sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran para prajurit. Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – “Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for” (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati) *SBY*
Beijing mengumumkan:
“Jika Amerika Serikat atau Israel menyerang Iran, China akan segera menghentikan semua ekspor logam tanah jarang ke AS, sebuah langkah yang dapat melumpuhkan industri militer AS dalam waktu 48 jam.”
Buat yg muslim, kita tau ya guys ini diceritain di hadits. Jumlahnya pun juga 70.000 & kalo memenuhi ketentuan tertentu, katanya Dajjal is coming
Tapi ku penasaran deh, apalagi sentimen World War III yg kenceng bgt kayak sekarang. Ada ga yang pernah kepikiran kayak gini juga:
Banyak kan ya ajaran Islam yg terbukti/proven ratusan-ribuan tahun kemudian setelah diturunkan, terutama dr ayat-ayat Al-Qur’an. Kadang, ku kepikiran. Gimana kalo para ilmuwan/pembenci Islam yg punya resource dan power kayak para zionis ini secara sengaja spend waktu buat mempelajari Islam & kitab Al-Qur’an, terus ngelakuin segala larangan dan apa skenario-skenario kiamat yg bisa kejadian. Jadi, mereka secara sengaja ngerancang itu semua? Entah buat nakutin muslim, atau ya power psywar nunjukin kalo mereka lah yg berkuasa di bumi ini
Ditambah, skrg tanda-tanda kiamat kecil yg dulu sering diceritain di pelajaran agama sekolah juga kok rasanya udah checklist semua ya..
Ada yang pernah kepikiran gini ngga? Sebagai yg ilmu agamanya cetek banget, ku mau dong berdiskusi. Koreksi kalo ada yg salah 🙏🏻
2026
Betapa kejamnya pemerintah membiarkan rakyat kecil berjuang sendiri membangun sekolah seadanya, tanpa uluran tangan sedikit pun. Anak2 SD itu duduk di lantai tanah, berdinding bambu, beratap rapuh—sementara pejabat sibuk berjanji. Namun guru & murid tak sudi menunggu Jakarta
Gaza kini telah mengalami kehancuran parah, menjadikannya seperti kota hantu. Hal ini merupakan sebuah kejahatan yang dilakukan oleh Zionis Israel, israel adalah TERORIS
Jasad yang menguap di Gaza betapa tragisnya bisa hilang dalam sekejap, ini bukan sekadar angka, tapi nyawa dan air mata yang tak sempat terhapus.
Saat dunia terasa sunyi, semoga hati kita tak ikut mati.
Doa tak pernah bisa dibungkam.
Hasbunallah wa ni’mal wakil.