jujur.....gue suka banget tidur....soalnya kalo tidur gue ga overthink......kepala gue ga berisik......gue ga melihat/membaca hal2 yg triggering.....jadi ya gue menghilang aja gitu.....tapi ga meninggal......i'm not existing for a while......menikmati hari.....istirahatin pikiran
The football was never the problem.
We all make time, remember details, and stay curious about the things that genuinely matter to us. That's just how the human brain works.
So when the person you love bisa inget ratusan pemain, jadwal pertandingan, statistik, tapi dengan mudahnya lupa sama little things you've shared, the plans you've made together, atau percakapan yang penting buat kamu, it stops feeling like absentmindedness.
It starts feeling like you're living on the edge of their attention instead of at the center of their life.
Dan menurutku, that's where the real pain is.
Aku juga enggak percaya kalau istrinya nulis sepanjang itu cuman karena satu football match. Those paragraphs are usually built from months (sometimes years) of choosing to let things slide.
Mulainya dari, "Gapapa." Or "He's tired." Or
"It's not worth arguing about." Or "Yaudahlah, nanti juga ngerti sendiri." Until one day, the disappointment becomes too heavy to keep carrying in silence.
RELATEEEE
“aku merasa ga diberi waktu yg banyak untuk kenal sama diri sendiri dan sebenernya tujuan hidup kita itu untuk apasi”
“aku merasa kaya diburu-buruin sama hidup”
padahal kita punya kendali penuh atas hidup kita. tapi kenapa orang selalu men-judge kenapa belum ini, kenapa belum itu.
siapa sih yang nyiptain umur segini harus udah gini gini dan standar umur bagi perempuan itu sangat merugikan.
kalian setuju ga?