Sometimes it got me thinking, why am I so focused on the future ? To the point that i forget to live at the moment, enjoy the present and be grateful for what I have. Isn't it today also the future you were once look forward? What if I die tomorrow?
Kalian tau berita ini kan???
Korupsi Silmy Karim di Ditjen Imigrasi: Rp145,5 Miliar✅
Kasus korupsi di Direktorat Jenderal Imigrasi semakin menghebohkan setelah KPK menetapkan Silmy Karim sebagai tersangka.
- Total Kerugian Negara: Rp145,5 miliar😋
- Periode Korupsi: Berlangsung sejak 2022 hingga 2026 (kurang lebih 4 tahun)😩
Modusnya tuh gini:
- Pemerasan terhadap Warga Negara Asing (terutama WNA China) yang mengurus KITAS dan KITAP.
- Memperlambat proses izin tinggal, lalu meminta "uang pelicin" atau "biaya percepatan".
- Uang hasil pemerasan dibagikan secara rutin setiap hari Jumat ke para oknum di pusat dan daerah.
Bayangin aja, orang hari jumat bukannya?
- Bagi2 Jumat Berkah❌
- Jumat malah bagi hasil korupsi✅
executive dysfunction got me genuinely unable to tell how long a task will take to complete cuz how tf can i know how many times i’ll get distracted in advance
Gaji PNS tahun 1990:
Rp 240.000
Setara: 10,9 gram emas
(harga emas waktu itu Rp 22.000 per gram)
Gaji PNS tahun 2026:
Rp 2.785.700
Setara: 1 gram emas
(harga emas sekarang Rp 2.795.000 per gram)
Dalam 36 tahun, gaji PNS nominal naik 11,6x lipat.
Tapi nilai sebenarnya (dalam emas)? Turun 10x lipat.
Ini bukan kebetulan. Ini design.
Guys, ada rapat yang bocor hari ini yang menurut gue paling mempermalukan Indonesia di depan investor asing.
Dan yang paling mengejutkan yang ngomong paling keras soal betapa rusaknya sistem kita bukan pengkritik pemerintah.
Bukan oposisi.
Bukan ekonom independen.
Tapi Purbaya sendiri.
Menteri Keuangan kita.
Ceritanya simpel dan sangat memalukan:
Ada perusahaan dari Amerika Serikat, Singapura, dan Arab Saudi yang masuk ke KEK Mandalika Lombok.
Mereka diundang oleh ITDC perusahaan negara yang mengelola kawasan itu untuk membangun instalasi pengolahan air laut menjadi air bersih.
Mereka datang.
Mereka investasi.
Mereka bangun infrastruktur.
Mereka operasi.
Mereka suplai air ke hotel-hotel di Mandalika termasuk untuk kebutuhan MotoGP.
Lalu apa yang terjadi?
ITDC membuat anak perusahaannya sendiri untuk ambil air dari PDAM memotong kontrak dengan investor yang sudah mereka undang.
Investor yang sudah keluar uang besar,
sudah bangun infrastruktur,
sudah operasi tiba-tiba kehilangan pelanggan karena pelanggannya pindah ke perusahaan yang dibuat oleh si tuan tanah sendiri.
Penghasilan investor turun dari 100% ke 10%.
Karyawan lokal satu per satu resign karena tidak ada pekerjaan.
Mesin berhenti.
Investor menyerah.
"Kami sudah tidak punya harapan."
Dan ini kata-kata Purbaya di rapat itu langsung, tanpa sensor:
"Ini bisnis yang enggak benar."
Anda undang investor masuk.
Lalu Anda buat perusahaan Anda sendiri jadi pesaingnya.
Pasti investornya kalah.
Pasti dikalahkan.
Harusnya dari pertama kalau mau gitu
jangan undang investor.
Tapi karena sudah terlanjur diundang
sekarang jadi kacau.
"Enggak mau berbagi untung.
Padahal sudah ngundang orang masuk."
"Ini cara membunuh investor.
Begitu gampang pasti kabur.
Muka kita jelek sekali."
Gue ulangi ini bukan kata pengkritik pemerintah.
Ini kata Menteri Keuangan Prabowo sendiri.
Dan soal izin ini yang paling bikin geleng kepala:
Berdasarkan perjanjian yang sudah ditandatangani dari awal ITDC yang wajib mengurus izin operasional untuk investor itu.
Rapat itu terjadi setelah 5 tahun proyek berjalan.
Izin belum keluar.
Ketika ditanya kenapa jawabannya berputar-putar. Butuh kajian teknis.
Butuh konsultan.
Konsultan butuh bayaran.
Tidak ada yang mau bayar.
Masing-masing pihak saling tunjuk.
Lima tahun. Izin belum ada.
Investor sudah bangkrut duluan.
Dan solusinya ditemukan di rapat itu dalam hitungan menit:
Purbaya telepon langsung perwakilan investor yang ada di Bali.
Tanya: kalau proyek dilanjutkan,
kapan bisa kirim tim ke Mandalika?
Jawaban: empat sampai enam jam.
Lima tahun mandek karena birokrasi.
Empat jam untuk siap jalan kalau ada yang mau gerak.
Dan izin yang katanya butuh berbulan-bulan ternyata bisa keluar dalam 5 hari kerja.
Bahkan lebih cepat kalau ada yang monitor sungguh-sungguh.
Dan ketika ITDC bilang ada benturan kepentingan kalau mereka yang urus izin:
Purbaya langsung semprot:
"Enak aja Anda ngomong benturan kepentingan ketika Anda rugi.
Waktu Anda bikin anak perusahaan sendiri jadi pesaing investor waktu itu Anda enggak bilang benturan kepentingan."
Dan ini yang paling penting untuk dipahami:
Kasus Mandalika ini bukan kejadian langka.
Ini bukan kesalahan satu orang atau satu perusahaan.
Ini adalah cerminan dari sistem yang terjadi di seluruh Indonesia.
Investor diundang masuk dengan janji manis.
Setelah masuk dipersulit izinnya.
Dibuat pesaing dari dalam.
Dikuras sampai tidak bisa bertahan. Lalu pergi.
Dan kita heran kenapa investasi tidak masuk.
Kita heran kenapa rupiah melemah.
Kita heran kenapa lapangan kerja tidak tumbuh.
Sementara di Mandalika karyawan lokal yang seharusnya dapat pekerjaan dari investor asing itu sudah resign semua karena proyek mati.
Mereka jadi pengangguran.
Bukan karena investor tidak mau datang.
Tapi karena sistemnya mengusir investor yang sudah datang.
Dan soal Purbaya gue mau jujur:
Dalam rapat ini Purbaya tampil sangat berbeda dari biasanya. Dia tegas. Dia marah.
Dia menyebut masalahnya dengan jelas.
Dia telepon investor langsung di tengah rapat.
Dia paksa semua pihak untuk berkomitmen.
Itu bagus. Gue apresiasi.
Tapi pertanyaannya: kenapa baru sekarang?
Kasus ini sudah 5 tahun.
Investor sudah menjerit bertahun-tahun.
Karyawan lokal sudah lama kehilangan pekerjaan.
Dan orang yang sama Purbaya selama ini bilang fundamental Indonesia kuat. Bilang investor percaya pada Indonesia. Bilang tidak perlu khawatir.
Sementara di Mandalika investor yang sudah masuk saja tidak bisa bertahan.
Bagaimana investor baru mau masuk kalau yang lama diperlakukan seperti ini?
Prabowo pidato soal reformasi Bea Cukai.
Purbaya menyemprot staf Danantara soal investor yang dikecewakan.
Semua itu bagus sebagai sinyal.
Tapi sinyal saja tidak cukup.
Yang dibutuhkan bukan rapat dramatis yang viral.
Yang dibutuhkan adalah sistem yang memastikan hal seperti ini tidak terjadi lagi di Mandalika, di Nusa Tenggara Timur, di Papua, di seluruh Indonesia.
Karena selama sistem yang sama terus berjalan investor akan terus diundang, lalu digerogoti dari dalam, lalu pergi dan yang paling merugi bukan investornya.
Yang paling merugi adalah karyawan lokal yang seharusnya dapat pekerjaan tapi malah jadi pengangguran.
Dan rakyat yang seharusnya menikmati investasi asing yang masuk tapi tidak pernah merasakan apapun karena investasinya mati duluan sebelum berkembang.
Kemarin, @TheEconomist mempublikasikan dua artikel soal Indonesia
Judul artikel pertama: Presiden Indonesia sedang membahayakan ekonomi dan demokrasi
Subjudulnya: Prabowo Subianto terlalu boros dan terlalu otoriter
Perlu diketahui, Spendthrift artinya orang yang menghamburkan uang secara tidak bijak. Diksi ini lebih keras dari sekadar “boros”. Dalam konteks negara, ada kesan ceroboh dan tidak bertanggung jawab secara fiskal.
========
Judul artikel kedua: Indonesia, negara mayoritas Muslim terbesar, sedang menempuh jalur yang berisiko
Subjudulnya: Prabowo Subianto sedang menggerogoti keuangan negara—dan demokrasinya.
Di artikel ini, pemilihan diksi “Eroding” rasanya memperkuat artikel lainnya. Jeopardising (membahayakan) masih bicara soal risiko ke depan. Eroding (menggerogoti) berarti prosesnya sudah berlangsung. Rasanya pelan, diam-diam, tapi nyata. Bagaikan batu yang berlubang oleh tetesan air.
In Japan, a woman noticed that while her little daughter was playing, she would constantly end up inside the cat’s cage, trapped and crying for help. But the strange part was this: the cage was normally closed, and the woman could never figure out how her daughter was getting inside or how the door was closing afterward 🤔
When it kept happening every single day, she finally decided to place a small camera in the area where her daughter played with the cats. And when she watched the footage, she couldn’t believe her eyes… 😳
Turns out, her orange cat was opening the cage door, letting the little girl go inside, then walking back out and closing the door on her. 😂
Ah, orange cats… they really are on another level 😹❤️
bu fotoğraftan da anlaşıldığı üzere ‘çalışan kadın’ terimi bir totolojidir. çalışmayan kadın diye bir şey hiçbir zaman var olmamıştır, yalnızca yaptığı iş karşılığında para alamayan kadın diye bir şey vardır.
8 years after I dissected clitorises to prove once and for all the nerves in the clitoral body are large and easy to dissect, male surgeons STILL argue confidently that they are too small to dissect.
“I dissected them.” “Well I’ve dissected them too and I know they get too small.”
I dissected them all the way to the glans my first time in the anatomy lab with no training. What the hell is wrong with people?
85 to 90 percent of women physicians are eldest daughters.
That is not a coincidence. That is a pipeline.
Eldest daughters are trained, before age five, to over-function. They take on a parent's worry. They organize the family. They clean up without being asked. They do not ask for help, because they were rewarded their whole childhood for not needing any.
Then they walk into medicine.
A career that demands hyper-responsibility, hypervigilance, perfectionism, and silent sacrifice does not have to ask these women to give those things. They were giving them before they could read.
The system is not stumbling into a burnout problem. The system is recruiting from a pool of people whose entire childhood was a training program for it.
This is what pediatrician and certified coach Jessie Mahoney has been finding when she asks the room. In every group, in every retreat. Maybe one or two women are not eldest daughters. The rest have been carrying something since before they could spell their own name.
Most of those women blame themselves. "Why don't I have boundaries?" "Why do I over-function?" "Why can't I delegate?"
Because at five years old, your family rewarded you for over-functioning. Because every teacher praised you for it. Because the medical training system selected for it. Because every job since has reinforced it. The pattern is older than your medical degree by twenty years.
The other piece nobody names: by the time these women are in their fifties, they are carrying eldest-daughter responsibility for aging parents AND running a department as chief AND running a household. The role does not retire when the children do. It just compounds.
Jessie's reframe is the part worth bookmarking.
The "hero" framing is the trap. Eldest daughters were made the savior of the family before they could read. Then medicine made them the savior of the patient. Then the department made them the savior of the team. At every stage, they learned that if they did not do it, terrible things would happen and it would be their fault.
Awareness is the first move. Non-judgment is the second. Excellence is not doing everything yourself. Excellence is letting other people do their jobs.
You are allowed to gift some of it back. You can ask your siblings to carry the aging parent. You can let your medical assistant do the medical assistant's job. You can stop covering the gap that nobody actually asked you to cover.
Most eldest daughters in medicine have never asked for help. When they finally do, they discover people are willing to help. The asking was the whole obstacle.
Listen to the full conversation on The Podcast by KevinMD. Link in the replies.
What is the one task you have been carrying for your family or your team that no one ever actually asked you to carry?
#ThePodcastbyKevinMD
Don't think you deserve the job? Apply for it anyways.
Don't think your article is good enough? Publish it anyways.
Don't think they'll reply to your email? Send it anyways.
Don't self-reject.