@ObiWan_Catnobi Orang Indonesia emang suka dikubilin ya 😂, ni ‘prof’ pernah viral karena analisa saham lewat bintang bintang di langit, sekarang muncul di permukaan menjadi profesor, gokil
Baru nyoba chat gpt yang terbaru dan kurasa semua desainer yang punya referensi bagus bisa run agency sekelas Pentagram. Tapi adjusting print dieline dan vector masih agak paok.
Pekan lalu, saat isi workshop di KPU pusat, saya cerita soal timses salah satu capres yg pakai jasa konsultan Israel di Pilpres 2019.
Perusahaan Israel itu ditugaskan operasi false flag. Coba retas dan ddos situs KPU dengan IP China agar publik anggap serangan ini perintah dari kompetitornya - yg diidentikan dekat dg China.
Dalam konteks digital, saya cuma ingetin aja hal-hal decoy2 begini akan terulang lagi dg metode dan cara berbeda. Tinggal seberapa serius aja KPU kerjanya.
Sejarah Indonesia yang disembunyikan dari narasi resmi adalah masalah Overpopulasi Tentara.
Overpopulasi Tentara adalah sumber masalah no. 1 di seluruh sejarah Indonesia.
Terlalu banyak tentara. Negara tidak mampu menggaji. Tentara lapar, merampok, dan gabut.
Ketika negara berusaha memecat, faksi tentara marah dan memberontak. Atau mendalangi pemberontakan, atau setidaknya kerusuhan.
Tokoh pertama yang berusaha menangani masalah Overpopulasi Tentara (saat itu masih berbentuk laskar liar) adalah Menteri Pertahanan paling pertama di Indonesia, Otto Iskandar Dinata.
Otto langsung diculik dan dibunuh dengan sadis oleh gerombolan laskar yang marah. Padahal ini baru saja proklamasi.
Overpopulasi Tentara lalu menyebabkan:
- Pemberontakan Madiun 1948
- Pemberontakan Andi Azis
- Pemberontakan DI/TII
- Peristiwa 15 November 1952
- PRRI/Permesta
- Nasionalisasi perusahaan asing
- Kehancuran ekonomi pasca nasionalisasi perusahaan asing
- Perampokan Jawa Tengah oleh Kolonel Soeharto
- Faksionalisme yang akhirnya pecah menjadi G30S
- Orde Baru
- dll
Krisis Overpopulasi Tentara paling genting terjadi pada tahun 1965. Saat itu, penyebabnya lebih kepada Soekarno luar biasa bodoh saja dalam pengelolaan negara sehingga terjadi hiperinflasi, kemiskinan, kelaparan, tentara tidak digaji. Massa tentara lapangan yang lapar dan miskin ini sangat marah dan mulai terpengaruh gerakan komunis.
Di buku sejarah ada suatu peristiwa? Coba cek, apakah itu karena Overpopulasi Tentara?
Alasan masalah Overpopulasi Tentara ini tidak diajarkan di sekolah sangat sederhana: pada akhirnya, mereka adalah pahlawan yang membela negara dari penjajah.
Ini jelas benar. Tanpa mereka, Indonesia tidak akan merdeka. Merekalah yang bergerilya di hutan sedangkan Hatta santai-santai ditahan Belanda di Bangka. Orang seperti Jenderal Sudirman dan Nasution sebenarnya sangat sakit hati terhadap ini.
Tapi, Indonesia kemudian merdeka.
Now what.
Perlu harus diingat, ketika tentara lapar dan tidak digaji pada masa masa itu, rakyat biasa pun lapar dan tidak punya uang. Tentara ditinggikan menjadi kasta spesial karena mereka memegang senjata. Kalau yang lapar adalah rakyat kecil atau pegawai negeri, ya mati aja lo pada wkwk.
Fakta pahitnya, semua orang gagal menyelesaikan masalah Overpopulasi Tentara ini.
Soekarno gagal, Hatta gagal, HB IX gagal, Nasution gagal, 7 perdana menteri gagal, dewan-dewan perwira daerah gagal, PRRI gagal, Yani gagal, semuanya gagal. Para pimpinan tentara seperti Nasution pun gagal dan bahkan akhirnya saling bunuh. Ini kegagalan paling besar, paling menyedihkan, paling tragis di sejarah Indonesia.
Hasilnya adalah korupsi, mismanajemen, kelaparan, kemiskinan, pembunuhan massal dan pembantaian yang mengerikan. Bukan hanya pembantaian pasca G30S, melainkan pembantaian sebelum-sebelumnya.
Mungkin saja, tragedi Overpopulasi Tentara ini memang mustahil dicegah mengingat kita memang tidak siap merdeka, seperti yang diterangkan kalimat kedua teks proklamasi.
Kalau begitu, Overpopulasi Tentara harus kita maknai dan pelajari sebagai sebuah tragedi yang menyedihkan.
Tragedi mengerikan ini jangan sampai malah diulang dengan sengaja dan dengan jauh lebih masif. Dongo.
@zakkafm Orang ga nyaman di apartment bukan karena tinggalnya, tapi karena barus bayar IPL dan uang parkir. Iya diperumahan juga bayar IPL tapi ga semahal apartemen.
WNI mau kerja blue collar ke luar negeri aja susah bgt harus tes ita itu punya sertif bahasa ina inu giliran expat nyari makan di indo fafifu gak bisa bhs indo malah gak diatur gak diregulasi ni pemrenta kerja gak sih sebenernya