halo moots atau siapapun yang bakal baca tweet ini. jadi dari kemarin lagi banyak banget misinformation tentang jun di aplikasi weibo. jadi aku bakal bantu jelasin, mungkin dari kalian ada yang belum tau. tolong pahami dan bantu suarakan keadilan buat jun juga yaa :((
Menurut psikologi, anak yang tumbuh di lingkungan dengan orang tua yang mudah marah sering belajar hidup dalam mode “siaga”. Mereka terbiasa membaca situasi, menebak-nebak suasana hati, dan berusaha tidak membuat kesalahan sekecil apa pun. Bukan karena mereka perfeksionis sejak lahir, tapi karena dulu kesalahan kecil saja bisa berujung pada kemarahan besar.
Akibatnya, saat sudah dewasa pun pola itu sering masih terbawa. Mereka jadi orang yang sangat berhati-hati, mudah merasa bersalah, dan sering overthinking sebelum bertindak. Bahkan ketika tidak ada lagi yang memarahi, tubuh dan pikirannya masih menyimpan memori lama: takut mengecewakan, takut disalahkan, takut dianggap tidak cukup baik.
1006 orang meninggal. Belum ada yang dipenjara. Belum ada status bencana nasional. Presidennya sibuk jalan ke luar negeri. Kabinetnya nolak bantuan luar. Menterinya sibuk mantau donasi. DPRnya iri ama influencer yang ke lapangan. Uda gila negara ini
Gak, ini bukan soal harga diri bangsa. Ini soal egoisme kekuasaan para elit
Korban nyawa udah hampir seribu, mayat-mayat korban udah membusuk, dan para bajingan ini masih sibuk memikirkan diri mereka sendiri
Emang pada jahat dan busuk aja sih
Seandainya pemerintah serius menanggapi peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dampak banjir di tiga provinsi di Sumatera—termasuk jumlah korban—mungkin tidak sebesar ini.
#Tempodotco#TempoPlus
🚨🚨🚨🚨🚨
yaudah, ini Tamiang, air minum dan air bersih juga udah ga ada. mereka utamakan lansia dan anak-anak.
yang muda-muda tahan minum sampai kencingnya orange hampir merah.
bantuan dilempar pakai helikopter, tapi ga tepat sasaran, ga ada aturan jelas pembagiannya.