Di balik anak yang dicap gagal, ada petugas farmasi yang mengingat wajah anak itu selalu hadir untuk menunggu obat ibunya.
Sementara anak yang dibilang sukses, tidak ada waktu barang sejenak untuk menengok kondisi ibunya, dikarenakan back to back meeting.
Anak yang selalu di rumah dikatain beban orang tua.
Tanpa mempertimbangkan bahwa anak itulah yang paling siap membawa ibunya ke rumah sakit kalau ada apa-apa.
Tanpa mempertimbangkan bahwa anak itulah yang ngurus BPJS dan antre berjam-jam.
Kita pikir waktu mereka murah, padahal mereka sedang menjalani waktu yang paling mahal; waktu yang dipakai untuk hadir.
Kita tidak perlu memaksakan standar sukses khas kelas menengah ke orang yang sudah mengenal kata cukup.
Cukup dengan makanan. Cukup dengan kunjungan ke mall 1 bulan sekali. Cukup dengan hidup hari ini.
Ada juga anak yang di rumah dan tidak ngapa-ngapain. Ada. Tapi, tenang, ini bukan ngomongin spesies tersebut.
Ini tentang anak yang tidak bisa membelah diri, demi orang tua yang telah mengajarinya berdiri.
Buat yang mau ikut ngurus negara dibanding ngurus selangkangan selebgram, ini ringkasan isunya:
1) PKS awalnya mau calonin Anies-Sohibul Iman, Jakarta "Aman". Elektabilitasnya paling tinggi. Problemnya: perlu threshold 20% biar bisa calonin gubernur. Jadi perlu cari partai koalisi biar cukup menuhinnya.
2) Partai koalisi awalnya rencananya sama kaya Pilpres Kemarin: PKB, PKS, dan Nasdem.
3) Koalisi Indonesia Maju (KIM) ngajakin PKB, PKS, dan Nasdem ke koalisi mereka. Kata berita:
a) NasDem dikasih ancaman kasus,
b) Cak Iminnya PKB diancam lengser via konflik PKB-PBNU,
c) PKS ditawari posisi, yang udah jelas adalah wakil gubernur.
4) PKS ngumumin calon mereka ganti jadi Ridwan Kamil - Suswono, dengan koalisi raksasa total 12 partai.
***
Berhenti dulu. Ada keributan lain
5) Di luar keributan partai, ada calon independen: Dharma Pongrekun - Kun Wardana. Mereka juga problematik:
a) Ngumpulin KTP-nya pakai data curian, bahkan sampai ada anaknya Anies diklaim dukung mereka,
b) Warga prottes, pencurian data-nya udah dilaporkan ke Polisi,
c) Polisi menghentikan kasus pencurian datanya, katanya ini wewenang Bawaslu karena urusan Pilkada,
d) Padahal pencurian data itu tindak pidana umum, mestinya Polisi dan Bawaslu dua-duanya bisa jalan.
6) KPU tetap menetapkan calon independen problematik ini.
***
Kembali ke lanjutan nomor 4:
7) Presiden reshuffle kabinet: Menkumham Yasonna (PDIP) dicopot. Ingat: PDI-P belum ngumumin calon mereka.
Mereka juga terganjal threshold 20%.
8) Mahkamah Konstitusi, membuat keputusan penting:
a) Membatalkan Perubahan Batas Usia calon kepala daerah yang kemarin ramai dari Mahkamah Agung.
b) Mengabulkan gugatan Partai Buruh dan Gelora: Threshold dari 20% jadi 7.5%
9) Implikasinya:
a) Beberapa partai lain (misal PDI-P dan PSI) bisa calonin sendiri tanpa perlu cari teman,
b) Kaesang gak bisa nyalon di Pilkada.
10) Presiden langsung panggil Menkumham baru, ingat dia udah bukan orang PDI-P, tapi orang baru. Entah mau ngapain.
***
Yang krusial:
11) Hari ini DPR bakal rapat RUU Pilkada. Agendanya bikin pembahasan, kalau bisa sampai keputusan, hari ini juga.
a) Diduga untuk menganulir putusan MK dengan bikin UU,
b) Deadline pendaftaran calon kepala daerah tinggal 9 hari kalender/7 hari kerja lagi, udah mepet.
***
Ada keributan separah dan sekompleks ini dan kalian malah ngurusin selangkangan orang.
@dipta__b Wahaha asli. Pas ak sempet magang ng kana jg asem i hla iki regane podo ng Solo. Makane sok mikir neg golek kerjo pilih ngetan drpada ngulon kan ya ๐คฃ
Rekor turun berat badan Ojan cma pas puasa tahun 2021 pas Bia masih ASI. Ak kecapekan ngurus bayi, dia tiap hari sahur pisang sebiji sma air putih. Buka seadanya. Sebulan turun 8kg ๐คฃ Tahun2 berikutnya pas ak udh ikut puasa. Turun 2kg aja udah bagus ๐
3.5 tahun. Ngantuk ki ya turu nduk, ora malah geger nangis kabeh salah ๐ sampe genti gentian sing ngurusi. Bapak lelah, ganti Mama, Mama e tambah tipis meneh kesabaran e. Balik Bapak meneh. Yungalah~