Yang belum tau, dia ini dosen Fisipol UGM sekaligus direktur di lembaga riset Celios. Namanya Mas Media. S2 dan S3 dari The University of Manchester. Omongannya tajem, kritis, dan selalu based on data. Tentu tidak disukai kaum-kaum boikot UI dan UGM.
perwakilan mahasiswa UI:
"kami ini mahasiswa, tidak membawa senjata. jgn anggapi kami musuh, jgn hadapi kami dgn senjata"
"kami tidak ditunggangi, niat kami tulus untuk bangsa Indonesia"
terharu bgt. semoga dalam lindungan Tuhan buat teman-teman yg turun ke jalan 🥹
Ada penggalan kalimat menarik di dua video ini.
Video 1: "Jadi menurutmu mas kalo wartawan gak kompeten?".
Video 2: "Maksudmu, ustad gak pintar?".
Nah, persamaannya kedua-duanya trmsuk straw man dlm kerangka cacat berpikir. Sdangkn perbedaannya, yg satu goblok natural, yg satu dibungkus dlm komedi.
Guyss kalo kalian ke Uluwatu jangan lupa mampir ke Thirst Trap, ramein reviewnya, soalnya kemarin dapat bad review sama zionist karna pasang bendera palestine di cafenya
Terima kasih Dumfries yang telah memberikan saya keseruan Derby lagi setelah sekian lama, bersaing sehat dengan Theo di setiap Derby.
Semoga ada pengganti penggantimu yang lebih baik. Dumfries pergi ke tim tersukses di Eropa, Theo pergi untuk menyejahterakan kehidupan keluarga ..
Arsenal sacked its 22 year kit man for opposing genocide and took an Israeli sponsor
PSG fans regularly hold Palestine flags and stand against genocide
The better club won
PSG fans showing up to another Champions League final with Palestinian flags again.
Last season, their “Stop Genocide Gaza” banner became one of the biggest football activism moments in recent history.
Este año no estaremos en Eurovisión, pero lo haremos con la convicción de estar en el lado correcto de la historia.
Por coherencia, responsabilidad y humanidad.
Quienes consideran que ondear la bandera de un Estado es “incitar al odio”, o han perdido el juicio o han sido cegados por su propia ignominia.
Lamine solo ha expresado la solidaridad por Palestina que sentimos millones de españoles. Otro motivo más para estar orgullosos de él.
Masih ingat diawal musim beberapa pemain ngebantah statement Chivu bahwa mereka bermasalah dengan mental setelah rentetan buruk musim lalu.
Chivu masuk Inter di tengah badai, tepat saat keterpurukan kehilangan tiga trofi yang tampaknya bisa diraih dalam satu musim.
Dia datang ketika banyak konflik di dalam tim, Pavard ngaku cedera tapi main padel, pas hari H Inter tersingkir di WCC Hakan malah unggah lagi pesta di nikahan temannya, Emosi Lautaro yang meledak di konferensi pers, dan banyak isu lainnya diawal musim.
Setiap kalah Chivu selalu mengatakan "Itu tanggung jawab saya" namun saat menang dia mengatakan "berkat hasil kerja keras pemain"
Pelatih underated, 2 trofi ini barulah permulaan, kita doakan lebih banyak trofi kedepannya 🏆🏆
MERAYAKAN PORORO DARI RUMANIA
Kadang memang angka itu bukan suatu yang eksak di sepakbola, dan seringnya perjalanan hidup seorang pelatih tidak butuh barcode untuk dihargai.
Semalam, Giuseppe Meazza menjadi saksi.
Seorang pelatih yang sebelum datang ke timnya sekarang, yang jumlah matchnya (sebagai pelatih) di liga teratas masih jauh lebih sedikit dibanding total jari kaki dan jari tangan, membawa klub bernama Inter Milan meraih scudetto ke-21.
Ragu karena pengalaman minim? Jelas. Trauma? Jelas masih ada. Sudah ada di bayang-bayang para fans dan penikmat liga italia, bahwa jangan-jangan tim ini akan kembali ke masa di mana Freddy Guarin menjadi pelaku utama langkanya burung-burung beterbangan di area Milan.
Dijadiin lalapan oleh tim kota Paris plus ditinggal pelatih hebat yang money oriented tapi gamau ngaku, membuat semua berpikir:
Apa cycle Inter sudah habis? Digantinya juga sama yang belum pengalaman? Pesimis ya udah pasti.
Kompetitor makin serius. Transfer Napoli ngeri-ngeri. Milan mendatangkan the master of the dark arts. Hasil di awal musim pun seakan mencerminkan, ini pelatih sanggup ga ya? Apakah pelatih baru ini just another pelatih Penjas?
Dia tidak datang sebagai revolusioner sok jenius. Dia tidak mengubah semuanya. Dia pun (terbukti) masih naif saat laga big match. Tapi dia doang pelatih tersedia yang “PAHAM” Inter Milan.
Masuk awal tahun, momentumnya terasa pas:
Inter makin stabil di liga.
Dibikin fokus ke liga sama tim bernama Bodo.
Menang pun jadi kebiasaan.
Rival makin ga jelas.
Yang penting apa? Yak yang penting konsisten.
“Inter juara karena rivalnya pada jelek di musim ini”, ya terserah.
Berarti Inter lebih baik dong? Berarti Inter memang siap juara dengan jadi yang paling konsisten di atas dong?
Sepak bola kadang sesederhana itu, imajinasi dan demand penonton yang bikin jadi njelimet.
Simple saja. Yang paling mengerti klub, yang paling tahan tekanan, yang paling konsisten. Ya dialah yang angkat trofi.
Badai cedera, pilar utama jadi kambing hitam kegagalan Italia ke piala dunia, drama perwasitan, dan kerikil kerikil lain jadi bumbu penyedap di petualangan musim ini.
Ini bukan cuma tentang Inter yang juara.
Ini tentang satu orang yang datang tanpa banyak suara, dipandang sebelah mata, lalu pulang dengan menjawab doa.
Akhir kata
Selamat menikmati gelar ke-21, Inter Milan. Tambahan satu gelar lagi untuk melengkapi 20 (atau 19) gelar yang sudah terpatri di histori.
Dan yang terpenting
Selamat atas gelarnya Mr. Cristian “Pororo” Chivu.
Silahkan sibuk merayakan, karena yang sibuk menjelaskan itu urusan wong kalahan.
.
.
.
Saya Daniel Johns, pamit undur diri.