Ketika masyarakat menuntut semua dokter menjadi seperti dr. Lo, masyarakat sebenarnya sedang terjebak dalam Fetisisme Komoditas Moral. Kita menuntut dokter menjadi martir agar kita tidak perlu menuntut negara menyediakan sistem kesehatan yang gratis, universal, dan bermutu. Tindakan dr. Lo disucikan justru untuk menoleransi sistem yang tidak manusiawi.
Kalau saya boleh meminjam prinsip ACLS tadi...
Datanglah kepada pasangan bukan karena kamu sedang tenggelam dan berharap dia menjadi pelampung.
Datanglah ketika kamu sudah belajar berenang.
Supaya nanti kalian bisa saling menguatkan saat ombak datang, bukan saling menarik ke bawah karena sama-sama kehabisan tenaga.
Menurut saya, itu fondasi hubungan yang jauh lebih sehat.
Aku juga mirip sama sender. Ini hasil “psikoanalisis” versi aku ya wkwkwk.
Dari kecil, mama aku tipe yang kalau ngomong suka nyelekit. I know she loves me, memang cara komunikasinya gitu. Apalagi orang Palembang ngomongnya lebih ceplas-ceplos.
Kayaknya alam bawah sadar aku nyimpen pengalaman itu. Jadi sekarang pas udah dewasa, setiap mama mulai ngomong, aku sering ke-trigger. Bahkan sebelum beliau selesai, otak aku udah otomatis antisipasi kalau kata-kata berikutnya bakal nyakitin. Akhirnya aku kebawa emosi duluan.
Baru belakangan ini aku sadar, yang bikin reaksiku sebesar itu bukan cuma percakapannya saat ini, tapi juga akumulasi pengalaman bertahun-tahun yang belum selesai diproses.
Terus gimana?
kadang gw pengen mengajak orang2 berpikir sekular. karena moralitas pun sebenarnya tidak harus dari agama.
tapi ya gimana ya. masih banyak orang2 di sini yang berbuat baik mainly demi pahala atau karma. kalau gak ada itu, langsung merasa bebas berbuat jahat.
Laki2 disatuin ama gay ngerasa ga aman soalnya takut dilecehin meanwhile perempuan disatuin ama lesbi aman2 aja berarti emg masalahnya di laki yang nafsuan dan menormalisasi pelecehan (izin🙏🙏)