I’ve been struggling to put into words how grateful I am for everything that’s happened over the last ten years. I’ve seen things and places that I’d only ever dreamt of when I was growing up.
Lucunya Negeri +62,
1. PAM = Perusahaan Air Minum... airnya gak bisa diminum
2. MBG = Makan Bergizi Gratis... gak bergizi dan gak gratis
3. IKN = Ibu Kota Negara... statusnya bukan ibukota negara
4. KPK = Komisi Pemberantasan Korupsi... korupsinya malah makin merajalela
5. DPR = Dewan Perwakilan Rakyat... rakyatnya tidak terwakili
6. BPJS Kesehatan = Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan... sehatnya tidak terjamin
7. PLN = Perusahaan Listrik Negara... listriknya sering mati
8. Pajak = katanya untuk rakyat... yang menikmati bukan rakyat
9. KRL = Kereta Rel Listrik... listriknya sering padam, keretanya tetap jalan padat
10. UMP = Upah Minimum Provinsi... minimumnya betul, tapi tidak cukup untuk hidup layak
11.
12.
13.
Apa lagi nih+62
Guys, Juansen Leo suaminya Evelyn Chrestella baru ngomong sesuatu soal punya anak yang menurut gue paling jujur dan paling tidak munafik yang pernah gue dengar dari seorang konten kreator.
Dan jawabannya bikin gue mikir ulang soal pertanyaan yang semua orang tanya tapi jarang ada yang jawab dengan benar.
"Udah siap belum punya anak?"
Jawaban Juansen:
tidak ada yang akan pernah siap:
Selama hamil orang pada tanya ke Juansen,
"Udah siap belum jadi ayah?"
Jawabannya selalu sama: belum.
Dan dia jelaskan kenapa dengan sangat konkret.
Pas lahiran, anak mereka langsung masuk NICU karena ada lendir di paru-paru.
Saturasi oksigen turun sampai 79.
Juansen yang biasanya tenang gemeteran.
Justru Evelyn yang backup dia.
Bilang "tenang, semua bakal baik-baik aja."
Lalu Evelyn kena mastitis infeksi payudara
karena ASI tersumbat,
demam sampai 40 derajat,
menggigil, satu tahap sebelum harus operasi.
Siap enggak Juansen menghadapi itu semua?
Tidak mungkin.
Karena tidak ada yang bisa mempersiapkan diri
untuk hal yang belum pernah dijalani.
Poinnya satu:
tidak ada yang akan siap kalau tidak dijalanin langsung. Tapi itu bukan alasan untuk tidak mulai.
Soal orang tua zaman dulu yang suka bilang "dulu mama enggak gini":
Juansen ngomong ini dengan sangat tegas dan minta maaf duluan ke yang lebih tua.
Punten.
Zaman sekarang sama dulu itu beda.
Dulu belum ada COVID.
Dulu belum ada virus-virus yang sekarang bermunculan.
Dulu standar sterilisasi barang bayi tidak seketat sekarang.
Dulu informasi medis tidak semudah sekarang diakses.
Jadi ketika orang tua bilang "dulu anak mama enggak diginiin juga sehat-sehat aja" itu bukan argumen yang valid. Itu nostalgia yang dibungkus jadi kritik.
Konteks berubah.
Ilmu berkembang.
Dan generasi baru yang mencoba menerapkan standar yang lebih baik untuk anak mereka tidak seharusnya dihakimi hanya karena caranya berbeda dari cara lama.
Yang paling penting untuk disiapkan
dan ini bukan soal uang:
Juansen bilang hal pertama yang harus disiapkan adalah ilmu.
Bukan finansial.
Finansial penting tapi punya uang banyak tidak otomatis membuat seseorang siap jadi orang tua.
Ilmu bisa dicari gratis.
Uang harus dicari susah payah.
Dan Juansen membuktikannya sendiri.
Setiap hari dia tanya ke ChatGPT dari yang serius sampai yang paling random.
Soal lahiran, soal ASI, soal perkembangan bayi,
soal mastitis.
Dia research pecah ketuban sebelum kejadian makanya waktu kejadian dia dan Evelyn bisa santai, tahu harus ngapain.
Ketenangan itu bukan karena tidak takut.
Tapi karena sudah tahu.
Soal baby blues dan kenapa Juansen siapkan support system jauh sebelum lahiran:
Juansen tidak menunggu Evelyn kelelahan dulu baru cari suster.
Suster sudah dipanggil satu bulan sebelum lahiran supaya Evelyn punya waktu untuk kenal dan cocok dulu.
Kalau dalam dua minggu tidak cocok, ganti.
Orang tua Evelyn sudah hadir sebelum lahiran.
Hasilnya:
tidak ada baby blues.
Bukan karena mereka kebal.
Tapi karena support system sudah dibangun jauh sebelum dibutuhkan.
Dan Juansen bilang sesuatu yang sangat penting soal ibu-ibu yang harus mengurus bayi sendirian tanpa suami yang bertanggung jawab,
tanpa bantuan apapun dia tidak bisa menghakimi mereka yang kena baby blues.
Karena setelah tahu sendiri betapa beratnya dia justru heran kenapa ada yang tidak baby blues dalam kondisi seperti itu
Siap punya anak bukan soal tabungan yang cukup. Siap punya anak adalah soal ilmu yang terus dicari, support system yang dibangun jauh sebelum dibutuhkan,
dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa banyak hal yang tidak akan pernah bisa diprediksi tapi bisa dihadapi kalau tidak dijalanin sendirian.
Dan untuk yang suka bilang "dulu mama enggak gini juga sehat" zaman sudah berubah. Standar yang lebih tinggi bukan berarti lebay.
Itu berarti kita peduli lebih dari generasi sebelumnya. Dan itu hal yang seharusnya dirayakan, bukan dikritik.
Menstruasi
***
Ini kisah ketika aku masih bestiean sama suami. Kami berdua belum pacaran, belum nikah. Bener2 cuma rekan kerja, rekan nongkrong, dan rekan ghibah.
Saking bestienya hubungan kami, G ini sering banget mampir ke rumahku di sela2 jam kantor. Soalnya kantor dia dan rumahku tuh jaraknya cuma 5 menit, sementara kantornya ke tempat tinggalnya sekitar 1 jam. Makanya kalo lagi jam istirahat, dia suka tidur di sofa ruang tamuku.
Suatu hari, dia datang di saat aku lagi nggak enak badan banget. Dia bilang mau numpang kerja, terus siangnya balik ke kantor.
Aku bilang, "G, aku lagi menstruasi. Aku lagi males banget ngapa2in".
"Ga papa, aku duduk aja di sini. Kerja. Kamu tidur2an aja".
Aku blg, "kamu self-service ya, aku soalnya lagi males banget ngapa2in".
Awalnya dia diam aja di ruang tengah, aku di kamar. Dia kerja, aku tidur.
Sampai akhirnya dia ngelihat sendiri, gimana aku bangun dari kasur dan aku ke kamar mandi. Aku jalan dengan kondisi darah super deras mengalir di kakiku. Lalu darahnya jatuh di lantai, mulai dari kamarku sampe kamar mandi.
Waktu aku di kamar mandi, dia langsung gedor2, "Bri, are you okey?"
"Lu kerja aja sana, gak usah urusin gue".
Ketika aku keluar dari kamar mandi, udah ganti pembalut dan berishin celana dalam, aku lihat dia lagi pegang gagang pel, bersihkan semua darahku dari kamar sampe di depan kamar mandi.
Padahal ekspektasiku dia bakalan meledek dan ngata2in aku lebay. Tapi dia gak komen apa2. Cuma bersihin, habis itu membiarkan aku kembali tidur.
Sejak saat itu, sampai kami nikah, dia udah hafal banget tentang aku yang sedang menstruasi. Pokoknya kalau dia tahu tanggal2 menstruasiku, dia tahu bahwa aku gak mau diganggu. Bahkan dia inisiatif sendiri untuk beliin makan, beliin minuman kesukaan aku, bahkan beliin pembalut yang paling sering aku pake.
Dia tahu kalo mood aku bakalan berantakan. Ya gimana gak bete. Udah hormon begitu, terus ganti pembalut harus 4 jam sekali, belum lg drama tembus. Dia pun mengakui, kalau itu terjadi ke dia, dia juga bakalan bete.
Dia pernah kasih aku bunga juga di hari menstruasiku, dengan quotes, "Every period is proof of strength, resilience, and the beauty of the your body."
Thank you, Paksu untuk memahami diri aku sebagai perempuan.
the collective trauma indonesian girls have in the qrts….
i hope you all find happiness with whatever choice you make in life. let’s stop this evil cycle. it ends with our generation.
Anak-anak yang hidup di keluarga yang tidak stabil, seperti sering bertengkar, kasar, abusive, atau diabaikan, ternyata memiliki pola aktivitas otak yang mirip dengan prajurit tempur setelah bertugas di medan perang.
Jadi ada penelitian yang memeriksa otak anak-anak yang mengalami kekerasan atau konflik keluarga menggunakan fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging).
Nah hasilnya menunjukkan adanya aktivitas yang jauh lebih tinggi di dua area otak yang penting untuk deteksi ancaman dan respon stress. Nama area otaknya adalah anterior insula dan amigdala.
Perubahan aktivitas ini bersifat adaptif di lingkungan penuh ancaman, seperti jadi “siap siaga” terus-menerus), mirip dengan yang terjadi pada tentara setelah pengalaman tempur.
Nah risikonya adalah dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan, regulasi emosi, dan masalah kesehatan mental lainnya, meskipun anak tersebut belum menunjukkan gejala psikiatri saat itu.
Yang perlu diperhatikan adalah temuan pada otak anak ini bukan berarti semua anak dari keluarga bermasalah pasti mengalami kerusakan otak permanen.
Otak anak sangat plastis dan bisa pulih dengan lingkungan yang aman, stabil, serta dukungan yang tepat.
Penelitian ini justru menekankan pentingnya lingkungan keluarga yang aman untuk perkembangan otak anak.
Semoga bermanfaat!
"Dok, saya capek terus."
Kalimat yang hampir setiap hari saya dengar di RS.
Biasanya saya tidak langsung meresepkan apa-apa.
Saya perhatikan dulu.
Matanya lelah. Cara duduknya seperti menahan beban di punggung.
Pegal, katanya. Sudah lama. Sudah berobat. Sudah mencoba macam-macam.
Tapi keluhannya berulang terus.
Indonesia itu terang.
Matahari datang pagi-pagi, bertahan sampai sore, dan kadang senja pun seperti enggan pergi.
Tapi di rs, saya sering menemukan hal yang sama:
Kadar vitamin D yang rendah.
Pada pasien yang tinggal di negeri paling yang mataharinya bisa sepanjang tahun sekalipun.
Melihat matahari dan disentuh matahari adalah dua hal yang berbeda.
Vitamin D terproduksi dari kulit yang disapa cahaya.
Lalu ia berjalan jauh, diolah di hati, diaktifkan di ginjal, sebelum akhirnya bekerja.
Membantu kalsium duduk rapi di tulang.
Menjaga otot agar tidak terlalu cepat mengeluh.
Menopang tubuh yang kita pakai setiap hari, tanpa pernah kita ucapkan terima kasih.
Ketika kadarnya kurang, tubuh mulai mengirim 'surat.'
Pegal yang datang tanpa sebab.
Lelah yang tidak sembuh oleh tidur.
Otot yang terasa berat padahal tidak mengangkat apa-apa.
Nyeri tulang yang tersirat, seperti bisikan yang tidak mau hilang.
Surat-surat itu sering kita abaikan.
Kita sering berangkat saat langit masih gelap.
Pulang saat matahari sudah pamit.
Duduk di Ruangan ber-AC. Jendela tertutup. Tirai tebal.
Kulit yang tidak pernah disentuh matahari, tidak pernah punya kesempatan membentuk vitamin D.
Matahari melimpah tetapi tidak sampai ke kita.
Anjuran asupan harian vitamin D cukup sederhana.
*600 IU per hari.*
Angka yang IDAI anjurkan sejak usia 1 tahun.
Kecil. Tapi baiknya setiap hari.
Dan di situlah banyak orang tidak berhasil.
Bukan karena tidak mau, tetapi karena konsistensi memang seni yang tidak banyak orang kuasai.
Saya sering menyarankan bentuk yang tidak membuat orang menyerah di minggu kedua.
Vitamin D yang dalam bentuk gummy, satu butir sehari, rasa yang bersahabat, tanpa drama menelan.
Opsi bentuk lain ada,
Tapi yang paling baik adalah yang benar-benar kita minum. Bukan yg dibeli lalu diletakkan begitu saja.
Tubuh kita jarang berteriak.
Ia hanya berbisik, lewat pegal yang pulang-pergi, lewat lelah yang tidak masuk akal.
Dan yang ia minta bukan obat yang rumit.
Hanya fondasi kecil yang kita jaga konsistensinya setiap hari.
Ada orang nyalon berkali-kali gak menang, sekalinya menang, serakahnya gak main-main. Obral proyekan sana sini, wira wiri ke negeri orang tujuannya untuk kekayaan segelintir orang, gak punya titik pegang, ngalor ngidul ngikut apa kata pemimpin lain. Jual harga diri tanah lahir. Giliran pulang ke rumah, ngata-ngatain rakyatnya. Sepertinya dia tahu antara ke depan gak bakal kepilih atau ke depan umurnya gak panjang. Jadi serobot aja semua mumpung bisa. Neraka dunia dan akhirat urusan si abdi.