#tsukasen π
"Udah sebasah ini?"
Tsukasa tersenyum miring. Matanya menatap lekat dan penuh gairah ke arah selangkangan Senku yang kini terbuka lebar di depannya. Vaginanya tampak sangat becek karena sudah dipermainkan terlebih dahulu oleh si empunya.
Plak!
"Hmmhh.." Senku mendesah tertahan saat vaginanya di tampar dengan keras.
"Nakal banget.."
Tsukasa menggenggam masing-masing paha Senku dan mendorongnya ke atas sambil merebahkan tubuhnya.
"Udah berapa kali kamu cum hari ini sayang?"
Senku melirik ke bawah, yang disambut tatapan intens oleh sang kekasih. Yang membuatnya gemetar karena Tsukasa tampak sangat tampan sekaligus sexy.
"Belum.." Jawab Senku lirih.
"Belum? Belum ada cum? Atau gak bisa cum?"
Senku menggigit bibir bawahnya, kepalanya menggeliat ke kanan dan ke kiri sementara tangannya di ikat dengan dasi milik Tsukasa tadi. "Gak bisa cum.."
"Seharian ini ngegenjot dildo tapi tetap gak bisa cum?" Tanya Tsukasa yang dibalas anggukan. "Kasihan banget pacarku. Ututu, mau apa sayang? Bilang apa yang kamu mau biar bisa cum."
Senku merintih. "Mau dikokop.."
"Apa? Gak dengar, sayang.. Yang jelas dong ngomongnya!" Kata Tsukasa berpura-pura. Ia hanya senang mempermainkan Senku disaat-saat seperti ini karena menurutnya sang kekasih tampak sangatlah lucu. Logikanya seolah menghilang tertelan hawa nafsu.
"Mau dikokop memeknya, diemut, dijilat, diobok-obok.. Tsukasaaa mau lidah kamu.." Ujar Senku merengek. Ia semakin membuka lebar kakinya, seolah memperlihatkan vaginanya yang sudah sangat membutuhkan perhatian sekaligus mempersilakan Tsukasa untuk segera melahapnya.
"Lucu deh. Anak baik deserve a gift, kan?" Tsukasa terkekeh sebelum akhirnya menenggelamkan wajahnya ke selangkangan Senku. Hidung mancungnya menggesek sepanjang garis vaginanya bak kartu atm. "Wangi.. Memek kamu wangi banget.." Gumamnya sembari terpejam. Menghirup dalam-dalam aroma khas area yang sudah ia klaim sebagai miliknya itu.
Senku semakin gila. Ia benar-benar mendambakan lidah sang kekasih. Nafsunya memuncak namun ia juga merasa frustasi karena tidak bisa mencapai orgasmenya sedari tadi. Ia butuh Tsukasa untuk segera menggauli vaginanya.
"Itadakimas.." Gumam Tsukasa sebelum menjilat tepat pada lubang vagina Senku.
"Ahh.." Pinggulnya tersentak ke atas, mengejar lidah Tsukasa. Ini dia! Akhirnya Senku mendapatkan perhatian yang sangat ia butuhkan.
#tachijin non baku
Jin lagi main petak umpet sama Amo juga Kazama pas dia lihat ada sesuatu yang ngapung di permukaan. Dia yang tadinya sembunyi di balik batu langsung berenang keluar dan nyamperin sesuatu itu.
"Oi! Mau kemana?" Teriak Amo yang bikin Kazama yang lagi sembunyi jadi ikutan keluar.
"Ada apa?"
"Gak tau tuh." Balas Amo sambil nunjuk ke arah Jin yang makin menjauh pakai dagunya.
Karena penasaran, Kazama berenang nyusulin Jin yang diikuti sama Amo.
"Manusia?" Gumam Kazama agak sinis. Dia punya dendam kesumat sama makhluk serakah satu ini.
"Kayaknya masih hidup." Kata Jin sambil ngeraba-raba wajah orang itu yang kelihatan pucat banget. "Bantu bawa ke pantai." Pintanya yang mau gak mau dituruti sama Kazama. Amo? Ngikut aja dia mah.
Sesampainya di pantai, Jin tampak kebingungan. Sebagai seorang duyung, dia belum pernah ketemu sama manusia sebelumnya. Beda sama Kazama yang pernah kontak langsung sama mereka, atau Amo yang emang suka melalang buana entah kemana.
Jin ngegelitikin perut orang yang lagi pingsan itu berharap dia bangun karena geli.
"Lo ngapain?" Tanya Kazama heran.
"Ngebangunin ini orang." Jawab Jin polos.
Kazama tepok jidat dibuatnya. "Nih orang baru terombang-ambing di lautan yang kita gak tau udah berapa lama dan hal pertama yang lo lakuin buat nyelamatin dia adalah dengan lo gelitikin? Yang bener aja!"
"Terus gimana? Gue gak tau.." Jin jadi merasa bersalah sekaligus sedih. Dua telinga runcingnya spontan turun kaya anjing yang habis kena tendang.
"Kasih tau caranya, Mo!" Gak ada jawaban yang bikin Kazama noleh ke arah Amo. "Amo?" Yang dipanggil malah asik ngupil.
"Maaf lagi sibuk."
Kazama nelen ludah empet. Heran juga kenapa dia bisa punya teman plenger kaya Amo dan bloon kaya Jin. "Minggir! Biar gue aja yang nolongin." Katanya sedikit sewot.
Jin mau gak mau geserin bokongnya, ngasih ruang buat Kazama yang sekarang lagi mencet hidung si manusia karena sepengetahuannya manusia bernapas pakai paru-paru lewat hidung. Jin merhatiin dalam diam, sampai dia notice kalau wajah manusia itu perlahan memerah dan jarinya berkedut ringan.
"Huuuuaaaaaaa..." Seru si manusia yang spontan terduduk sambil nepis tangannya Kazama. Dadanya naik-turun, seolah lagi narik napas sebanyak-banyaknya.
"Halo.." Kata Jin.
"Apa? Dimana?" Tanya manusia itu kebingungan. Dia noleh ke sekitar lalu tatapannya jatuh ke 3 makhluk aneh di dekatnya. "Monβ monster?"
Plak!
Si manusia meringis karena baru aja kena tabok dari Kazama.
"Woy! Sakit tau!"
"Udah kan, dia udah sadar. Ayo kita pergi!" Kata Kazama sambil narik Amo buat menjauh dari bibir pantai.
Si manusia ngasih tatapan aneh, soalnya gerakan keduanya kaya ular yang lagi kluget-kluget di atas pasir. Oh atau mungkin kaya suster ngesot ya?
"Lo gapapa?" Tanya Jin yang di balas anggukan. "Syukurlah.. Kalo gitu hati-hati dan sampai jumpa lagi."
"Tunggu!"
"Hm?" Jin merespon sambil memiringkan kepalanya.
"Makhluk apa lo sebenarnya?" Tanyanya hati-hati.
"Gue ini duyung."
"Bukannya cuma mitos ya?"
"Kalo mitos berarti gue gak ada di sini di depan lo sekarang."
Si manusia mengangguk. "Bener juga. Ngomong-ngomong nama gue Kei, Tachikawa Kei." Katanya sambil mengulurkan tangan kanannya yang dibalas tatapan bingung.
"Eung?"
"Lo gak mau salaman?"
"Buat apa?"
"Gak tau juga sih. Tapi ini dilakuin pas kenalan sama orang baru." Jelas Tachikawa.
Jin tersenyum. "Oh! Kalo bangsa duyung kenalannya kaya gini.."
Jin menyatukan keningnya ke kening Tachikawa. Matanya menatap lurus ke arah si manusia. Sedangkan Tachikawa sendiri cukup kaget dengan gerakan tiba-tiba itu. Apalagi ditatap dengan intens yang membuat jantungnya berdebar kencang. Ia pun jatuh ke belakang dan kehilangan kesadarannya.
"Lah pingsan lagi?"
#sakuhina π
πΈ : Hawanya panas gini enakan buat menyelam gak sih?
β : Menyelam kemana? Mau ke laut langsung atau trial ke kolam dulu?
πΈ : Menyelam ke kedua kakimu.
β : Bukannya malah makin panas ya? Disana kan sumpek.
πΈ : Gak dong, kan nanti ku buat sampai banjir-banjir.
#obikaka π
"Eunghh.." Kakashi melenguh saat Obito mencubit salah satu putingnya. Kedua matanya terpejam erat, fokusnya terpecah dan otaknya kebingungan menerima rangsangan di tubuhnya. Bibirnya dilumat dengan kasar, kedua tangan besar Obito menggerayangi setiap lekuk tubuhnya serta sesekali meremasnya.
Bagaimana bisa mereka berdua sampai pada tahap ini? Mari kita mundur ke belakang sebentar.
Obito bosan. Ia menggeliat ke kanan dan ke kiri sambil memeluk erat guling di kedua kakinya. Saat ini ia sedang berada di kamar Kakashi. Si empunya kamar sedang fokus membaca bukunya, sedangkan Obito hanya bermalas-malasan padahal niatnya kemari adalah untuk belajar bersama.
"Kashi?" Panggil Obito yang dibalas dehaman. "Kakashi!" Serunya sedikit lebih keras.
"Apa sih?" Balas Kakashi yang mau tak mau mengalihkan perhatian dari bukunya.
"Gue mau nanya sesuatu tapi jangan tersinggung ya." Kata Obito sembari duduk dan menghadap Kakashi, menatap tepat ke kedua mata Kakashi yang membuat si tuan rumah deg-degan dan penasaran disaat yang bersamaan.
"Nanya apa?"
"Lo kan gay tuh, biasanya kalo anuan sesama cowok lu ngapain aja?" Tanya Obito yang membuat Kakashi tersedak ludahnya sendiri.
"Ehem.." Kakashi berdeham pelan lalu menutup buku di tangannya. Ia bangkit dari kursi dan berjalan ke arah ranjang tempat dimana Obito duduk masih dengan memeluk guling miliknya. "Gue gak tau." Kata Kakashi menjawab pertanyaan Obito tadi sembari duduk di sampingnya.
"Ck! Gimana sih masa lu belum pernah anu-anuan sama pacar?" Tanya Obito mencibir.
Kakashi refleks memutar kedua bola matanya dengan malas. "Ya lu lihat aja gue gak punya pacar. Cowok yang paling deket sama gue cuma lu seorang."
"Iya juga. Berarti lu sama sekali gak punya pengalaman dong?"
"Menurut lu aja deh. Lagian ngapain sih nanya-nanya gitu?"
"Ya gapapa sih. Tapi kali aja lu minat, gue mau kok jadi bahan percobaan biar suatu saat nanti lu gak kagok pas anuan beneran sama pacar lu." Kata Obito sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Lalu semuanya tampak buram. Kakashi tak mengingat apa yang terjadi selanjutnya. Siapa yang memulai duluan atau bagaimana ia bisa berada di bawah kukungan Obito sementara bibirnya dicium dan lidahnya dihisap seolah seperti mimpi yang akan sirna jika Obito menghentikan ciumannya.
Namun sepertinya semua yang terjadi bukanlah mimpi, karena Obito kini melepaskan bibirnya yang membengkak yang membuat Kakashi refleks menarik napasnya dalam-dalam seolah ia baru saja lari dikejar oleh salah satu anjing miliknya.
"Kakashi?"
Si empunya nama merinding seketika. Bukan karena ia baru saja melihat penampakan hantu, tetapi karena Kakashi tak ingat jika Obito bisa mengeluarkan suara rendah dan berat seperti itu. Yang menurutnya terkesan sensual apalagi melihat kondisi keduanya saat ini.
"Masih mau lanjut?" Sambung Obito sembari mengecup-ngecup pipi dan dagu Kakashi.
Kakashi menelan ludahnya dengan kasar. Kedua matanya yang berkaca-kaca menatap sayu namun juga penuh nafsu ke arah Obito. Ia mengangguk lemah mengiyakan yang dibalas senyuman sumringah oleh Obito.
#tanunatsu non baku π
"Jadi gitu.."
Tanuma terdiam, masih speechless dengan apa yang didengarnya barusan. Berdiri di depannya saat ini adalah Natsume yang menunduk mencoba menyembunyikan rona merah di wajahnya.
"Tolong bantuin gue." Kata Natsume memohon. "Tolong entotin gue pas bulan purnama nanti." Sambungnya.
Lagi, jantung Tanuma hampir copot dibuatnya. Bagaimana mereka bisa sampai ke sini? Mari kita mundur beberapa minggu yang lalu dimana Natsume dengan kebaikannya membantu sesosok yokai di hutan yang tanpa diduga menaruh perasaan romantis pada Natsume. Yokai tersebut mulai mendatangi dan terus menemuinya bak stalker hingga meneror Natsume yang membuatnya lelah dan gelisah.
"Cara yang paling ampuh ya berhubungan badan." Kata Nyanko-sensei memberikan solusi.
Yang pada akhirnya dengan penuh pertimbangan ia pun menceritakan masalahnya pada Tanuma dengan niat agar Tanuma mau membantunya juga. Kenapa Tanuma? Karena Nyanko-sensei bilang energi spiritual milik si rambut raven cukup besar dan mampu mengintimidasi yokai tersebut agar mau meninggalkannya setelah tahu Natsume ternyata sudah memiliki pasangan.
"Harus gue ya?" Tanya Tanuma ragu-ragu.
Harus Tanuma. Yah walaupun sebelumnya Natori-san sempat menawarkan diri, yang pada akhirnya diurungkan karena sempat mendapat cakaran maut dari Nyanko-sensei.
"Oke!"
Natsume tersenyum mendengarnya. Tunggu! Kenapa dia tersenyum? Apakah karena Tanuma mau membantunya? Atau karena Natsume akhirnya bisa berhubungan badan dengannya?
#obikaka non baku π
slight obrn
Pernah kepikiran gak buat jadi selingkuhan? Bukan selingkuhan biasa tapi selingkuhan bayaran. Lah gimana maksudnya?
"Ntar malam ya di tempat biasa." Kata Rin sambil nepuk bahunya Kakashi.
"Oke."
Kenalan dulu sama Kakashi, si selingkuhan bayaran yang kerjanya muasin hasrat seksual suami orang. Kok bisa? Kakashi juga bingung.
Awalnya Rin selaku teman kantor sering ngeluh karena suaminya pingin main anal tapi dianya gak mau. Terus Rin tiba-tiba nyeletuk, "Lo mau gak di entot sama suami gue?"
Kakashi langsung keselek cilok yang lagi di makannya. Dan dari sana Kakashi setuju buat nganu-nganu sama suaminya Rin. Yang ternyata ganteng, badannya gagah, dan yang paling penting kontolnya juga gede.
Job desc Kakashi cuma satu, siap sedia pas Obito lagi mood buat ngewe kasar. Rin sendiri bukan tipikal orang yang suka bdsm, sedangkan Kakashi itu masokis parah. Jadinya klop apalagi tiap bokongnya di sodok dan pentilnya juga sambil di tusuk jarum. Beuh, mantulita!
Bayarannya berapa? Bukan main banyaknya. Terus risikonya apa? Gampang kok, gak boleh sampai jatuh cinta.
#obikaka non baku π
slight obrn
Pernah kepikiran gak buat jadi selingkuhan? Bukan selingkuhan biasa tapi selingkuhan bayaran. Lah gimana maksudnya?
"Ntar malam ya di tempat biasa." Kata Rin sambil nepuk bahunya Kakashi.
"Oke."
Kenalan dulu sama Kakashi, si selingkuhan bayaran yang kerjanya muasin hasrat seksual suami orang. Kok bisa? Kakashi juga bingung.
Awalnya Rin selaku teman kantor sering ngeluh karena suaminya pingin main anal tapi dianya gak mau. Terus Rin tiba-tiba nyeletuk, "Lo mau gak di entot sama suami gue?"
Kakashi langsung keselek cilok yang lagi di makannya. Dan dari sana Kakashi setuju buat nganu-nganu sama suaminya Rin. Yang ternyata ganteng, badannya gagah, dan yang paling penting kontolnya juga gede.
Job desc Kakashi cuma satu, siap sedia pas Obito lagi mood buat ngewe kasar. Rin sendiri bukan tipikal orang yang suka bdsm, sedangkan Kakashi itu masokis parah. Jadinya klop apalagi tiap bokongnya di sodok dan pentilnya juga sambil di tusuk jarum. Beuh, mantulita!
Bayarannya berapa? Bukan main banyaknya. Terus risikonya apa? Gampang kok, gak boleh sampai jatuh cinta.
#kafhoshi non baku
Kafka itu kerja jadi cleaning service di suatu perusahaan. Jabatannya udah jadi leader, makanya dia sering pulang paling akhir buat mastiin kerjaan rekan-rekannya beneran udah beres.
"Duluan ya.." Kata Kafka ke satpam yang lagi siap-siap mau ngunci pintu utama.
"Hati-hati, Kaf!"
Kafka ngangguk terus jalan ke parkiran buat ngambil motornya. Pas Kafka keluar dari area parkir, dia lihat orang lagi jongkok meluk kaki di pinggir jalan sambil nundukin kepalanya. Akhirnya sama Kafka disamperin karena penasaran.
Tin!
Kafka bunyiin klaksonnya yang bikin orang itu ngangkat kepalanya.
"Loh, Mas Hoshina?"
Ternyata orang itu salah satu anak magang di kantor ini. Orang yang mukanya jutek tapi ternyata juga jahil yang sering ngisengin Kafka.
"Kok belum pulang, Mas?" Tanya Kafka. Walaupun secara umur tuaan Kafka, tapi tetap harus sopan karena dari segi jabatan aja udah beda.
"Gak dijemput."
Gak tau kenapa tapi Hoshina kelihatan capek, penat, empet, kaya orang mau marah tapi ditahan. Dilihat-lihat kasihan juga karena anak magang tuh pulangnya dari sore tadi, yang mana berarti Hoshina nungguin supirnya berjam-jam lamanya.
"Mau saya anter?" Ini juga Kafka gak tau dia kesambet apaan, tapi tiba-tiba tawaran itu keluar gitu aja dari mulutnya.
Hoshina cuma ngelihatin dirinya agak lama, bikin Kafka gak nyaman karena rasanya kaya lagi dihakimi. Ah, apa karena motor bututnya ya? Kali aja Hoshina gengsi kalau harus naik motornya Kafka.
"Oke."
"Udah saya duga, pasti Mas Hoshina gak maβ hah?"
Tanpa peduli sama muka cengonya Kafka, Hoshina berdiri dan jalan ke arahnya. "Beneran gapapa kan nebeng Mas Kafka?" Tanya Hoshina ragu-ragu.
Kafka ngangguk sambil ngelepas helm-nya. "Ya gapapa. Emangnya ada apa kok harus kenapa-kenapa?"
"Kali aja ada yang marah.. Istri mungkin?"
Kafka hampir ketawa nyembur dengernya. "Hahaha Mas Hoshina bisa aja. Boro-boro istri, pacar aja gak punya. Orang kaya saya ini mah jomblo dari lahir." Kata Kafka sambil nyodorin helm-nya ke Hoshina yang dibalas tatapan bingung. "Dipake Mas bukan dilihatin." Sambungnya.
"Terus Mas Kafka pake apa kalau helm-nya saya pake?"
"Pake perasaan. Bersyandaaaa.."
Krik.. Krik..
Garing yah? Hahaha Kafka tersenyum kikuk jadinya.
"Makasih."
"Sama-sama Mas Hoshina. Ngomong-ngomong udah makan belum? Mau bebek goreng?"
"Boleh." Kata Hoshina terus naik dan duduk di boncengan Kafka. Kedua tangannya ragu-ragu buat pegangan kemana. Hoshina gak tau kenapa tapi tiba-tiba dia deg-degan gak karuan dan badannya panas-dingin. Efek laper kali ya?
"Eh!" Badan Hoshina refleks oleng ke depan pas mereka ngelewatin polisi tidur. Wajahnya nabrak bahu Kafka yang Hoshina baru sadari ternyata gede dan lebar banget. Hoshina gak bisa lihat apa-apa di depannya selain punggung Kafka kecuali dia negakin postur badannya. Beneran kaya kelelep di balik bayang-bayang badannya Kafka.
Hoshina ngerasa aneh. Kaya ada yang salah sama dirinya. Hoshina kebanyakan ngelamun sampai gak sadar kalau dia udah meluk Kafka sambil nyenderin kepalanya di bahu yang lebih tua.
"Boleh tidur tapi jangan ngiler ya, Mas!"
#suonirei non baku
Suo lagi jalan-jalan sore pas dia denger suara yang manggil-manggil namanya.
"Suo-san.."
"Suo-saaaaann.."
Karena penasaran, Suo pun noleh ke belakang. Ternyata itu Nirei yang lagi ngayuh sepeda ke arahnya.
Ciiittt...
Suara decit ban terdengar nyaring pas Nirei ngerem sepedanya di samping Suo.
"Suo-san, mau kemana?" Tanya Nirei sambil berusaha menyeimbangkan pijakannya, alias kakinya gak bisa napak tanah kalau dia gak beneran turun dari sadelnya.
Suo tersenyum tipis, "Mau ke depan komplek. Kamu sendiri mau kemana kok balap gitu ngayuh sepedanya?"
"Mau beli batagor sih hehe. Ayo naik, aku bonceng biar Suo-san cepet sampainya."
"Eh, seriusan?"
Nirei mengangguk dan tersenyum lebar. "Ayo!" Ajaknya antusias.
Suo pun dengan senang hati menerima tawaran Nirei. Ia naik dan duduk di belakang Nirei, kedua tangannya meluk pinggang Nirei bermaksud buat pegangan.
"Hmmhh.."
Nirei melenguh tertahan. Geli sekaligus kaget ngerasain tangan lebar Suo di pinggangnya.
"Kenapa kok diem aja?" Tanya Suo berbisik. Kepalanya maju ke samping kanan pas di dekat kuping Nirei. Yang bikin Nirei merinding seketika karena selain suaranya kedengeran deket banget, tapi juga hembusan napasnya yang bikin perut Nirei makin kerasa melilit.
"Buβbukan apa-apa."
Disclaimer!
Fanfic ini udah pernah aku upload beberapa kali tapi karena akunnya kena π£ terus-terusan jadi aku upload lagi sekalian belajar cara pakai ao3.