@TribunLFC_Indo Gerrard yg setengah mampus mempertahankan kelas dan spiritnya liverpool selama 1 dekade era kegelapan, kalo doi ga ada udah degradasi kali liverpool, kalo ga ada doi boro2 klopp mau dateng buat ngepush liverpool, buat yg nonton tiap minggu era itu ga heran gerrard masih no 1
Secara komparatif, kelas pengusaha Indonesia jelek, bodoh, dan gaptek.
Alasannya, mereka muncul bukan lewat kompetisi Darwin, tetapi lewat kroni-kronian.
Salah satu keluarga terkaya adalah keturunan maling yang dulu merampok kayu bulat di Jawa Tengah bareng Kolonel Soeharto.
Setelah Reformasi, terjadi deindustrialisasi dan commodity boom dan sepertinya tren ini malah semakin parah. Kelas pengusaha pribumi yang muncul malah lebih busuk, lebih rampok, lebih malas, dan lebih gaptek.
Ciri khas pengusaha-pengusaha payah, bodoh, dan gaptek ini adalah sangat sibuk di parpol dan politik, karena hanya dari situlah mereka bisa mendapat uang, proyek, dan tanah. Mereka tidak bisa untung lewat cara lain.
Hari ini lebih dari separuh anggota DPR adalah pengusaha semacam ini.
Misal, barangkali ada pengusaha perusahaan pesawat yang kualitas maskapainya sungguh jelek dan menyedihkan, sehingga satu-satunya cara bertahan adalah menjadi waketum partai dan mendirikan monopoli lewat situ seperti mafia.
Beberapa seperti di Cilegon malah secara langsung merampok pengusaha dan bisnis yang datang. Mereka secara praktis sudah bukan lagi pengusaha, melainkan preman yang hanya bisa merampok dan memalak. Entah mengapa preman-preman semacam ini malah iseng masuk ke asosiasi-asosiasi pengusaha.
Mereka tidak mampu dan tidak mau berkompetisi dan berinovasi di pasar yang bebas. Alasannya karena mereka payah, bodoh, lamban, tidak kreatif, dan gaptek.
Orang-orang payah dan lamban seperti ini akan langsung dilindas gepeng oleh kegesitan dan kecerdikan kelas pengusaha, kelas STEM, dan kelas manajerial China dari China, yang lahir dari tiga kombinasi maut antara neraka kompetisi Darwin yang tanpa ampun, dukungan kebijakan industri, dan sistem pendidikan.
Orang tua perlu menjadi contoh bagaimana memaknai rasa "cukup". Dengan begitu, orang tua bisa mengajarkan anak agar tidak menjadi tamak. https://t.co/VigGmER1KQ
This is my favourite video of the day, the academy players coming in and taken responsibility replacing the injured 1st team players, now EFL Cup winners.
People consider a good trader as one who has the ability to catch Tops/Bottoms, High R trades, or extremely high accuracy.
The best traders I know almost never hit these extremes because these extremes feed the ego
The best traders I know consistently collect low hanging fruit
@TradingComposur Indeed. As long as my win rate stays around 50% I am happy, because I strive to keep my reward:risk near 2.5:1 when day trading and well above 3:1 when swing trading. Can still do very well....it's a balance between win rate and reward:risk
https://t.co/ox5hZgiSyM
"You’re going to die one day, and none of this is going to matter. So enjoy yourself. Do something positive. Project some love. Make someone happy. Laugh a little bit. Appreciate the moment. And do your work."
@naval
@SJosephBurns I dont know how to measure this rethorical proportion, but every strategy has different mental type to execute, so i think it always starts with strategy at the bottom, lately people are too underestimating how strategy affect psychology
@Tradeciety In fx market 80% market phase are ranging, trading with the trend is not easier, imo it is much easier to think price travels from level to level instead using the trend standart