@AmirahWahdi Iya benar. Harus ad nama institusi yang bisa menerima hibah asing, tidak bisa perorangan. Ketika eksekusi hibah dana asing tersbut boleh nge hire personal independen maupun tim sekaligus.
@AmirahWahdi Iya benar. Kelembagaan kampus itu penting. Ga mungkin dosen sendirian(dan tim pribadinya) tanpa membawa institusi bisa menerima dana hibah asing. ๐
@AmirahWahdi Mohon maaf, klo buat usaha independen, mungkin akan sulit mendapatkan hibah asing walaupun ada koneksi S2nya.
Mungkin ibu bisa bayangkan resign dan ga bawa embel2 UGM sma sekali, setelah itu bisa berjuang dengan dana hibah asing.
Selamat kpd POLRI yg tlh menjebol tembok penyembunyian harta2 yang diduga hasil korupsi di sebuah kafe dan beberapa titik lainnya. Selamat kpd KEJAGUNG yang terus memburu koruptor di BGN dan MBG. Silahkan berlomba utk saling bongkar korupsi. Itu bagus utk pemberantasan korupsi.
@Sam_Ardi Ya kan gak adil gaji dosen produktif disamakan dengan gaji dosen pensiun. Yang pensiun kan sewajarnya jauh lebih kecil dibandingkan saat aktif dan produktif ngajar.
Ini gak salah baca kan? KICKBACK SETERANG INI!!
... Guna mendapatkan 30% revenue Google untuk membayar gaji tim tech, yang diperoleh dari pembayaran Kemdikbud RI atas pengadaan ...
Kasus NM.
1) Jadi pejabat, bikin kebijakan laptop harus sistem Chrome "๐ผ๐ฝ๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐ถ๐ป๐ด ๐๐๐๐๐ฒ๐บ ๐๐ต๐ฟ๐ผ๐บ๐ฒ ๐ข๐ฆ" melalui Permendikbudristek tahun 2021
2) Dikunci, negara ga bisa beli selain Chromebook
3) Google untung, inves ke PT. AKAB
4) PT. AKAB untung (punya NM)
Kalian tau bu Poppy? Direktur SMP, Kemdikbud. Saat pengadaan Chromebook, jadi wakil ketua tim teknis pengadaan Chromebook. Dia gak setuju spesifikasi dikunci. Karena tau berpotensi korupsi. Akhirnya dicopot diganti Mulyatsah. Mulyatsah akhirnya tersangka dan divonis.
Bu Poppy hanya ASN, bukan pahlawan anak bangsa. Makanya, sidangnya aja kalian gak tahu. @BetaEpsilonPhi
@pak_erte92 Sebnernya bukan prinsip subsidi atau enggak, tpi keputusan publik: menjaga daya beli kelas menengah dan menghindari kerusuhan dalam negeri pas di luar negeri lagi "rusuh". Lebih ke arah strategi politik dripada prinsip subsidi/bukan.
Disaat terdesak, Nadiem cuci tangan bahwa keputusan memilih Chrome OS bukan keputusan menteri. Tapi keputusan tim Teknis.
Nadiem lupa, rekaman zoom, kesaksian puluhan ASN kementerian yang sudah diperiksa dan beberapa dihadirkan jaksa di pengadilan, bersaksi bahwa keputusan memilih Chromebook adalah arahan dirinya. Bertingkat dari Tim teknis, Tim SKM, dan Nadiem sendiri selaku menteri.
Nadiem tidak segan mengorbankan anak buahnya demi menyelamatkan diri. Jadi, keputusan Juris Tan untuk kabur, adalah yang terbaik, mengingat Juris Tan, orang yang paling tahu siapa Nadiem.
Namun pembelaan ini membuktikan hal lain yang lebih penting: pengakuan tidak langsung bahwa pengadaan sistem OS chromebook adalah sebuah korupsi. Yang nadiem sendiri berusaha untuk mencuci tangannya.
Dukung mendukung dalam kasus korupsi Chromebook tidak ada hubungannya dengan perbaikan sistem peradilan kita. Ini hanyalah demi menyelamatkan Nadiem.
Pun demikian, kerugian negara dalam dakwaan korupsi Chromebook ketika pandemik covid-19, hanya angka-angka mati dihadapan para pembelanya yang luput melihat siapa yang paling dirugikan.
20/
Jangan biarkan opini publik digiring seolah-olah ini hanya soal โorang baik yang berjasa bagi Indonesiaโ.
Dalam negara hukum, orang baik pun harus diaudit.
Orang berjasa pun harus diperiksa.
Orang pintar pun bisa salah.
19/
Untuk apa konsultan hebat dengan bayaran fantastis kalau kebijakan publik minim kajian terbuka?
Untuk apa โtim bayanganโ ratusan orang kalau keputusan strategis tidak bisa dipertanggungjawabkan secara akademik?
Untuk apa jargon transformasi kalau ujungnya perkara hukum?
...Nadiem itu anak techbro, yakale korupsi ala boomers.
Kalo betul Nadiem Makarim+Ibrahim Arief gak terlibat, logikanya simpel kok:
Saksi kunci Jurist Tan gak mungkin kabur sembunyi.
Jurist Tan tangan kanan sekaligus teman dekat Nadiem, ini fakta tak terbantahkan... (``,)
Yap! setelah ngikutin kasus Nadiem lebih jauh, ternyata emg beliau lah villainnya.. damn bikin shadow team terang2an, bayangin sesakit hati apa mantan anak buahnya. dia jg responsible tukin dosen gak dibayar. iโve defend the wrong person all this time๐
1/
Jangan terkecoh.
Kasus hukum Nadiem Makarim tidak berhenti pada Chromebook. Kini publik juga harus mencermati dugaan kasus pengadaan Google Cloud di Kemendikbudristek.
Ini bukan lagi soal satu produk.
Ini soal pola.
https://t.co/3qqXzzgXLd
Nadiem Lulusan Harvard, yakali Korupsinya Pake Cara Biasa!
Korupsi era lama identik dengan amplop dan rekening gendut. Namun dalam kasus Nadiem, seorang lulusan Harvard, dugaan korupsi justru terlihat jauh lebih canggih dan tidak sederhana: dimainkan lewat regulasi, desain kebijakan, dan pengaturan sistem. Yang dipersoalkan bukan sekadar proyek Chromebook, tetapi dugaan bagaimana arah anggaran pendidikan dibentuk melalui kebijakan yang tampak sah.
Kasus ini menjadi menarik karena dugaan persoalannya bukan sekadar soal Chromebook atau Windows versus Chrome OS. Titik krusialnya ada pada perubahan skema pengalokasian anggaran yang sebelumnya berbasis usulan daerah menjadi lebih tersentralisasi melalui aturan turunan kementerian. Di situlah dugaan rekayasa bekerja: bukan mencuri uang secara vulgar, tetapi mengarahkan arus APBN lewat desain regulasi yang tampak sah.
Dosa banget lu Nadiem. Demi Allah dosa lu gede banget maladministrasi tukin dosen se-Indo. Sampe gue sekarang nangisin remun gak seberapa yang dicabut karena gak punya Scopus. Hidup sekali jadi akademia di Indonesia. Apes betul.
Tau gak? Waktu guru-guru panik karena Draf RUU Sisdiknas 2022 menghilangkan pasal-pasal tunjangan profesi guru, dan dikejar-kejar 78 aplikasi, Maudy ada di Bali jadi jubir Education Working Group G-20, haha hihi merayakan digitalisasi pendidikan.
Sudah menjadi nostalgia bagi saya, penderitaan guru disapu oleh influencer papan atas.