Karena pada akhirnya, yang membuatmu tetap berdiri bukan pujian, bukan validasi, bukan tepuk tangan,
melainkan keberanian kecil yang selalu kau simpan diam-diam di sudut hatimu yang paling sunyi.
Tidak perlu menaruh dendam, cukup tersenyum, karena yg melukai akan terluka pada waktunya.
Hidup ini bukan untuk membalas yg buruk dgn yg buruk, tapi bagaimana kita belajar untuk membalas yg buruk dgn yg baik..
kamu tidak perlu menebak-nebak sedalam apa lukaku; kamu tidak perlu mempertanyakan apakah rasa sakitku sama besar dengan rasa sakitmu; kamu tidak perlu membandingkan bagaimana semesta memperlakukan kita. sebab, pada akhirnya, yang perlu diperhatikan lekat adalah diri sendiri.
aku memaklumi ketika seseorang diam-diam sedang berusaha melepaskan genggamannya. meski dalam diamku, aku juga sedang mempertanyakan banyak hal. aku sadar, di kehidupan yang penuh rasa penasaran ini, aku mungkin tidak akan bisa menjadi jawaban yang tepat untuknya menetap.
Kita tidak salah jalan, kita hanya keliru memilih teman di perjalanan.
Seiring waktu berjalan, nyeri-nyeri itu akan diikat kuat-kuat dalam ingatan sebagai pelajaran.
Bukan kebenaran jika tidak bisa dibuktikan, bukan cinta jika masih pandai bermatematika.
Kejujuran itu seharusnya sederhana, cinta kasih itu jauh dari siapa mendapat apa.
Apa yang lebih utama selain alasan kemanusiaan.
Aku mencintai dan mengikhlaskanmu demi kebahagiaan.
Ini tidak mudah, tetapi bukankah melawan suratan adalah tindakan serakah?
Ketika kau melihat malam berangsur pudar di teras di mana aku pernah menyangsikan cahaya pagi berpendar, aku melihat bekas langkah kakimu kian memudar.
Pelan namun ketiadaanmu ini kelak akan terjadi, hanya soal waktu hingga orang bodoh ini sadar telah dilukai.
Bukan hanya angka
Usia adalah perjalanan mencari pengetahuan
Usia adalah pelajaran mengingat suri tauladan
Usia adalah syarat kemerdekaan
Usia adalah amanat kehidupan
Turut berbahagia untuk perayaan ke dua puluh empat
Semoga berkat alam semesta senantiasa berlipat.