semua orang keliatannya fine. tapi once u sit and talk, kamu bakal sadar, banyak yang sebenarnya lagi struggle. senyumnya manis, fotonya bagus, tapi dalamnya penuh akan sesuatu yang ga pernah bisa diceritain. we're all just trying to look okay while figuring out how to survive.
Salah satu aspek jadi dewasa adalah menyadari bahwa lo tetap harus show up dan function optimally.
Gak peduli seberat apa yang lagi lo alami dan rasain. Karena dunia emang gak peduli sama masalah pribadi lo.
Lo tetap harus hadir di meeting meskipun hati lo lagi hancur lebur. Lo tetap harus berangkat kerja meskipun seminggu lalu salah satu anggota keluarga lo baru aja meninggal. Lo tetap harus jawab email dan presentasi dengan suara tegas meskipun semalam lo nangis sampe pagi. Ya udah, mau gimana lagi.
Dunia nggak peduli soal itu semua. Dunia cuma peduli satu hal: apakah lo berhasil memenuhi tanggung jawab lo atau enggak.
Dunia gak akan berhenti berputar cuma karena lo lagi gak baik-baik aja. Bahkan pas lo lagi sakit, lagi patah hati, atau lagi kehilangan segalanya, roda kehidupan tetep jalan🥲
Pernah kepikiran nggak sih, kenapa ya kita kalau sama orang yang paling disayang justru malah lebih gampang marah atau rewel? Padahal sama orang luar bisa sesabar itu.
Jujur aku pun ngerasa gitu. Setelah dipikir-pikir, mungkin karena aku menganggap mereka itu safe place aku. Ada perasaan "aman" secara bawah sadar kalau aku nggak perlu jaga image atau nahan emosi lagi di depan mereka, karena aku tau mereka nggak akan pergi.
Tapi ya itu, sisi egoisnya kita jadi sering kasih sisa-sisa energi ke orang yang paling tulus, padahal mereka yang paling berhak dapet sisi terbaik kita.
Kalian pernah di fase ngerasa gini juga nggak sih?
Gimana tanda kalo dia adalah jodoh kita?
Rasa tenang.
Bukan perasaan yg menggebu2, tapi ada perasaan tenang yg aneh. Seperti pulang ke rumah setelah lama pergi. Seolah kita yakin, kalo dia jodoh kita. Bukan cuma cocoklogi.
Selanjutnya, kita jg ngerasa jadi diri sendiri. Gak ada yg namanya kepura2an. Gak selalu jaim di depan dia. Gak ada kekurangan yg ditutupi. Dgn jodoh, topeng itu jatuh dgn sendirinya.
Tanda lainnya, kalo diskusi sm dia kerasa beda. Sekalipun beda pendapat atau berdebat. Marah, tapi gak pengen menyakiti. Capek, tapi gak pengen pergi. Ego kita gak lebih besar dari kemauan utk ngejaga hubungan.
Kalo kita ketemu dia, bawaanya pengen jadi versi yg lebih baik, bukan karena dituntut. Tapi, kehadirannya bisa menginspirasi utk terus tumbuh lebih baik.
Katanya, jodoh itu tenang, aman, dan mendorong ke arah lebih baik. Ketemu jodoh itu ibarat menemukan bagian diri yg hilang. Dan ketika bersama seolah tubuh kita jadi lengkap.
Ini kesimpulan yg saya dapatkan, dari hasil ngobrol sm orang lain dan ngerasainnya sendiri.
Men don't understand... being a "provider" isn't all about money. It's about providing the EMOTIONAL SECURITY that allows a woman to rest in her FEMININE ENERGY. Money is the icing, not the cake
Unpopular opinion:
Pilih pasangan yang bisa hidup tanpa kamu. Karena artinya mereka memilih kamu dengan sadar, bukannya terpaksa atau butuh sesuatu.
Bisa hidup tanpa kamu,
tapi tetep milih bareng kamu.
Punya opsi yang lain,
tapi tetep milih kamu juga.
pada akhirnya, bukan lagi
"if he want, he would"
tapi "if Allah has written it for you, it will find its way to you, at the right time, in the right way"
inget, apa yang emang buat kamu, pasti akan jadi milikmu, dan gaakan jadi milik orang lain.