Take pendidikan hari ini:
Mungkin kita terlalu cepat menyimpulkan bahwa siswa kita ini “kurang critical thinking”.
Padahal, banyak siswa sangat kritis di luar pelajaran.
- Bisa membandingkan harga skincare.
- Menganalisis strategi game.
- Membaca pola algoritma TikTok.
- Menilai mana konten yang settingan.
- Membaca ekspresi teman.
- Mencari celah diskon.
- Memahami konflik sosial yang rumit di kelas.
Tapi begitu masuk di pelajaran, mereka sering terlihat pasif.
Sering kali karena mereka tidak punya cukup pengetahuan, kosakata, dan konteks untuk berpikir kritis di topik itu.
Critical thinking bukan tombol yang bisa langsung dinyalakan di semua bidang.
Anak bisa kritis di hal yang dunianya ia pahami, tapi tampak “kurang mampu berpikir kritis” di topik yang bahasanya terdengar asing, konteksnya jauh dari keseharian mereka, dan pengetahuan dasarnya masih bolong-bolong.
PR kita adalah memperkaya dunia pengetahuan anak agar pikirannya punya bahan untuk bekerja.
@Wokianagrande Maaf ya kak, saudara kami suka kelewatan. Memang ada kaum sodom di kitab kami tapi kaum sodom ini bukan sekedar suka sesama jenis tapi juga suka merampok dan memperkosa. Sialnya saudara kami lebih fokus membahas isu orientasi seksual dibanding merampok dan memperkosa.