yah, tak ada yang tahu pasti. iridisha hanya menerangkan hal yang benar-benar ia lakukan—tanpa sedikitpun merampas yang ada di dalam sana.
⇡ @nirnurani .
“oh, saya ingin minta maaf—sebab lancang mengintip barang-barang yang ada di dalam tas milik mas. tapi saya bersumpah, saya hanya melihatnya sedikiiittt saja 🤏”
ia jabarkan seringkas mungkin dengan beberapa jemari aktif memberi simbol.
→
“kalau kamu tak pernah coba pakai pita, sini, biar aku dandani! rupa dan model wajahmu, juga rambutmu, sangat cocok menggunakan aksesoris”
sejemang ia beri belaian lembut pada helai-helai rambut sang nona, jua senyum yang terpoles tulus.
→
ilse.
selamat malam, penulis dan mas yudha! permintaan pertemanan sudah kami lakukan kembali. pun, jangan sungkan menegur dan berinteraksi dengan kami ya! terima kasih
/ Selamat malam dan salam kenal. Saya sender dari menfess dengan wajah tersemat, berkenankah untuk mengikuti kembali? Mari saling berinteraksi ke depannya. Yudhayana tidak menggigit, tenang saja.
@2DimensiMenfess “um—permisi?” salah satu jemari terulur menjamah pundak sang wira. “sepertinya, barang bawaan kita tertukar, mas…” lekas ia mengangkat tas jinjing berwarna hitam selaras dengan yang digenggam olehmu.
dwi ain berlabuh pada seperangkat manik teruna dengan perangai terkemuka, meninjau gerak-gerik ajudan bertubuh bak serdadu dengan hati buncah.
iridisha mengintip detik pada arlori yang kian berdentum tiada henti, menyembul garis-garis tipis
→
oh—apa sang pemuda hendak melarikan diri? batinnya menafsirkan situasi dari prahara yang ada.
dengan satu hembusan napas, ia berbisik pelan. “tolong pastikan, sesudah ini tuan tidak akan menyeretku ke dalam hal yang sangat berbahaya.”
→