PECANDU yang dimabuk kenikmatan duniawi; antara seserbukan dan Tarangga yang manis, ‘kan Ia hirup presensi sang kasih yang lebih dicandu hingga puas sanubari.
berjalan terlalu jauh. Kalau iya, entah akan sepanik apa dia ketika justru menemukan seperangkat alat berdandan dan barang lain milik seorang wanita dibanding laptopnya.
“Saya kurang teliti agaknya, buru–buru... Maaf ya, mbak.” | @tarianduka
“Ya?” kepada seorang wanita, mustilah Yudhayana menundukkan sedikit kepala dan badannya seraya menoleh.
Oh.
Pantas tasnya terasa sedikit lebih ringan dari biasanya. “Oh, iya, mbak. Itu tas saya.” tutur Ia, sodorkan tas yang menjadi kepemilikan sang puan——untung Yudhayana belum
@2DimensiMenfess “um—permisi?” salah satu jemari terulur menjamah pundak sang wira. “sepertinya, barang bawaan kita tertukar, mas…” lekas ia mengangkat tas jinjing berwarna hitam selaras dengan yang digenggam olehmu.
Alis menukik naik, terhadap pinta pria yang tingginya sedikit lebih pendek darinya itu. Toples pada rak teratas dilirik, sudut bibir tertarik; ulas seringai tipis. Terbesit ide kecil untuk jahil.
“Nggak boleh,” sahutnya. Deretan gigi rapi nampak dari cengiran Ia. | @Antalogika
/ Selamat malam dan salam kenal. Saya sender dari menfess dengan wajah tersemat, berkenankah untuk mengikuti kembali? Mari saling berinteraksi ke depannya. Yudhayana tidak menggigit, tenang saja.
@sedarinai Mengaduh kecil Ia disertai kekeh lembut; rengkuhannya pada pinggangmu dieratkan, kemudian, pria yang lebih bongsor itu berucap: “Masa? Cium dulu sini.” masa bodoh jika ada mata melihat, Yudhayana ingin memanjakan kekasih garangnya ini.
Truly the world is a strange place to live within, while Yudhayana himself never believed things like doppleganger or any sort like that; but to witness the very person close to you may or may not have changed his perspective.
“Strange.” after the ashes of his cigarette
( ... )
@voumoond Japanese person? A raise of his thick eyebrow and his cigarette being tossed to the ground. Low chuckle escaped the man’s lips as he stood a little closer to you; scrutinising your face from close proximity.
“Akira, huh? Are you a real Japanese, or half? Should I greet -