Jika kamu suka mengaitkan kejahatan dengan agama tertentu, berikut fakta menarik tentang pelaku kejahatan global dan agamanya.
1. 10 Negara dengan Tingkat Prostitusi Tertinggi di Dunia dan Agamanya (2024)
1️⃣ China - (Buddha, Tao)
2️⃣ India - (Hindu)
3️⃣ Rusia - (Kristen)
4️⃣ Amerika Serikat - (Kristen)
5️⃣ Filipina - (Kristen)
6️⃣ Meksiko - (Kristen)
7️⃣ Jerman - (Kristen)
8️⃣ Thailand - (Buddha)
9️⃣ Nigeria - (Kristen dan Islam)
🔟 Brazil - (Kristen)
2. Negara dengan tingkat pencurian tertinggi dan agamanya: 👇
Ketergantungan Utang
Jokowi mewariskan utang kepada Prabowo lebih dari Rp 5.000 triliun, yang mana jumlah itu sangat besar dan belum termasuk bunga/utang jatuh tempo. Negara dikatakan gagal jika memiliki ketergantungan terhadap utang. Bahkan, menurut Saya utang Indonesia akan semakin bertambah banyak.
Seperti yang sudah banyak diberitakan, bahwa untuk memenuhi Program Makan Bergizi, Prabowo rela melakukan “barter kepentingan” dengan negara lain seperti Tiongkok, Selandia Baru, Australia, dan negara-negara lain yang bisa ikut mewujudkan janji kampanye-nya itu.
Fakta di atas sungguh sangat miris, dan parahnya, Prabowo sendiri yang mengatakan bahwa Indonesia akan bubar pada tahun 2030.
Nah yang jadi pertanyaan, “Bagaimana bisa Prabowo menjadi Presiden yang justru membuat negaranya menjadi gagal atau bahkan bubar?”.
Ditulis oleh Hara Nirankara
Mafia Politik dan Ekonomi
Gagalnya sebuah negara juga disebabkan oleh mafia-mafia yang semakin berkuasa, baik politik maupun ekonomi. Tentunya, kita sudah paham betul dengan eksistensi mafia ekspor-impor, mafia migas, hingga mafia-mafia lain yang membuat ekonomi semakin mencekik. Namun yang menarik perhatian Saya bukanlah mafia ekonomi, melainkan Jokowi sebagai sosok mafia politik. Bagaimana bisa?
Guna menempatkan Gibran sebagai Cawapres, Jokowi dengan lancangnya merubah konstitusi melalui peran paman di Mahkamah Konstitusi. Alhasil, saat ini Gibran sudah terpilih secara resmi sebagai Wakil Presiden Indonesia. Selain itu, usaha Jokowi dalam memperhalus jalan Kaesang pun hampir sukses, sayangnya kesadaran masyarakat semakin meningkat dengan adanya Peringatan Darurat.
Jokowi selama menjabat menjadi Presiden terkenal dengan sebutan Legalisme Otokratik, di mana jika ada aturan yang menghalangi jalannya, maka aturan itu akan diubah seenaknya sendiri.
Sedangkan hal yang lebih parah yaitu, Jokowi melakukan lobi-lobi politik agar babu-babunya bisa memenangkan Pilkada. Bahkan, Prabowo yang dikenal intelek pun, dibikin “impoten” sehingga mengkampanyekan Cagub Luthfi dalam Pilkada Jawa Tengah.
Layanan Publik yang Buruk
Indonesia bisa menjadi negara gagal jika kondisi pendidikan dan kesehatan memburuk, di mana saat ini terjadi komersialisasi pendidikan serta semakin melangitnya fasilitas yang kesehatan yang diberikan oleh negara.
Selain komersialisasi, praktik jual-beli gelar semakin marak di Indonesia. Seperti misalnya pemberian gelar Doktor Honoris Causa yang diterima oleh Raffi Ahmad, serta polemik kelulusan study Bahlil Lahadalia di Universitas Indonesia.
Seingat Saya, Indonesia menempati urutan kedua dalam hal ketidakjujuran akademik. Hal ini tentu semakin membawa Indonesia mendekati predikat sebagai negara yang gagal.
Banyak gedung pendidikan yang rusak, banyak murid yang tidak sanggup membeli seragam, sulitnya akses menuju sekolah, hingga ketimpangan pendidikan yang ada di Indonesia, membuat kita semua harusnya merasa miris.
Erosi Otoritas Pemerintah
Saat ini di Indonesia, kasus orang-orang yang kebal terhadap hukum semakin banyak bahkan dilakukan secara terang-terangan. Salah satu contoh kasus yang menurut Saya menyakitkan yaitu, lolosnya Kaesang atas dugaan gratifikasi.
Di dalam peraturan perundangan yang berlaku sudah tertulis dengan jelas bahwa: setiap penyelenggara negara/keluarga/saudara dari penyelenggara negara dilarang menerima gratifikasi.
Kaesang dinyatakan tidak menerima gratifikasi karena dianggap sudah pisah kartu keluarga dengan Jokowi, lantas jika bukan lagi “keluarga”, kenapa acara tujuh bulanan Erina dilakukan di Istana Presiden?
Fakta bahwa pemerintah (hukum) mengalami erosi otoritas dalam kasus Kaesang ini merupakan sebuah ancaman, karena salah satu syarat gagalnya sebuah negara yaitu terjadinya erosi otoritas pemerintah. Selain itu, ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah juga termasuk dalam erosi otoritas ini.
Kehilangan Kontrol Teritorial
Negara akan dikatakan gagal jika kehilangan kontrol atas wilayah teritorialnya, entah karena dikuasai oleh oposisi, non-militer, atau bahkan asing. Nah celakanya, kebijakan yang diteken oleh Jokowi tentang ekspor pasir laut, yang juga didukung oleh Luhut Binsar Panjaitan, bisa membuat Indonesia kehilangan kontrol teritorial. Kenapa?
Pembeli pasir laut Indonesia salah satunya berasal dari Singapura, di mana saat ini sedang terjadi reklamasi besar-besaran di sana yang tentunya, membuat wilayah (ZEE) teritorial Indonesia berkurang sedangkan Singapura bertambah besar. Fakta ini merupakan sebuah ancaman nyata, bagaimana bisa Jokowi justru mempermudah jalan Singapura untuk memperluas wilayahnya?
Selain ekspor pasir laut, reklamasi yang terjadi di Indonesia juga mengancam kedaulatan Indonesia. Seperti kasus reklamasi yang pernah terjadi di ancol, di mana nelayan kecil dilarang mencari ikan di wilayah perairan reklamasi (Pantai Indah Kapuk). Selain itu, viralnya patung naga dan aksara mandarin di gerbang PIK 2 juga bisa dilihat sebagai ancaman, di mana negara akan kehilangan kontrol teritorial di dalam wilayah Indonesia sendiri.
Syarat yang Harus Dipenuhi oleh Indonesia
Indonesia akan bubar jika memenuhi beberapa syarat seperti: konflik internal, isu SARA yang semakin meruncing, korupsi yang semakin marak, keadilan serta pelayanan publik yang semakin menurun, ekonomi menurun, intervensi asing, perubahan geopolitik, serta serbuan budaya dari luar.
Sedangkan jika Indonesia menjadi negara yang gagal, setidaknya harus memenuhi syarat seperti: kehilangan kontrol teritorial, erosi otoritas pemerintah, layan publik yang memburuk, korupsi dan kejahatan semakin meningkat, intervensi aktor lokal/asing, perpindahan penduduk, ekonomi yang turun, intervensi militer, kehilangan kepercayaan internasional, hingga ketergantungan kepada utang.
Nah dalam tulisan kali ini Saya tidak akan mengatakan bahwa Indonesia adalah negara gagal atau akan bubar, namun Saya lebih tertarik untuk membicarakan poin per poin mengenai syarat-syarat di atas.
Jokowi, Mafia Politik Menuju Indonesia Bubar.
Prabowo Subianto dalam sebuah pidato pernah mengatakan bahwa pada tahun 2030 Indonesia akan bubar, kenapa? Ia mengatakan bahwa pihak luar sudah memprediksi bubarnya negara Indonesia.
Dikutip dari laman BBC Indonesia, Prabowo berkata "Saudara-saudara, kita masih upacara, kita masih menyanyikan lagu kebangsaan, kita masih pakai lambang-lambang negara, gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini. Tetapi di negara lain, mereka sudah bikin kajian-kajian di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030. Bung, mereka ramalkan kita ini bubar!"
Dalam pidatonya Prabowo mengklaim bahwa kekayaan Indonesia dikuasai oleh 1% orang, sedangkan penguasaan tanah di Indonesia mencapai 0,43. Apa maksudnya?
1% populasi orang menguasai kekayaan alam di Indonesia, sedangkan penguasaan tanah nilainya 0,8% dimana: Nilai Koefisien Gini berkisar antara 0 sampai dengan 1, jika mendekati angka 0 artinya ketimpangan sedikit, jika mendekati angka 1 artinya sangat timpang.
@Dandhy_Laksono pada cuitannya di X (09/01/24) mengatakan bahwa gini tanah di Indonesia sebesar 0,58, di mana ada perusahaan yang luasnya melebihi seluruh BUMN.
Apakah Indonesia benar-benar akan bubar pada tahun 2030?
-Sebuah Esai-
ketika kamu ikhlas menerima semua kekecewaan hidup, maka; Allah membayar tuntas kekecewaan itu dgn beribu-ribu kebaikan
belajarlah mengerti, bahwa; segala sesuatu yg baik untukmu,takan Allah izinkan pergi, kecuali diganti dgn yg lebih baik lagi
-ali ibn abi thalib
#CelahAwan
🧵1/6: Ramai2 masalah video ini dan pesawat ini? Si N588SE? BANYAK YANG SALAH KAPRAH!
Foto: N588SE mendarat di Bandara HLP 26JUL2021 (by etlspotter at JetPhotos)
Ya pertama, mohon ma'af, saya kebetulan agak sibuk kemarin dan juga sambil mengumpulkan data agar tidak salah... kenapa? Karena kalo mau ngeOSINT kita harus ngeOSINT yang baik dan benar tanpa nafsu.
Yuk kita kupas faktanya:
1. Seberapa sering N588SE ke Solo?
Setelah semua sumber data digali dan ditelusuri, dari Agustus 2023 hingga Agustus 2024, pesawat N588SE ke Solo sebanyak 3 kali. 25AUG23, 17SEP23, dan 07JUL24. 3x dalam 12 bulan sih gak sering.
2. Flight tanggal 25AUG23
Pesawat terbang dari Seletar tanggal 20AUG23.
Terbang Halim-Denpasar tanggal 25AUG23 berangkat 1135WIB tiba 1400WITA
Terbang Denpasar-Solo tanggal 25AUG23 berangkat 1450WITA tiba sekitar 1445WIB.
Terbang Solo-Halim tanggal 25AUG23 berangkat 1515WIB tiba 1625WIB.
Terbang Halim-Seletar tanggal 26AUG.
3. Flight 17SEP23
Pesawat terbang Nagoya-Halim 17SEP23 0105LOCAL tiba di Halim sekitar 0605WIB
Terbang Halim-Solo 17SEP23 berangkat 0700WIB tiba 0750WIB.
Terbang Solo-Halim 17SEP23 berangkat 1140WIB tiba 1230WIB.
Terbang Halim-Seletar 17SEP23 berangkat 1330 tiba sekitar 1535SGT.
4. Flight 07JUL24
Pesawat terbang Seletar-Halim 07JUL24 berangkat 1035SGT tiba 1050WIB
Terbang Halim-Solo 07JUL24 berangkat 1140WIB tiba 1250WIB
Terbang Solo-Halim 08JUL24 berangkat 0925WIB tiba 1030WIB
Terbang Halim-Seletar 08JUL24 berangkat 1130WIB tiba sekitar 1345SGT.
Foto: Screenshot N588SE ketika berangkat dari Solo tanggal 08JUL2024
Note: Saya sengaja hanya memuat pergerakan pesawat yang terkait video di tweet yang saya quote karena privacy bagi aircraft owner.
Jadi...
Kenapa banyak buzzer?
"Pak TU kampus, saya mau apply beasiswa, saya kesulitan bayar UKT"
"Minta surat keterangan tidak mampu ke RT ya"
"Baik Pak"
***
"Pak RT, saya mau minta surat keterangan tidak mampu"
"Kamu bukannya anaknya Pak Solihin, guru SMA?"
"Iya Pak"
"Wah, tapi dari data penghasilan beliau, saya belum bisa keluarin SKTM."
"Waduh, terus gimana ini Pak?"
"Coba ke bank sama Bapak, siapa tahu bisa ada pinjaman"
***
"Bu CS Bank, saya mau ajukan pinjaman buat bayar UKT anak saya"
"Baik Pak, saya cek dulu"
"Pak Solihin, setelah kita cek penghasilan, kita gak bisa kasih pinjaman."
"Kenapa Bu?"
"Mohon maaf Pak, resiko gagal bayarnya tinggi."
"Waduh, terus gimana ini Bu?"
***
"Pak TU kampus, saya gak bisa dapet SKTM Pak"
"Udah coba pinjam bank?"
"Gak bisa Pak, penghasilan Bapak saya gak cukup."
"Coba ini, perusahaan fintech yang kerjasama sama kampus"
***
"Mas, kalau saya pinjam 12.5 juta buat UKT, saya mesti nyicil berapa?"
"Sekitar 1.3 juta per bulan selama setahun"
"Wah jatuhnya 15.5 juta dong? Bunganya 3 juta sendiri?"
"Iya mas"
"Waduh, itu biaya hidup saya euy. Gak mampu bayarnya"
***
"Pak TU kampus, gak bisa Pak, saya gak kuat bayarnya"
"Kamu cuti dulu aja. Kerja part time gitu."
"Bisa ya Pak? Gimana prosedurnya?"
"Kamu bayar 50% UKT, jadi 6.25 juta."
"Hah?"
***
"Mas pinjol, kayanya saya terpaksa pinjem deh, gak ada jalan lain"
"Siap, ini saya transfer ya."
"Kalau gagal bayar gitu gimana?"
"Ada dendanya sama nanti kecatat di BI Checking."
***
"Pak Solihin, ini utang anaknya gak dibayar?"
"Wah Pak Debt Collector, gaji honorer saya telat ini, gimana?"
"Gak bisa bayar sekarang?"
"Iya, gimana?"
"Ya udah, ini dendanya saya catat ya, ini udah numpuk dari anak Bapak semester 3 sampai lulus"
***
"Ini CV kamu bagus banget, aktif di organisasi"
"Iya, makasih Bu rekruter."
"IPK kamu juga bagus, skill set kamu juga sesuai sama yang dibutuhin user kita."
"Terima kasih."
"Oke, kita finalisasi paperwork dulu ya sebelum offer."
***
"Halo, ini HRD perusahaan X, mohon maaf banget, setelah kita cek, BI checkingnya jelek. Kami gak bisa terima."
"Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?"
"Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya."
"Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?"
"Coba ke perusahaan lain."
***
"Halo, ini HRD perusahaan Y, setelah kita cek, BI checkingnya jelek. Kami gak bisa terima."
"Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?"
"Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya."
"Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?"
"Coba ke perusahaan lain."
***
"Halo, ini HRD perusahaan Z, setelah kita cek, BI checkingnya jelek. Kami gak bisa terima."
"Tapi kan saya butuh kerjaan buat bayar utang UKT?"
"Iya tapi perusahaan kami aturannya begitu. Mungkin bisa diperbaiki dulu kreditnya."
"Gimana saya bisa perbaiki kredit kalau saya gak ada penghasilan?"
"Coba ke perusahaan lain."
***
"Mas, ini ada bantuan beras, dari pemerintah."
"Oh, saya masuk daftar? Alhamdulillah."
"Iya mas, sama Pak RT didaftarin, kan udah nganggur lama."
"Makasih ya mas."
"Gak apa Mas, bulan depan ada lagi."
***
"Mas, lagi nganggur gak? Ini ada kerjaan."
"Ngapain?"
"Jadi buzzer pemerintah Mas. Bayarannya segini."
"Pemerintah yang ngasih beras kemarin? Wah, mayan, saya udah ke mana-mana gak dapet-dapet."
"Ya udah mas, syaratnya gak susah kok."
"Apa syaratnya?"
"Tahan malu dikit."
"Oh, oke, dah ditagih-tagihin sama debt-collector ini."
***
"Ini laporan twit ngebuzzernya mana Mas?"
"Oh ini, saya kemarin bikin ribut sama orang-orang yang bikin meme Indonesia darurat."
"Oke, ngapain lagi?"
"Saya goblok-goblokin orang-orang yang demo."
"Mantab!"
"Iya Mas. Tahu gini saya gak usah kuliah, langsung nge-buzzer aja."
***
"Mas, kan baru keluar TPS, boleh kita interview dikit, kita dari lembaga survey, buat exit poll."
"Oh boleh."
"Mas pilih calon yang mana?"
"Petahana mbak."
"Kenapa kok milih petahana?"
"Saya kebantu banget, udah ngasih saya pekerjaan, sama ada bantuan sosial waktu saya nganggur."
"Kok bisa nganggur lama?"
"BI checking jelek mbak, kejerat pinjol buat bayar UKT."
"Kok gak pilih yang ngasih UKT gratis?"
"Saya sekarang lebih butuh yang kasih bantuan langsung sama kerjaan ke saya mbak."
***
"Bapak, saya mau kuliah ya di PTN. Baru keterima tesnya."
"Di tempat Bapak kuliah dulu? Wah mantab. UKT-nya berapa?"
"Segini."
"Waduh, kok mahal? Bapak gak kuat nak."
"Dulu Bapak gimana?"
"Coba kamu ke TU kampus, minta bantuan UKT."