@rehasares@GresikFess punyaku karena yg rusak motherboardnya, jadi gabisa diselametin tu laptop. jadinya dipretelin, ku ambil hardisknya dijadikan hardisk eksternal
udah nanya banyak tukang servis, gak sanggup mereka
katanya, kalo gak mampu di harta, otak bisa diadu, kudu berani nanya, kudu berani aktif, pokonya modalnya kudu berani.
tapi ternyata otakku b aja, jadi modal nekat, biar bisa lulus cepet.
Setuju pwol.
Rejeki anak ada, tapi tirakat ortu dan previlege ortu yg melek pendidikan itu nyata adanya.
Dulu gangerti Bidik Misi, keterima dapet UKT 500K, ortu semangat buat ngupayain, eh ternyata eligible buat Bidik Misi, lebih support lagi๐ญ
Bapakku dulu jualan somay keliling. Penghasilan perhari paling 100-200, itu blm termasuk modal. Anak 3, 2 diantarnya sekolah. Rumah masih ngekos.
Kalo dari logika anak Twitter, dgn penghasilan segitu, anak pertama kuliah di PTN di SBY ambil jurusan teknik, dianggap gak tau diri
Jadi inget temen saya yang punya bisnis ngasih pendapat tentang kelemahan orang Indonesia dibanding orang Tiongkok dalam berbisnis. < kalau ada orang Tiongkok boleh konfirmasi/bantah ya. ๐
Orang Indonesia itu FOMO dan bisa "saling bunuh". Musim Es Kepal Milo, semua bikin. Musim Mixue, semua invest. Bulan puasa, semua dagang gorengan dan es buah. Bahkan mereka gak peduli kalau di dekat tempat mereka ada bisnis serupa yang akhirnya menimbulkan persaingan ketat.
Nah, masalahnya bukan ikut tren, tapi eksekusinya yang tanpa diferensiasi dan tanpa perhitungan. Karena, katanya, banyak pelaku bisnis Tiongkok, dan ini jadi alasan bisnis di negara Cina maju pesat, justru bermain lebih strategis dan kolektif. Mereka paham bahwa sustain itu lebih penting daripada menang cepat. Contohnya: kalau si A punya toko ATK dan ada barang yang tidak tersedia, dia tidak ragu mengarahkan pembeli ke toko teman atau relasinya yang juga jual ATK. Meski sama-sama ATK, ada diferensiasi misal yang satu fokus di barang A, toko ATK lain di barang B. Secara jangka pendek mungkin dia kehilangan satu transaksi, tapi secara jangka panjang dia membangun trust dan ekosistem.
Contoh lain, di beberapa komunitas bisnis mereka, ada semacam pembagian peran. Misalnya satu fokus di supply, satu di distribusi, satu di retail. Mereka tidak semua lompat ke posisi yang sama hanya karena sedang โcuanโ. Hasilnya, mereka tumbuh bersama, bukan saling menjatuhkan.
Btw, ini bukan berarti semua orang Indonesia seperti itu ya, atau semua orang Tiongkok pasti lebih baik. Tapi pola ini cukup sering terlihat: satu cenderung reaktif dan individual, satu lagi lebih terstruktur dan kolaboratif.
Tapi, bisa jadi pernyataan ini salah juga ya ges. Ini hanya mengaitkan dengan postingan di bawah terkait banyak Mixue yang tutup.
Dan juga karena saya lagi coba mulai wirausaha, jadi butuh pendapat dari yang lebih expert juga. ๐
Karena udah ada tersangka, mau izin jump in
Kasus ini bikin keluarga aku panas dingin karena dua hal
(1) Aku punya anak seumuran anak2 di daycare ini. Aku ga kuat liatnya. Sungguh pantas pelakunya dihukum sesuai. Sungguh sakit kalau aku ada di posisi ortu para korban, ga kebayang sama sekali. Semoga korban mendapat pendampingan terbaik.
(2) Ibu Cahyaningrum Dewojati, yg ditulis penasehat di situ, adl orang yg sangaaaaaaaaaat baik (aku bisa bersaksi dan mhs2nya pun). Taunya kok baik? Karena aku keponakannya, kenal dari lahir. Saking baiknya yaaaaaah dia pinjemin tuh KTP untuk pendirian yayasan yg ga pernah dikabari perkembangannya gimana kegiatannya apa sama sekali down the road ๐ญ. Jujur sediiiiih banget ngeliat semua judgement ke beliau.
My heart goes to all the victims. Semoga semua mendapat justice.
@lurino di kedinasan yg lan, seenggaknya yg 1 almamater, yg dipanggilnya bang dan mbak meskipun gapnya jauh, kalo "pimpinan" ini mau bagi2 kue, ya mereka kecipratan kok, ntah jadi ajudannya, atau direkomendasiin jadi apalah itu ๐
@hrdbacot pernah dapet gini, mikirnya apa gara2 cuma beli lipstick 1 item mau di refund, tapi dipikir2 brand gede yg pakek third party buat kirim2nya kemungkinan kecil pembatalannya gak lewat aplikasi, jadi ku abaikan, dan gak konfirm jiva ke tokonya krn alasan kedua