punya perasaan benci sama bapak tuh gampang bgt. but no matter how hard you try, it will be very difficult for you to hate your own mom. tiap kali adu argumen sama mama pasti ujung nya gw ga tega dan pikiran "hidup dia susah krn society & bapak gw" ate my brain straight away
everytime my family starts saying anything misogynistic and show indications of religious psychosis, i treat the experience like i'm doing ethnographic research to stay sane
You have to fall in love with her in different versions. The young her, the tired her, the pregnant her, the ambitious her, the difficult her, the woman she becomes with time. That’s the real secret.
Adaptasi novel TENGGELAMNYA KAPAL VAN DER WIJCK menjadi film komersial, adalah satu contoh jelas kalau bangsa Indonesia abad ke-21 memang maha-pelupa dan maha-pemaaf.
Bayangkan saja, pada Oktober 1962 novel itu pernah menjadi "skandal sastra" terbesar dan menempatkan Hamka sebagai penulis yang banyak dicemooh sejak terbitnya resensi berjudul “Aku Mendakwa Hamka Plagiat!” oleh Abdullah S.P. dalam lembar budaya Bintang Timur di bawah asuhan Pramoedya Ananta Toer.
Begini komentar Pram pada saat itu:
“Saya sebagai pengagum Hamka sangat kecewa sekali dengan terbongkarnya kepalsuan "Tenggelamnya Kapal v.d. Wijck" ... ide dan gaya bahasa jelas menandakan karya tersebut adalah jiplakan dan ini memberikan contoh yang tidak baik pada generasi muda. Ini bukan masalah sastra saja, tapi merupakan masalah sosial, cermin sosial, yaitu barometer sampai di mana kejujuran seorang tokoh masyarakat mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya... soalnya mudah saja, yatu minta maaf. Sebab karya Hamka ini kira-kira dibaca 5 juta.”
Bagaimana tanggapan Hamka setelah dituduh plagiat? Tidak ada klarifikasi, apalagi permintaan minta maaf. Yang membela beliau justru H.B. Jassin bersama lingkarannya. Kemudian tiba-tiba saja polemik itu dihentikan. Bukan oleh kalangan sastra, tapi oleh TENTARA, karena dianggap menggangu kestabilan dalam masyarakat.
Novel karya Manfaluthi "Magdalena" yang dituduh menjadi sumber plagiat Hamka pada akhirnya diterjemahkan oleh dua kubu yang berseteru.
Lantas, sejak dirilisnya karya adaptasi Tenggelamnya Kapal Van der Wijck pada 2013 sampai sekarang, dengan entengnya kita mengelu-elukan film itu sebagai salah satu film terbaik yang pernah dibuat di Indonesia, tanpa ada perasaan risi sama sekali.