@zeabrizkie Memilih pemimpin yg pernah bergesekan dengan masalah KEMANUSIAAN.
Bisa di ingatkan ke temennya bahwa hasil pilihannya menciptakan pemimpin yg :
"MBG program yg berhasil, hanya segelintir yg keracunan.."
"Bencana hanya 3 provinsi dari 38 provinsi, semua terkendali"
Nyawa=statistik
Di sela makan malam saya memetakan dan mengukur lokasi laut yang dipagari oleh “bambu” di Tangerang. Seluruhnya sudah diSERTIFIKAT HGB!
Luasnya MENCENGANGKAN!
Saya memang blm sempat cek ke BHUMI dan baru hari ini.
Membagongkan.
Ini titik batas BARAT.
BHUMI vs Google Map
“Makan siang gratis, program sebagus ini masih dicacati.” Ya memang ini program cacat, dijalankan serampangan, terus ini PPN naik jadi 12% salah satunya buat membiayai program itu, menunjukkan apa? Menunjukkan kecacatan program ini.
“Program ini sudah dijalankan negara maju.” Mereka bisa ngejalanin program ini karena apa? Kebutuhan dasarnya diurus baik dan dijamin negara. Kita gimana? Boro-boro deh, masih banyak PR tapi pemerintah tak kunjung nyelesaiin hal-hal prioritas yang diinginkan warga negara. IKN proker prioritas? Iya, itu mah menurut pemerintah yang sarat akan kepentingan. Warga negara Indonesia ini pengin anggaran sebanyak itu buat menyejahterakan hidup guru, masalah pangan yang diurus baik, kondisi sosial–ekonomi yang stabil, [lanjutin sendiri]
Sadar ga sih kita masih bisa bertahan sejauh ini tu karena masyarakat kita yang memilih buat bertahan? Ini negara macam udah autopilot kurasa.
Kita semua tahu lah program makan siang gratis ini tak menyelesaikan masalah struktural. Pun kalau misalnya mau bicara solusi cepat atas masalah gizi, aku pun mau geleng-geleng kepala lagi, mau dapat apa menu makanan Rp10.000 per porsi? In this economy???
Kalau ngomongin “seperiode berjalan bersamaan.” Iya memang, pemerintah yang menjabat mah pasti ngejalanin kebijakan dan program yang macam-macam. Tapi yang lebih kutekankan adalah skala prioritas dalam menggunakan anggaran dan political will untuk menyelesaikan masalah yang lebih urgent, bukan buat program yang sebetulnya cuma buat nyelametin muka pejabat tertentu, bukan buat program yang sarat akan kepentingan dan rawan penyelewengan.
Kritikan Untuk Orang-orang NU
Oleh : Gus Baha
NU itu terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang. Itu lampu merah. Orang kaya suka ulama. Suka kiai. Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama.
Saya ga mau ngaji yang ribet itu. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang. Ribet.
Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.
Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya.
Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet.
Bukan saya anti. Dan itu perlu. Tapi sudah over. Tapi tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan.
Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia. Klop. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang. Musibah. Terutama di Jawa Timur.
Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas … Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas.
Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu. Bukan ngaji Gus Baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy’ari, dll.
Ini kan musibah. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya.
Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas. Saya dikasih Mbah Moen. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini.
Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.
Kiai-kiai NU itu sudah alim. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, disuruh goblok lagi.
Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu. Agar tetap alim.
Ada kiai yang sehari manggung 3 kali. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?
Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik.
Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak.
Masak, pondok NU mengundang Ustad/Kiai yg tidak jelas. Karena ikut tren tadi. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka. Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda, tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy’ari.
Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya. Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain. Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang ‘Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas’. Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.
Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU. NU itu harusnya melahirkan kiai – allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang. Dan saya melihat sudah lampu merah. Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy’ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.
Keilmuan, kealiman ini jangan habis. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis.
Sumber : FB
@folkshittmedia Kukira aku aja yg nemuin pelecehan gini. Awal tahun ini ke sana, nah... Disamperin dong sm bapack2 gay gt. Sempet dilecehin pulak. Megang2 pipi. Anjeng. Baru nydar dia gay ketika karyawan albaik ngasih kode klo yg nyamperin aku itu org ga bener wkwk
@SoundOfYogi Kalian tau gak? Justru yg robot itu cocok diterapkan di culture asia. Nadiem mau menerapkan bukan sistem robot, kebebasan yg notabene belum cocok utk culture asia. Hasilnya? Byk anak yg sorry to say, tolol menurutku. Asia, indo china dsbg, dikenal memang dgn pintar robotnya itu
@farizzlfdhl menurutku ini ga hanya utk akun baru. bahkan akun sdh lama ga upload, terus upload lg, ternyata bs works. Asedikit saran driku, kalo 1-3 jam viewer ga lebih dr 300 atau 400, hide aja atau hapus. itu tandanya algoritma kurang suka. -
@tirta_cipeng kebetulan td baca tweet dokter mau bagi2 sepatu dan kebetulan ukuran saya 45, syukur2 bisa buat ganti sepatu lari saya, dok wkwk. biar semakin berprestasi lagi. wkwk
@tirta_cipeng lah kenapa ga beli baru, mas? saya belinya sepatu basket dok. karena klo sepatu basket ga lengket di lapangan, sy yg cidera. tapi utk lari memang pikirku, ya uda selama bs dipakai, pakai aja. wkwk. ga lecet2, mas? ya lecet2 dok kalo pas ikut event gt itu. wkwk.
@FiersaBesari bener dah. liat arah pak lurah mau ngapa dan kemana, terserah lo dah pak. aing fokus ngejalanin hidup aja. sdh macam toxic relationship aja yg msh sejalan sm beliau. aing aja jg demikian, masih mikir, ini beneran ta org ini. ada harapan berubah ga sih. msh berharap plot twist.