Rabu, 10 Juni 2026. Satu hari. Dua pernyataan dari gubernur yang sama.
Pertamax baru naik hampir Rp4.000 per liter.
Pramono Anung keluar dengan solusi:
"Dengan kenaikan BBM ini, peluang orang untuk naik transportasi umum juga makin besar."
Di hari yang sama, Pramono juga mengonfirmasi tarif Transjakarta dan Transjabodetabek akan segera disesuaikan ,dari Rp3.500 ke kisaran Rp10.000 hingga Rp15.000.
Tiga sampai empat kali lipat.
Jadi jalan keluarnya dari BBM mahal adalah naik Transjakarta. Dan Transjakartanya sendiri sedang akan naik tiga kali lipat.
Pertamax naik → pindah ke Transjakarta. Transjakarta naik → pindah ke mana?
Ini bukan soal salah satu kebijakan.
Ini soal pola yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
Rupiah melemah → biaya impor naik → BBM naik → biaya hidup naik → subsidi tertekan → tarif transportasi umum naik.
Setiap domino jatuh ke rakyat.
Tarif Rp3.500 itu bertahan lebih dari 20 tahun , bukan karena pemerintah lupa menaikkan, tapi karena itu satu-satunya hal yang masih bisa dijangkau jutaan orang yang tiap hari menggantungkan mobilitas hidupnya pada angkutan umum.
Alasan pemerintah menaikkannya sekarang: subsidinya terlalu besar.
Pertanyaannya bukan apakah subsidi perlu diefisiensikan.
Pertanyaannya adalah: di negara yang APBN-nya 3.800 triliun, yang program prioritasnya saja terbukti bocor di mana-mana, kenapa yang pertama dipangkas selalu yang dipakai rakyat , bukan yang dinikmati kekuasaan?
Waktu Arsenal menang, banyak orang geram karena pendekatan permainan mereka.
Waktu Arsenal kalah, semua dirasa sudah layak dan sepantasnya.
Padahal di final UCL vs PSG, terlihat jelas bahwa merekalah yg menguasai pertandingan. Merekalah yg nyaman setidaknya hingga menit 70an..
Kontrol bukan dilihat penguasaan bola. Bukan juga soal jumlah percobaan tembakan.
Kontrol adalah bagaimana kita bisa memaksa lawan untuk bermain di luar zona nyaman mereka. Mengikuti alur yg kita ciptakan. Arsenal melakukan itu selama satu jam lebih di laga final.
Keputusan mereka untuk memenuhi area sentral memaksa PSG hanya bisa main melebar.
Keputusan mereka menempatkan 4 bek tengah sebagai tembok di depan gawang tidak meninggalkan lubang.
Joao Neves & Fabian Ruiz yg biasa siap menyambut umpan tarik dari sayap kesulitan mendapat ruang.
Vitinha yg biasa bisa membawa bola dengan leluasa dan melepaskan umpan berkelas untuk membebaskan Kvara, Doue, dan Dembele, dikunci sebelum bisa beraksi.
Arsenal baru mulai goyang ketika Gyokeres dan Timber masuk. Mereka memiliki peran serta area yg berbeda dengan Odegaard & Mosquera.
Bahkan sejak pergantian itu, PSG mulai leluasa, sampai Barcola hampir sukses menciptakan gol kemenangan dengan aksi individunya.
Ternyata Arsenal selamat dan terus bisa mengimbangi PSG hingga adu penalti. Tanpa tiga penendang utamanya (Saka, Odegaard, dan Havertz) anak-anak asuh Arteta akhirnya kalah.
Namun mereka layak mendapatkan apresiasi. Mereka harus menerima kekalahan ini dengan kepala tetap terangkat tinggi.
Apa yg mereka capai musim ini, sudah jauh di atas ekspektasi.
Apabila bisa melanjutkan momentum ini, bukan tidak mungkin dalam waktu dekat mereka mendapat kesempatan bermain di final UCL lagi 👏👏🫡
Teruntuk Coach John Herdman
Coach, baru-baru ini saya mendengar Anda berulang kali mengatakan bahwa bermain untuk Timnas Indonesia berarti mewakili 280 juta jiwa di negeri ini. saya mengangguk dalam hati. benar coach, Ini bukan sekadar hadir, bagi sebagian orang ini adalah napas sebuah bangsa.
Beberapa waktu terakhir ini juga, saya melihat berita, coach memanggil 23 pemain untuk pemusatan latihan di Jakarta pada 26 hingga 30 Mei untuk persiapan awal jelang ASEAN Championship 2026
Saya membaca daftar itu dengan penuh harap, penuh talenta muda, pemain-pemain yang lapar akan prestasi, dan wajah-wajah baru yang membawa angin segar. langkah yang baik, Coach.
Namun sambil melihat nama-nama itu, saya memutar kenangan ke belakang, entah kenapa saya terbawa kembali ke suatu momen, betapa pilunya malam-malam final AFF dulu.
Jalanan yang biasanya ramai tiba-tiba menjadi sepi senyap, orang-orang meninggalkan rumah, berkumpul di balai warga, warung kopi, atau nobar bersama keluarga.
Semua menahan napas, berdoa, berteriak, dan akhirnya menangis dalam diam ketika mimpi itu kembali pupus di garis akhir. seringkali kali kita hampir menyentuh langit, tapi selalu jatuh di ambang pintu juara.
Di tengah pergantian era yang penuh harapan ini, di mana Indonesia mulai diperhitungkan lagi di Asia Tenggara bahkan cita-cita kita ke piala dunia, ada satu nama yang tak pernah pudar di hati saya, atau mungkin banyak orang, pemain tersebut bernama Boaz Solossa.
Legenda hidup yang pernah dua kali merasakan tulang kakinya patah saat membela Timnas Indonesia, tapi tetap bangkit dan terus bermain hingga usianya tak lagi muda.
Maka izinkan kami, orang-orang yang merasakan patah hati dan menangis di Final AFF berkali-kali itu menyampaikan satu permintaan yang tulus, atau mungkin terasa cukup berbeda, Panggillah Boaz ke dalam skuad Timnas untuk ASEAN Championship ini.
Bukan untuk menjadi pemain inti yang terus bermain 90 menit, bukan untuk memikul beban berat, melainkan sebagai simbol indah dari transisi era yang kita jalani, saya percaya lebih banyak efek positifnya dibandingkan efek negatif jika Legenda hidup itu dipanggil ke Timnas Indonesia
Biarkan ia hadir di antara transisi pemain-pemain diaspora yang datang dari Eropa dan talenta-talenta muda dari Sabang sampai Merauke, bagaimana simbol mimpi yang pernah kira rajut pelan-pelan bisa saja terwujud, saya percaya itu.
Jauh sebelum nama-nama hebat kami teriakan di Tribun seperti Jay, Marselino, Ole, Kevin Diks atau pemain lainnya yang menghiasi era transisi ini, ada satu nama yang selalu melekat di hati kami yaitu Boaz Sallosa, gocekannya, lincahnya kakak boci, dan luar biasanya talenta itu, terekam jelas di memori kami.
Kami ingin melihat legenda ini seyogyanya mengenakan jersey Merah Putih sekali lagi, kami ingin menyaksikan ia ikut merayakan, mengangkat piala, dan menutup lembaran air mata masa lalu.
Bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk kita semua untuk membuktikan bahwa semua kegagalan di final-final AFF dulu bukan akhir cerita, melainkan awal dari kejayaan yang sedang kita bangun.
Panggilan untuk Boaz adalah jembatan,
Jembatan antara generasi dengan generasi yang akan menjadi juara, era di mana Indonesia mulai ditakuti lagi, saya percaya kualitasmu sebagai seorang pelatih Coach, karena dirimu membuat Kanada menjadi poros baru di benua Amerika.
biarkanlah sang legenda ikut menuliskan akhir yang manis.
Karena sepak bola adalah tentang mimpi, dan mimpi yang paling indah adalah yang akhirnya terwujud, meski harus patah dan tumbuh berkali-kali.
Terima kasih, Coach.
Jika permintaan ini diijinkan, mungkin saya hanyalah satu dari sekian banyak pendukung Timnas yang akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa ini, kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
Terbang tinggi Garuda
Guys, DPR baru saja mengusulkan sesuatu yang menurut gue paling sempurna menggambarkan betapa jauhnya jarak antara para wakil rakyat dengan kenyataan rakyat yang mereka wakili.
Di tengah rupiah Rp17.700.
Di tengah badai PHK yang mengintai.
Di tengah guru honorer yang digaji Rp1,5 juta per bulan.
Di tengah anggaran pendidikan
yang dipotong 44% untuk MBG.
Anggota DPR dari Fraksi Gerindra mengusulkan:
Alokasi APBN 2027 untuk membangun 1.000 layar bioskop di desa.
Gue perlu berhenti sejenak dan baca ulang itu:
Seribu Layar Bioskop Di desa.
Dari APBN.
Dari uang pajak rakyat.
Di 2027.
Dan ini yang paling menggelikan:
Alasannya mulia.
Untuk mendukung rumah produksi kecil di daerah.
Untuk menampilkan potensi dan budaya lokal.
Untuk memberi akses sinema kepada rakyat desa.
Tapi ada satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab dalam rapat itu:
Rakyat desa yang gajinya di bawah UMR dengan harga bahan pokok yang terus naik mau beli tiket bioskop pakai uang apa?
Dan ini datanya yang harus dihadapkan langsung:
88% kepala rumah tangga Indonesia tidak punya pendidikan S1.
IQ rata-rata Indonesia 78,9 hampir juru kunci dunia.
Skor PISA Indonesia peringkat 69 dari 81 negara.
50% pegawai Indonesia pernah mengalami stunting waktu kecil yang artinya perkembangan otak mereka terganggu sejak masa paling kritis.
Guru honorer yang seharusnya menjadi satu-satunya harapan untuk memutus rantai kebodohan struktural ini — digaji Rp1,5-2,8 juta per bulan.
Di bawah UMP. Di bawah standar hidup layak.
Dan anggaran pendidikan yang seharusnya mengurus semua ini dipotong 44% untuk program makan siang.
Tapi DPR punya solusi:
Bukan 1.000 sekolah baru di daerah terpencil yang belum punya akses pendidikan layak.
Bukan rekrut 100.000 guru berkualitas dengan gaji Rp40 juta per bulan yang total biayanya hanya Rp50 triliun atau 7% dari anggaran pendidikan yang ada.
Bukan perpustakaan desa.
Bukan laboratorium sains.
Bukan akses internet untuk sekolah-sekolah yang masih mengajar dengan papan tulis kapur.
Tapi bioskop.
Dan ini logika yang paling sederhana:
Dr. Tirta sudah bilang:
rakyat yang pintar adalah ancaman bagi penguasa yang tidak kompeten.
Karena rakyat yang pintar akan mempertanyakan kebijakan yang tidak ada gunanya.
Ahok sudah bilang:
kebodohan struktural bukan kebetulan. Ini by design. Tidak ada pemerintah otoriter yang ingin punya warga yang benar-benar cerdas.
Mahfud MD sudah bilang:
demokrasi tidak akan berhasil sebelum pendapatan per kapita mencapai 5.500 dolar.
Rakyat yang masih miskin dan tidak berpendidikan pasti menjual suaranya.
Dan sekarang alih-alih memperbaiki pendidikan yang bisa mengubah semua itu DPR mengusulkan membangun bioskop.
Rakyat yang tidak pintar tapi punya bioskop jauh lebih mudah dihibur.
Jauh lebih mudah dialihkan perhatiannya.
Jauh lebih mudah diberi sesuatu yang kelihatan seperti pemberian tanpa benar-benar mengubah kondisinya.
Dan ini yang paling menohok:
Orang desa yang gajinya Rp2-3 juta per bulan yang harga kedelai dan telurnya sudah naik karena rupiah melemah yang anaknya sekolah dengan guru yang mau resign karena gajinya tidak cukup untuk makan
Tidak butuh bioskop.
Mereka butuh guru yang digaji layak supaya anaknya tidak tumbuh dengan IQ 78.
Mereka butuh sekolah yang layak supaya anaknya bisa bersaing.
Mereka butuh sistem pendidikan yang mengajarkan berpikir kritis bukan menghafal untuk ujian.
Karena bioskop tidak mengubah nasib.
Bioskop hanya menghibur orang yang nasibnya tidak berubah.
Dan angkanya bicara sendiri:
1.000 layar bioskop dengan asumsi biaya pembangunan, peralatan, dan operasional bisa menghabiskan ratusan miliar bahkan triliunan rupiah dari APBN.
Uang yang sama bisa dipakai untuk:
menggaji 25.000 guru berkualitas selama satu tahun penuh. Atau membangun ratusan perpustakaan desa dengan koleksi buku yang memadai.
Atau memberikan beasiswa bagi ribuan anak desa yang putus sekolah karena tidak mampu.
Tapi yang diusulkan adalah bioskop.
DPR bukan Dewan Perwakilan Rakyat.
DPR adalah Dewan Penghibur Rakyat.
Rakyat tidak dirancang untuk pintar karena rakyat yang pintar tidak bisa dihibur dengan bioskop.
Rakyat yang pintar akan tanya:
kenapa anggaran pendidikan dipotong tapi ada uang untuk bioskop desa?
Kenapa guru digaji Rp1,5 juta tapi ada dana untuk layar sinema?
Kenapa stunting masih 21% tapi kita bahas distribusi film nasional?
Dan pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih berbahaya bagi mereka yang duduk di kursi DPR daripada rakyat yang diam di depan layar bioskop desa sambil lupa bahwa hidupnya tidak berubah.
Tiga pertanyaan untuk Mendikti soal LPDP digembleng TNI:
1. Sejak kapan warga sipil yang lolos IELTS, esai, dan wawancara LPDP dianggap kurang disiplin?
Mereka bahkan menghitung sendiri pajaknya tiap tahun di SPT, sesuatu yang (mungkin) prajurit tidak diwajibkan lakukan dengan kerumitan yang sama.
2. Sejak kapan warga yang pajaknya dikorupsi bertahun-tahun tapi tetap bayar PPN setiap belanja dianggap kurang berkebangsaan?
3. Kalau tujuannya supaya awardee balik ke Indonesia, kenapa solusinya pelatihan baris-berbaris dan bukan perbaikan ekosistem riset, gaji dosen, dan kepastian karier akademik di dalam negeri?
Yang bikin doktor enggan pulang itu bukan kurang nasionalisme. Tapi karena kurang lab, kurang dana riset, dan kurang penghargaan.
Kalau pemerintah serius ingin awardee pulang dan berkontribusi, cobah perbaiki ekosistem akademik dalam negeri.
Itu jauh lebih sulit, dan jauh lebih dibutuhkan.
Menurut saya, mengirim calon master dan doktor ke barak untuk diajari “kebangsaan” itu membalik logika.
Yang lazim di banyak negara: kadet militer yang dikirim ke kampus, bukan sebaliknya.
Jangan remehkan warga sipil yang duitnya bocor terus tapi masih setia bayar pajak.
Lagian, tokoh-tokoh kebangsaan terbesar republik ini sebagian besar sipil. Hatta, Sjahrir, Sukarno muda, Kartini, Tan Malaka, Agus Salim.
Tidak satu pun dari mereka yang nasionalismenya dibentuk di barak.
Mereka jadi nasionalis karena membaca, berdebat, hidup di pengasingan, dan berhadapan dengan ketidakadilan kolonial.
Bukan karena baris-berbaris.
😬
Guys, ada laporan baru dari lembaga riset Celios yang menurut gue adalah salah satu yang paling mengerikan yang pernah gue baca tentang kondisi ekonomi Indonesia.
Judulnya: Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026.
Dan datanya bukan dari sembarang sumber.
Dari Forbes.
Dari LHKPN.
Data yang sudah terverifikasi dan tidak bisa dibantah.
Fakta pertama yang langsung bikin gue sesak napas:
50 orang terkaya Indonesia hanya 50 orang total kekayaannya mencapai Rp4.600 triliun per 2026.
APBN Indonesia?
Rp3.800 triliun.
Artinya 50 orang itu lebih kaya dari seluruh anggaran negara yang digunakan untuk membiayai 270 juta rakyat Indonesia selama satu tahun penuh.
Satu tahun.
Gaji PNS, subsidi BBM, bayar utang, bangun jalan, biaya militer, semua program sosial semuanya masih kalah dari 50 orang itu.
Dan setiap harinya harta 50 orang itu naik Rp13 miliar per hari.
Sementara upah pekerja harian di Indonesia bergerak di kisaran Rp2.000 sampai Rp5.000 per jam.
Fakta kedua ketimpangan di antara pejabat negara sendiri:
Total kekayaan pejabat negara era Prabowo-Gibran: Rp1 triliun lebih.
Dan dari seluruh pejabat itu 73% kekayaannya hanya dikuasai oleh 12 orang.
Dua belas orang.
Yang masing-masing punya kekayaan di atas Rp1 triliun.
Siapa?
Salah satu yang terbesar adalah Menteri Pariwisata Widya Kusuma.
Ada juga Menteri Perumahan Rakyat.
Keduanya masuk dalam daftar lima pejabat terkaya.
Fakta ketigayang paling menohok soal TNI dan Polri:
Setiap tamtama TNI prajurit paling bawah butuh 252 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Panglima TNI.
Dua ratus lima puluh dua tahun.
Kalau mulai kerja umur 20 baru bisa menyamai kekayaan atasannya di umur 272 tahun.
Itu bukan angka. Itu absurditas.
Di Polri sedikit "lebih baik" polisi golongan paling rendah butuh 139 tahun masa tugas untuk menyamai kekayaan Kapolri.
Ketimpangan ini bukan hanya antara rakyat dan orang kaya. Tapi di dalam institusi yang sama.
Di antara satu korps yang sama.
Fakta keempat anggota DPR versus konstituennya:
Anggota DPR Gorontalo kekayaannya 800 kali lipat dari rata-rata masyarakat Gorontalo yang mereka wakili.
Anggota DPR Yogyakarta 400 kali lipat dari rata-rata masyarakat Yogyakarta.
Orang-orang yang mengklaim mewakili rakyat hidupnya 400 sampai 800 kali lebih kaya dari rakyat yang katanya mereka wakili.
Dan mereka yang membuat undang-undang. Mereka yang memutuskan kebijakan pajak. Mereka yang menentukan siapa yang dapat subsidi dan siapa yang tidak.
Dan ini yang membuat seluruh gambar itu menjadi sangat gelap:
Celios mengajukan satu pertanyaan yang sangat sederhana: kalau 50 orang terkaya itu dipajaki hanya 2% dari total kekayaan mereka negara dapat berapa?
Rp93 triliun per tahun.
Sembilan puluh tiga triliun.
Setiap tahun.
Dari pajak 2% saja atas kekayaan 50 orang.
Itu lebih dari cukup untuk membiayai rekonstruksi bencana besar.
Untuk membenarkan semua perlintasan kereta berbahaya di Jawa yang butuh Rp4 triliun.
Untuk menggaji 8 juta guru honorer setahun penuh.
Untuk menutup seluruh defisit BPJS Kesehatan.
Hanya dari 50 orang.
Hanya 2%. Per tahun.
Tapi itu tidak terjadi.
Dan Celios menjelaskan kenapa:
Karena orang-orang yang punya kekayaan itu — adalah orang-orang yang sama yang membiayai kampanye politik, yang duduk di dewan komisaris BUMN, yang punya akses langsung ke pengambil keputusan.
Pajak kekayaan sudah masuk dalam rencana Kementerian Keuangan paling lambat 2028 kata mereka. Tapi implementasinya? Masih "akan akan akan" saja. Tidak pernah benar-benar dieksekusi.
Sementara yang terus dipajaki adalah kelas menengah yang sudah ngos-ngosan. Kelas menengah Indonesia turun 1,1 juta orang dalam setahun tapi mereka yang paling mudah dikejar pajaknya karena datanya ada, penghasilannya kelihatan.
Seperti kata peneliti Celios: berburu di kebun binatang. Hewannya kelihatan, tinggal tembak. Sementara yang benar-benar harus dipajaki terlalu kuat untuk disentuh.
Dan ini yang paling mengerikan dari seluruh laporan ini:
Ketimpangan yang ekstrem ini bukan hanya masalah ekonomi. Ini adalah bahan bakar untuk sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Celios menelusuri pola historis dan hasilnya konsisten. Ketika ketimpangan mencapai titik ekstrem dan orang-orang hopeless tidak melihat jalan keluar yang rasional mereka tidak lari ke gerakan buruh atau gerakan sosial yang terorganisir.
Mereka lari ke kelompok-kelompok yang menawarkan identitas, musuh bersama, dan rasa memiliki.
Di Italia 1930-an orang yang di-PHK direkrut oleh Black Shirt. Di Jerman industri tutup, pengangguran meledak, orang mencari pegangan.
Di Indonesia sendiri kerusuhan 1998 dan berbagai gejolak sosial sesudahnya, ketika ditelusuri, akar masalahnya selalu sama: ketimpangan ekonomi yang dibalut isu identitas.
Dan tanda-tandanya sudah mulai terlihat sekarang ormas-ormas yang berdemo bukan ke instansi pemerintah tapi ke lembaga bantuan hukum masyarakat sipil, bayaran demo yang menjadi solusi pengangguran, program-program besar yang menyerap tenaga kerja tapi dengan cara yang menciptakan ketergantungan bukan kemandirian.
Solusi yang Celios rekomendasikan dan ini sangat konkret:
Satu — pajak kekayaan 2% untuk 50 orang terkaya. Langsung hasilkan Rp93 triliun per tahun. Bukan mimpi Brazil dan Colombia sudah melakukannya dengan komite audit independen.
Dua — moratorium MBG. Hentikan sementara, perbaiki tata kelola dari akar, baru jalankan lagi dengan tepat sasaran fokus ke daerah 3T dan keluarga miskin ekstrem, bukan merata ke semua sekolah termasuk swasta di Jabodetabek.
Tiga — kembalikan 20 triliun yang diambil dari anggaran kesehatan ke Kementerian Kesehatan untuk program stunting yang sudah terbukti efektif. Benefit yang dihasilkan: Rp400 triliun. Versus MBG yang belum jelas benefit konkretnya.
Empat — pajak windfall untuk komoditas yang sedang untung besar batu bara, sawit, nikel, minyak. Mereka untung dari harga global yang tinggi, sementara rakyat menanggung subsidi energi. Ini bukan soal nasionalisasi ini soal keadilan distribusi keuntungan.
Indonesia bukan negara miskin. Indonesia adalah negara yang kekayaannya terkonsentrasi pada sangat sedikit orang, yang sistem pajaknya melindungi orang kaya dan membebani kelas menengah, dan yang program-program besarnya lebih banyak menciptakan celah korupsi baru daripada menyelesaikan masalah lama.
50 orang lebih kaya dari APBN. 12 pejabat kuasai 73% kekayaan seluruh pejabat negara. Tamtama butuh 252 tahun untuk menyamai Panglima. Anggota DPR 800 kali lebih kaya dari konstituennya.
Dan solusinya sudah ada. Jelas. Terukur. Bisa dijalankan hari ini.
Yang tidak ada adalah kemauan politik untuk melakukannya. Karena yang harus meloloskan kebijakan pajak kekayaan itu adalah orang-orang yang sama yang akan paling terdampak olehnya.
Itu bukan korupsi yang bisa ditangkap KPK. Itu adalah struktur. Dan struktur hanya bisa diubah kalau tekanan dari bawah lebih kuat dari kenyamanan di atas.
⚠️ Disclaimer: Berdasarkan laporan Celios "Republik Oligarki Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026" dan wawancara peneliti Celios Bima Yudistira. Data bersumber dari Forbes dan LHKPN yang dapat diverifikasi publik. Ini analisis berbasis riset independen bukan tuduhan hukum kepada individu manapun.
Dia terbang berkeliling dunia atas biaya rakyat dan bergaya seperti tokoh dunia. Tapi tak ada kepala negara lain yang berkunjung ke istananya. Dia seperti badut politik.
Menarik ga si baca narasi tech bros jd pahlawan/martir krn di tengah karirnya milih kerja buat negara
Sementara 4 juta++ @PNS_Ababil birokrat guru dosen nakes dll yg sejak awal milih bekerja untuk rakyat selamanya jadi BEBAN NEGARA
Overwork buat cpns dan pns itu nyata bgt. Sayangnya kerjaan2 itu minim bgt output nyata buat kemaslahatan rakyat. Lebih seringnya meladeni ide2 kosong atasan, ceremonial, simbolik minim manfaat. Tapi tetep kegiatan kosong gt butuh waktu tenaga dan pikiran manusia juga. 😢😢
Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya: "Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam." Siloam artinya: "Yang diutus." Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek. Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata: "Bukankah dia ini, yang selalu mengemis?" Ada yang berkata: "Benar, dialah ini." Ada pula yang berkata: "Bukan, tetapi ia serupa dengan dia." Orang itu sendiri berkata: "Benar, akulah itu."
Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu, adalah hari Sabat. Karena itu orang-orang Farisipun bertanya kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya: "Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat." Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: "Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat." Sebagian pula berkata: "Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?" Maka timbullah pertentangan di antara mereka.
Lalu kata mereka pula kepada orang buta itu: "Dan engkau, apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?" Jawabnya: "Ia adalah seorang nabi." Jawab mereka: "Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?" Lalu mereka mengusir dia ke luar. Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: "Percayakah engkau kepada Anak Manusia?" Jawabnya: "Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya."
Kata Yesus kepadanya: "Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!" Katanya: "Aku percaya, Tuhan!" Lalu ia sujud menyembah-Nya.
~~~
Kisah ini tidak sebatas menceritakan seorang buta yang dapat melihat, tetapi Yesus menekankan pentingnya hati yang belajar melihat kebenaran. Orang yang tadinya buta justru semakin mengenal Yesus, sementara orang-orang Farisi malah menolak percaya karena terikat pada aturan, prasangka, dan kepentingan mereka sendiri. Melihat dengan mata saja tidak cukup; manusia dipanggil untuk melihat dengan hati yang terbuka terhadap kebenaran dan kasih Allah. Masyarakat kita umumnya mudah menilai orang dari suku, agama, status ekonomi, atau pilihan politik, lalu cepat menghakimi tanpa memahami. Kita bisa saja melihat fakta di depan mata, tetapi tanpa hati yang jernih, kita tetap “buta”. Injil ini mengajak umat untuk memiliki cara pandang seperti Kristus: berani melihat dengan hati, membela yang tersisih, dan tidak ikut dalam arus prasangka, sehingga terang kebenaran dapat nyata di tengah kehidupan bersama.
Selamat hari Minggu, Tuhan memberkati!
"335 TRILIUN buat makan siang itu setara dengan:
🎓 3,3 JUTA anak kuliah GRATIS sampai lulus S1 (kampus terkemuka yaa)
🏥 670 RUMAH SAKIT baru standar internasional (bisa bikin lapangan kerja baru)
🏫 167 RIBU sekolah rusak diperbaiki total.
👩🏫 Gaji 5,5 JUTA guru honorer jadi 5 JUTA/bulan (kesejahteraan guru meningkat).
Pelajaran yang gua dapetin dari liat banyak orang:
Duit halal mungkin secara nominal akan lebih dikit dibandingkan duit haram. Tapi, for whatever reason, duit yang di cari dengan cara yang halal dan digunakan untuk hal yang halal akan selalu cukup dan bahkan lebih dari cukup.
Besok udah senin pertama di 2026. Yang berencana mau hidup lebih sehat, boleh ikuti cara2 ini.
1. Angkat beban minimal 3x seminggu
2. Tambahkan cardio. Kombinasikan antara yang ngos2an latiannya gak terlalu panjang (high intensity) sama yang agak santai tapi durasi panjang.
3. Tambahkan latian flexibility, mobility, stability. Yoga and Pilates bagus banget
4. Focus memenuhi kebutuhan protein harian ( jangan cemas, most likely kita gak akan kelebihan makan protein hewani - eneg duluan)
5. Kurangi gorengan dan UPF. Ga usah sampe anti. Tapi eling.
6. Suplemen: creatine, omega 3, vitamins and minerals.
7. Tidur cukup. 6-8 jam setiap malam kalau bisa
8. Air putih yang cukup.
9. Jangan lupa pakai suncreen pagi hari dan reapply beberapa jam sesudahnya
#PamerAjaDulu
Rp 5,4 TRILIUN.
Itu harta salah satu menteri di kabinet sekarang.
Datanya publik. Tapi siapa yang pernah cek langsung?
Gue bikin website biar gampang -> kawalharta 💰