Masalah nggak nyaman efek jatuh dulu, sama istri njuk dibelikan pull up bar dan bilang, “coba gantung sebentar tiap hari.”
Hah? Gantung? Kalau mati bagaimana? 😆😆
Tapi setelah dicoba, gantung 10–20 detik saja lumayan bikin punggung terasa lebih ringan. Belinya disini eaaa..
https://t.co/qWoOCdtmm1
Seorang tua bijak pernah berkata:
“Jangan terlalu lama tinggal di tempat yang tidak bisa menghargaimu. Bukan karena kamu tidak berharga, tapi karena mereka tidak mampu melihat nilaimu.”
Lalu ia menambahkan dengan tenang:
“Jika di suatu tempat kamu tidak dianggap, maka pergilah. Carilah tempat yang bisa menghargai usahamu dan menerima kehadiranmu dengan tulus. Karena setiap orang pantas berada di tempat di mana dirinya dihargai.”
Kalian pernah mengalami hal seperti ini, tidak dihargai?
I-Tim Ma-Prao, es krim kelapa Thailand, jajanan street food yang disajikan dalam batok kelapa muda, dengan rasa santan gurih, tekstur lembut, topping kacang sangrai, ketan, dan daging kelapa muda.
Harganya murah waktu itu (menurutku) 50 Baht atau kurleb 25K IDR, enaaak tauk! 🥰
Di sosmed sedang ramai ada imbauan, “Kalau ada pedagang yang jualanya sepi, dibantu beli. Biar sama-sama hidup dan roda perekoniman berjalan”.
Semua setuju pasti setuju dong karena ini imbauan yang well banget, termasuk Pak Tedjo Gendhel, yang orangnya terkenal kaya raya dan memang gampang tergerak kalau dengar kata “kasihan”, meski sering salah paham.
Suatu sore, pulang dari melihat sawah dan kebunnya, Pak Tedjo Gendhel lewat pinggir jalan desa. Di situ ada lapak kecil, sepi sekali. Penjualnya duduk sendirian, sambil kipas-kipas topi.
“Sepi, Pak?” tanya Pak Tedjo Gendhel sok akrab.
“Iya, Pak… memang jarang ada yang mampir,” jawab penjual itu pelan.
Dalam hati ia bergumam, wah ini jelas perlu dilarsi. Tanpa pikir panjang dia bilang, “Ya sudah, saya borong saja. Kasihan njenengan.”
Penjualnya sampai berdiri kaget. “Semua, Pak?”
“Iya, kabeh! Biar dagangannya habis.”
Maka terjadilah transaksi paling membahagiakan dalam sejarah perjuangan bapak pedagang itu.
Tak lama kemudian satu pikap penuh batu nisan masuk ke halaman rumah Pak Tedjo Gendhel. Tetangga yang sedang asik membahas tentang perekonomian global dan tentang saham-saham gorengan terkaget-kaget, melihat dan cuma bisa melongo.
Istrinya Pak Tedjo Gendhel keluar sambil menggendong sekeranjang uang yang habis dicuci. Begitu lihat pemandangan ini, dia berhenti.
“Pak… ini maksudnya apa?”
“Lha kan ada anjuran bantu pedagang yang sepi. Tadi saya kasihan, Bu, maka kuborong semua”.
Istrinya langsung menepuk jidat.
“Ndhel gendhel… mborong kok batu nisan! Yang jualan batu nisan itu memang sewajarnya sepi! Niatmu bagus tapi nalarmu ambyar! Ini njuk mau dipakai untuk apa?!”
Akhirnya sore hingga malam di rumah Pak Tedjo Gendhel terdengar suara istrinya menasihati panjang lebar dengan suara menggelegar dan terkadang diselingi suara tutup panci mendarat di kepala Pak Tedjo Gendhel.
Tak lama kemudian Pak Tedjo Gendhel lari keluar dari rumah sambil berteriak, “ini semua karena salah pahaaam.. ampuuun!”
Malam itu Pak Tedjo Gendhel kemudian mencari suaka di rumahku.
Kejadian nyata, suatu hari naik motor kena lampu merah, kan kalau waras semua pada berhenti dan sabar nunggu lampu hijau, eh ini ada bapak-bapak ga sabaran main klakson, sekali dua klakson kudiamkan saja, eh klakson lagi sambil teriak; “ndang mlaku po lewat pinggir”, sementara lampu masih merah. Masih teriak lagi, akhirnya jengkel juga kan, kutengok sambil ganti teriak; “matane! lampu isih abang, aku kon lewat trotoar? kowe wae yen kesusu lewat pinggir kui rasah kongkon liyane! tur yen kesusu mangkate kowe kudune wingi, apa mabur!”. Kayaknya si bapak-bapak itu kaget deh aku balas teriakin dia, lalu dia minta maaf (ga asik banget ya, langsung minta maaf). Wkwkwk..
banyak banget nemu pengguna jalan yang antik kek gini, kalau pengalamanmu piye lur?
Siang tadi ada orang datang, kelihatan capek dan bingung. Dari cara bicaranya, terasa banget kalau dia lagi putus asa nyari kerja.
Dia punya tanggungan, anak dan istri. Sempat dia ngomong lirih; “aku kemarin sudah telepon bapak, ngomong sama istri, minta maaf karena gagal”. Pada saat dia ngomong ini, aku melihat dia langsung menunduk mau nangis.
Setelah kena efisiensi, dia nganggur. Aku nggak tahu sudah berapa banyak tempat yang dia datangi, tapi auranya itu… orang yang masih bertahan walau harapannya tinggal tipis, umurnya juga sudah bukan lagi kategori yang diinginkan para pencari tenaga kerja.
Lihatnya bikin dada agak sesak. Aku ga bisa memberikannya kalimat template harapan ke dia semacam; “sabar ya, nanti kamu pasti akan dapat jalan keluar dan semacamnya”, ga sampai hatiku.
Akhirnya aku cuma bisa jadi pendengar yang baik, ngasih ruang buat dia ngeluarin semua keluh kesahnya. Tapi di dalam hati, ada niat kecil: semoga aku bisa nemuin celah, peluang apa pun, biar dia punya alasan buat bangkit lagi.
Semoga dalam waktu dekat bisa mendapatkannya.. aamiin.
PEMPEK
Menurut cerita yang populer, pempek telah ada sejak abad ke-16 pada masa Kesultanan Palembang Darussalam. Konon, seorang lelaki Tionghoa tua yang dipanggil Apek atau Empek memanfaatkan melimpahnya ikan di Sungai Musi dengan menggilingnya, mencampurnya dengan sagu, lalu menjualnya berkeliling.
Panggilan orang-orang, “Pek… pek!”, lambat laun melekat dan menjadi nama makanan khas Palembang ini: PEMPEK.
*ini adalah foto pempek oleh-oleh, tidak sari Palembang tapi dari Lampung*
ROLASAN
Istilah “rolasan” pada awalnya hanya berarti angka dua belas atau sekitar jam dua belas. Namun dalam praktik sosial (terutama di dunia kerja) jam dua belas hampir selalu identik dengan waktu jeda, istirahat dan makan. Dari kebiasaan itulah, rolasan perlahan dipahami bukan sekadar waktu, tetapi waktu istirahat itu sendiri. Bukan karena makna aslinya berubah, melainkan karena bahasa mengikuti pola hidup penggunanya.
Demikian sekilas info.
Gambar hanya sebatas provokasi saja
Malam diam,
namun segala jawab bersembunyi di sana.
Gelap bukan lawan terang,
ia tempat mata berhenti menuntut.
Aku lenyap dari nama,
sebab Tuhan terlalu dekat
untuk dicari.
Nafas datang dan pulang,
seperti hidup.
Dalam hening,
yang Ada
tak pernah pergi.
Alhamdulillah, pagi ini sangat bersyukur karena akhirnya bisa membantu —tentunya dibantu dengan kalian yang telah memberikan masukan dan peluang yang bisa menguatkan dia kembali.
Prosesnya melelahkan dan sempat berada di titik yang sangat mengkhawatirkan, tapi semua bisa dilewati.
Setidaknya pagi ini dan hari selanjutnya masih ada harapan dan semangat untuk terus bangkit dan melanjutkan hidup.
Terimakasih kawan-kawan semuanya. ❤️
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 21/10/PBI/2019 dan PBI No. 14 Tahun 2023, seluruh pihak wajib menerima Rupiah dalam bertransaksi. Penjual wajib menerima uang emisi lama (yang belum dicabut) serta uang lusuh/rusak (sebagian) selama keasliannya dapat dikenali, untuk kemudian ditukarkan ke BI atau bank umum.
Secangkir kopi pahit menunggu senja,
diseruput santai tanpa perlu banyak tanya.
Pahitnya jujur, hangatnya sederhana,
seperti hidup yang tak selalu ramah tapi bermakna.
Di bawah langit yang belajar merelakan cahaya,
aku mulai mengenali diri tanpa banyak drama.
Tak ingin jadi siapa-siapa selain apa adanya,
cukup paham, cukup sadar, dan terus berjalan.
#senja
#kopipahit