Kebanyakan yg mau minjem itu cowok, bro lu punya otak lu punya otot. Gadai aja itu HP atau Mobil yg lu pamer2, minta sm keluarga sendiri kalo kebutuhan primer krn ortu lu tajir mampus. Gw aja msh naik motor butut. Jgn milih-milih kerjaan. Gw aja masih mau nyari sampingan.
Salah satu titik terendah gw, wkt itu mau beli kue ulang tahun tapi gapunya duit pegangan. Gw minjem ke sahabat yg sebelumnya udah gw tolongin duluan. Balikinnya gw cicil sesuai tempo yg gw bilang dan gw jelasin buat apa duitnya. Abis itu gw kerja apa aja yg gw bisa tanpa gengsi.
Dulu utk hal-hal primer alhamdulillah Ortu dan Kakak2 gw selalu bantu, bahkan kemarin Mama msh nawarin ngasih uang cash utk pegangan. Kami hidup sederhana dan apa adanya. Soal kue ultah wkt itu, tentu gw malu minta ke ortu kalo bukan kebutuhan primer. Semoga Allah selalu berkahi.
Gw gak pro dlm hal ini, tapi menilik kasus Nadiem dan bgmn PoV Kejaksaan, kalau kita punya time machine. Sewaktu Nadiem diperkenalkan mnjdi Menteri Pendidikan oleh Jack, ia hadir dgn Kurikulum Merdeka. Sebuah antitesis dr hal konvensional, guru dipaksa mengajar dgn metode berbeda
Semua di tangan Hakim. Namun jika 08 mau bangkit dr keterpurukan rupiah dan memenangkan kembali kepercayaan publik. Inilah momentumnya sekali lagi, memberikan abolisi. 2 kasus sebelumnya bukan key people negeri ini. Pak TL & H mungkin berpengaruh tp tdk seberpengaruh Nadiem.
@HabisNontonFilm@jokoanwar Pas gw baca namanya Prakasa Kitabuming, anagramnya ketebak bgt 😭🤣
Tapi si Pak Prakasa itu pernah lah yah jd aktivis di masa muda, gak ngepunk trus ujug2 bikin bisnis f&b gulung tikar mulu
Instagram Ahmad Dhani
Sama seperti Raffi Ahmad dan Nagita Slavina (benar ya nulisnya?), saya tidak nonton pernikahan anak Ahmad Dhani dan Maia Estianty (dua idola saya di waktu kuliah).
Tapi apa yang ditulis Dhani di Instagram-nya saya baca, dan langsung teringat dengan salinan putusan pengadilan agama Jaksel yang dulu pernah beredar di Twitter (masih bernama itu, belum X).
Saya ulas di sini karena cukup mengernyitkan dahi ketika membaca tulisan Dhani itu.
"Kok, beda dengan yang saya baca dulu?"
Saya urai sejauh bacaan saya, apakah "pengakuan" Dhani ini sesuai dengan fakta hukum 2008 atau tidak?
(Disclaimer: ini putusan tingkat pertama [PA], bukan putusan kasasi MA. Untuk amar di banding atau kasasi, saya belum pegang berkasnya)
1. "Maia ditalak 3"
Talak satu bain sughra, bukan talak tiga. Dan ini bukan Dhani yang menjatuhkan, melainkan putusan pengadilan atas gugatan cerai Maia.
Dhani justru menolak perceraian.
2. "Maia selingkuh dengan pemilik TV swasta, diakui tertulis dan ditandatangani"
Tidak ada di dokumen. Majelis menyatakan tegas (kutipan langsung):
"...tidak ada yang mengarah kepada terjadinya nusyuz Penggugat kepada Tergugat."
3. Narasi "suami selingkuh dengan orang ketiga" disebut drama palsu Maia
Tamara Geraldine bersaksi di bawah sumpah mendengar langsung pengakuan perempuan yang mengaku dinikahi siri Dhani, di rumah Melly Goeslaw, sekitar 2006.
Menurut kesaksian Tamara, Dhani pernah mengirim SMS ke perempuan itu mengakui "memang enak punya dua isteri".
Setelah pengakuan itu, Tamara menerima teror dari Dhani. Majelis tidak memutus sah-tidaknya nikah siri, tapi mencatat isu ini nyata-nyata memicu kehancuran rumah tangga.
4. "Laporan KDRT palsu"
Maia melapor ke Polda Metro Jaya 20 April 2007 (bukti P.22). Tiga saksi di bawah sumpah (ayah, ibu, pembantu Maia) menerangkan: barang Maia dikeluarkan dari rumah, pakaian dikirim ke Surabaya, kamar dibongkar, lemari dijebol, baju dirobek, sepatu dibuang. Banyak hal terjadi saat Maia umrah.
Dhani tidak membantah peristiwanya. Pengakuannya sendiri: itu cara "memberi pelajaran" karena Maia tidak menuruti perintahnya.
Tidak ada temuan majelis bahwa laporan itu palsu.
5. "MA hanya mengabulkan permohonan cerai saja, hak asuh tidak dikabulkan"
Putusan PA Jaksel mengabulkan: cerai (talak satu bain sughra), hak asuh tiga anak ke Maia sampai dewasa, Dhani wajib serahkan anak, nafkah anak Rp 7.500.000 per anak per bulan, sita marital atas tujuh aset sah, harta bersama dibagi dua.
NB: HAK ASUH
Oiya, ini tidak ada di Instragam, tapi ada di PA (bahkan saya juga kaget karena dulu gak baca sampai sana): Maia dituduh memakai narkoba oleh saksi-saksi yang dihadirkan Dhani.
Awalnya Maia menggugat agar tiga anaknya (Al, El, dan Dul) ditetapkan dalam asuhannya. Dhani menolak keras dan menghadirkan sembilan saksi yang menggambarkan Maia tidak layak mengasuh.
Salah satunya: Maia adalah pemakai narkoba.
Beberapa saksi yang dihadirkan Dhani bahkan mengaku ikut memakai narkoba bersama Maia.
Kemudian, Maia mengajukan hasil tes lab dari RS Azra Bogor dan RS Marzoeki Mahdi Bogor, dan keduanya membuktikan bahwa Maia negatif narkoba.
Majelis menerima bukti ini.
Maia juga dituduh mengabaikan anak. Namun Maia mengajukan 14 rapor sekolah anak (2006-2008) yang ditandatangani sendiri sebagai bukti keterlibatan.
Plus, ijazah S1 FISIP UI sebagai bukti kapasitas mendidik.
Amar putusan: hak asuh tiga anak ke Maia sampai dewasa. Dan Dhani dihukum menyerahkan anak, dan wajib memberi nafkah anak Rp 7.500.000 per anak per bulan.
Saya akan lampirkan berkasnya di reply, silakan baca sendiri. Dan sila koreksi jika ada kekeliruan.
mba yg sama yg gw kasih ide judul skripsinya krn udah disuruh ngumpulin hari itu jg tapi gamau yg terlalu gampang pengen sesuai industri kerjaan pdhl di tmpt kita selain datanya susah keluar emg susah aja ngolahnya, smpe gw tanyain tmn gw yg biasa ngejoki skripsi tp krg sreg.
Mind u, ini mba2 yg sama yg bikin gw Alpha 2x krn lupa bikin ST padahal gw PIC acaranya (bikin materi + undang org), smpe gw pontang-panting minta ttd 01 kantor (esmelon 1), gw tanyain bag. keuangan, kepegawaian, minta paraf 02 (esmelon 2). Dia gak sepeduli itu, cmn nanyain.
Bahkan abang gw yg tinggalnya cmn misah Gatsu, gw berdoa yg terbaik buat dia, gw gak ketemu setelah lebaran bahkan selama puasa. Menurut gw jarak menyembuhkan, kecuali kerinduan gw dgn nyokap dan keponakan2 gw. Cmn mrk pegangan gw dlm menatap hidup.