Dalam rangka memperluas media apresiasi film, mulai bulan Maret dan kedepannya WatchmenID akan rutin membuat seri video essay yang akan membahas, membedah, dan membangun diskusi tentang film dan dunia di dalamnya 🎬
Mohon dukungan dan supportnya, teman-teman semua! 🙏
"Udah umur 34 tapi aku masih belum punya rumah, karir & pasangan."
"Emang harus punya semua itu?"
Pernah nggak random nonton film & ternyata buagusssss sampai membekas di hati? Itu yg ku alami pas nonton Saint Frances ini. Tontonan humanis yg sepanjang durasinya bikin terkekeh ngeliat interaksi gemes duo karakternya, yg pelan-pelan digantikan air mata. Bukan karena sedih, melainkan terharu karena banyak momen hangat nan indah yg perlihatkan "the power of kindness".
Nyeritain seorang perempuan yg nggak suka anak-anak yg cara pandangnya soal hidup, manusia & diri sendiri pelan-pelan berubah saat berteman dengan bocil hiperaktif yg diasuhnya, ini surat cinta penuh pelukan menenangkan buat mereka yg masih bingung "aku ini maunya apa sih?" di usia yg katanya society semestinya sudah sukses, mereka yg terbiasa mendem perasaan karena takut curhatannya malah dijudge macem macem & mereka yg dituntut dewasa lebih cepat oleh keadaan.
Cakep sekali!
Electrical engineer explains why keeping your laptop plugged in is actually better for the battery than constantly charging it.
But I always thought it was the other way around.🤔
Predator: Badlands jadi satu lagi seri Predator keren dari seorang Dan Trachtenberg setelah sebelumnya ia sukses balikin ini franchise ke jalan yang benar dan juga masa depan yang cerah lewat Prey (2022) dan Predator: Killer of Killers (2025).
Di sini, Trachtenberg makin ngebuktiin ajs kalo dia emang pantes dijuluki si paling ngerti Predator. Gak cuma lngelebarin universe-nya aja, ia juga coba ngejajal hal-hal baru untuk mengisahkan narasinya lewat sesuatu yang belum pernah ditawarkan sebelumnya di wara laba sci-fi legendaris ini.
Badlands gak lagi pake formula lama: manusia berburu atau diburu si monster ikonik, tapi karakter Predator-nya sendiri yang jadi tokoh utama. Adalah, Dek (Dimitrius Schuster-Koloamatangi), Yautja muda yang dianggap lemah sama klan-nya, terusir, lalu nekat terbang di Genna, planet paling mematikan di galaksi demi membuktikan dirinya sebagai Yautja sejati, lengkap dengan bahasa mereka yang akhirnya bisa kita dengar dengan layak.
Trachtenberg juga ngebuang treatment horor-nya, ngegantiin dengan tone yang lebih nyantai, lengkap dengan humor lewat elemen buddy comedy dengan ngasih si Dek temen perjalanan bernama Thia (Elle Fanning) android Weyland-Yutani (Ya, kamu tau arahnya bakal me mana nantinya) yang bacot, tapi ceria dan sangat informatif. Dan mereka berdua plus seekor makhluk imut misterius berpetualang sembari bertahan hidup di dunia yang ganas.
Emang banyak modifikasi di sana-sini, termasuk ngasih kita sisi humanis (budaya warrior, keluarga disfungsional, dan pencarian identitas) di balik penampilan Dek yang serem sebagai trophy hunter creature, Badlands gak lupa sama jati dirinya. Ia masih sci-fi action brutal yang kita kenal. Meski kali ini dilebeli PG-13 karena gak ada satupun karakter manusia terbantai dengan warna merah darah di sini, Trachtenberg hadirkan action yang epik, dari sword fight di openingnya, sampe klimaks yang dipenuhi koreo menawan dan referensi familiar, sedikit di sayangkan ujungnya yang sedikit agak terburu-buru.
Mungkin sebagian kecil penontonnya bakal ngomel "ini mah bukan Predator lagi, kenapa kok sekarang ada buddy comedy dan robot waifu?", tapi justru itu yang jadi kekuatan baru franchise ini lewat Predator: Badlands. Trachtenberg bikin Yautja jadi relatable tanpa harus memotong taring mereka, nambah hati tanpa haru hilangin kadar brutality-nya, ngelebarin lore Yautja tanpa ngerusak esensinya. Memang ia gak lagi jadi sajian horror sci-fi murni kayak pendahulunya, tapi ini perubahan yang bagus dan menyenangkan. Dan kalau lihat dari ending dan visi ambisiusnya Dan Trachtenberg, ini jelas bukan seri terakhirnya.
4/5
🗣️🚨 Toni Kroos on El Clasico:
"Iñigo Martínez was a key player. Last season, he was the best defender in terms of build-up play. He’s not the fastest, but he’s excellent defensively and in playing out from the back.
"Against Real Madrid, his absence was painfully felt under their intense pressing. His absence made a big impact."
Sepakat. Yandy Laurens juga pernah ngomong soal reaksi habis nonton.
Minton juga selalu nganggap "semua dan perasaan orang atas film itu valid, asal dia sudah nonton filmnya".
Detik-Detik Termul Diskak Mat Virdian Minta Ganti Prompt AI Karena Ada Pertanyaan Soal Etis..
Lagian aneh termul ini negara lagi susah malah minta Prabowo Gibran 2 periode, wong Prabowo aja ga berani ngomong 2 periode dan memilih fokus selesaikan masalah bangsa..
Quote dari anak muda gen z ini menggetarkan bagaimana kondisi negara ini dan para pejabat hingga anggota DPR RI dan DPRD.
Rakyat yg memilih klen kok malah klen yg memeras, mencekik, biat kebijaka tdk pro rakyat.
Bacot klen nantang-nantang buat kegaduhan menjadi bom waktu.
Marah artinya bukan ikut-ikutan. Tapi masih punya nurani. Tidak seperti mereka. Rakyat cuman jadi objek dan objekan. Diperas dan ditertawakan. Ditindas dan dilindas. Mereka nggak mau lihat rakyat menderita, nggak mau dengar rakyat teriak kelaparan. Mereka cuman mikir gimana bisa nimbun harta. Hidup cuma sekali. Lawan! Suarakan. Yang penting nggak diam.
Satu-satunya missing puzzle yang gak diceritakan point of view-nya di Weapons adalah karakter Aunt Gladys. Dan kabar gembiranya, kita bakalan dapat satu film penuh buat ceritain karakter horor paling memorable tahun ini dalam prekuel Weapons yang sedang lagi didiskusikan WB, New Line dan tentu saja, sutradara Zach Cregger. Can’t wait!!