I am a systemic anomaly which is inherent to this universe. I love reading, history, Macintosh, jogging, martial art, computer, movies, anime, comics, etc.
Oooh. Jadi begitu strateginya. Bukan sekedar pernyataan recehan tetapi merusak kepercayaan orang sehingga pemilih malas berpikir dan pilih yang paling populer (sering muncul namanya)
Ini bagian dr strategi. Sdh saya ungkap kemarin di @QA_MetroTV: buat klaim palsu & ralat lagi..buat klaim palsu & ralat lagi dst. Trump saja buat 8 kali klaim palsu PER HARI. Diralat lagi. Sengaja u/ merusak rasa percaya orang shg akhirnya pemilih malas mikir
Ada sebelas kelas kata bahasa Indonesia menurut Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi IV (2017).
Ahli lain memberi pembagian yang berbeda: Ramlan (1985) 12, sedangkan Kridalaksana (1990) 13.
11-12-13. Jangan-jangan, dari sini asal ungkapan 11-12!
@FirzaHusain Pengendara berpengalaman musti bisa baca gelagat perpindahan kendaraan di depannya. Jangan pakai opportunistic riding tapi defensive riding. Yang penting kan semua aman dan selamat
Barang siapa dikirimin File APK, baik itu berupa Undangan Online atau kurir, atau lainnya
Kirim ke saya File APK nya
Biar saya isengin target server pelaku, kebanyakan pake Telegram, jadi saya banjirin target dengan gambar Tai
@Bondan042004@Asura0599 Ini filem aslinya The 300 Spartans https://t.co/7hxD7WtkQ9 Memang berdasarkan catatan sejarawan Yunani. Trus, Miller bikin versi komiknya dengan gambar yg sangat dramatisir. Barulah di tahun 2000an Snyder buat adaptasi filem dr komik Miller
'Male masturbation may have an adaptive benefit: it flushes out damaged, stored sperm.'
New Oxford research suggests that the longer sperm are stored before ejaculation, the lower their quality, with implications for men trying to conceive and IVF treatment.
Find out more ⬇️
@haysupartini@ipunk_baik Nah, gak cuma tembok tebal tapi juga langit-langit yang tinggi. Hawa panas jadi naik ke atas. Tentunya bangunan dulu punya celah ventilasi untuk melepaskan udara panas keluar
Teknik Framing dan Manipulasi Persepsi
Akun pro pemerintah seperti @DianSandiU memang kerap menggunakan pola framing yang cukup klasik dalam komunikasi politik di X/Twitter.
Pola ini bisa dibedah dari perspektif keilmuan komunikasi politik dan teori framing.
Berikut breakdown tekniknya:
1. Framing Selektif (Selection & Salience) – Model Entman
Dia secara sengaja memilih elemen tertentu untuk ditekankan, sementara elemen kontra diabaikan atau diminimalkan.
Contoh klasik di post MBG:
Dijelaskan bahwa pekerja MBG adalah “rakyat kecil” seperti tukang masak, petani, dan peternak.
PDIP melarang kader terlibat lalu langsung dihubungkan dengan narasi “Partai Wong Cilik?” sebagai pertanyaan retoris yang memprovokasi distrust.
Frame yang dibangun mengarah pada kesan bahwa PDIP anti-rakyat kecil, hipokrit, dan tidak konsisten dengan citra dirinya sendiri.
Elemen yang tidak ditonjolkan alasan PDIP terkait transparansi dan pencegahan kepentingan politik dalam program pemerintah, konteks unit SPPG, serta fakta bahwa vendor kecil tetap dapat ikut selama bukan kader partai.
2. Framing Emosional + Moral (Moral Evaluation)
Menggunakan bahasa yang membangkitkan emosi simpati pada “rakyat kecil” sekaligus memicu kemarahan terhadap “elite partai”.
Kata kunci seperti “rakyat kecil”, “tukang masak”, “petani”, dan “pekebun” membangun empati dari bawah ke atas, sehingga audiens diarahkan merasakan ketidakadilan pada level sosial.
Narasi kemudian ditutup dengan sindiran moral:
“Masih percaya mereka itu Partai Wong Cilik?”
Kalimat tersebut mengarah pada serangan terhadap integritas moral PDIP sebagai partai yang selama ini mengklaim pro-rakyat.
3. Framing Kontrastif / Binary Opposition
Membuat dikotomi tajam dalam penyajian isu:
Rakyat kecil vs Partai elit
Pemerintah/Prabowo yang menjalankan MBG vs PDIP yang dianggap menghalangi kader ikut serta.
Struktur seperti ini membentuk narasi bahwa pihak pro-pemerintah atau PSI berada bersama rakyat biasa, sementara PDIP diposisikan sebagai pihak yang sekadar menjaga citra.
4. Pre-emptive Framing / Labeling Trap (Identity Framing)
Serangan difokuskan ke PDIP dengan cara yang membuat setiap kritik terhadap logikanya berpotensi dipersepsikan sebagai pembela atau simpatisan PDIP.
Strukturnya seperti ini:
- Narasi diarahkan keras ke PDIP.
- Siapa pun yang membantah argumen otomatis terasosiasi dengan target serangan.
- Kritik terhadap logika berubah menjadi tuduhan keberpihakan.
Sekian bimbingan hari ini, semoga berguna bermanfaat.
Sungguh menyedihkan melihat anak anak lulusan berprestasi, yang bercita cita besar, mungkin benar benar membawa sejuta mimpi untuk membawa kebaikan untuk Indonesia secara kolektif dipecundangi dan diolok olok seperti kriminal. Apa tujuan kalian sebenarnya? - bagi sebagian dari mereka LPDP adalah satu satunya jalan merealisasikan mimpinya.
Dunia itu timpang. Akses tidak pernah setara, ilmu itu mahal sekali. LPDP adalah daya ungkit agar mereka bisa berdiri sejajar dengan yang sejak awal lebih beruntung.
Saya sendiri hanya bisa bermimpi untuk dapat beasiswa seperti LPDP, tidak pernah kesampaian; back then I would have given a finger to get one.
Tentu penyalahgunaan itu ada. Tentu ada orang orang yang tengil yang pantas mendapat penalti. Kita harus menuntut perbaikan signifikan.
But must we burn our own children at the stake? Have we no heart left as a nation?
Is it really that funny?
Viral, video pengendara motor Satria FU jatuh ke jurang usai bersenggolan dengan pengendara Harley Davidson.
Dalam video yang beredar, pengendara Harley memotong jalur pengendara Satria. Kecelakaan terjadi di wilayah Kecamatan Tanggeung, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Minggu (8/2/2026) pukul 17.30 WIB.
Suatu kisah di Amerika Serikat
Pada 14 Desember 2022, SEC yang merupakan otoritas pasar modal di Amerika Serikat mengumumkan langkah penegakan hukum melalui gugatan terhadap 8 orang influencer yang diduga terlibat dalam suatu skema manipulasi harga saham bernilai sekitar 100 juta dolar AS. Kasus ini berasal setidaknya sejak Januari 2020, ketika sejumlah akun di Twitter dan Discord menampilkan diri mereka sebagai trader sukses dengan follower berjumlah puluhan hingga ratusan ribu orang. Dengan reputasi yang dipoles berdasarkan persepsi itu, mereka secara rutin mengulas mengenai saham-saham tertentu, termasuk membagikan target harga serta memberi kesan seolah mereka membeli atau masih memegang saham yang sama seperti yang direkomendasikan tersebut kepada para follower mereka.
Masalahnya seperti yang disebutkan dalam gugatan, narasi tersebut tidak sejalan dengan tindakan sebenarnya yang mereka lakukan. Setelah rekomendasi yang mereka berikan mendorong lonjakan harga saham termasuk volume, para terdakwa justru secara diam-diam menjual saham yang telah mereka beli sebelumnya, tanpa pernah mengungkapkan niat untuk keluar dari posisi mereka tersebut. Ketika para follower mereka masih percaya dan terus membeli (dan harganya naik), para influencer ini sudah lebih dulu melakukan realisasi keuntungan dengan menjual saham-saham tersebut. Dari praktik semacam ini, SEC menilai bahwa mereka meraup keuntungan tidak sah yang secara agregat mencapai sekitar 100 juta dolar AS.
Tujuh orang telah didakwa secara langsung melakukan penipuan pasar modal, sementara satu orang lainnya dituduh membantu dan mendorong skema tersebut, termasuk dengan menyediakan panggung melalui podcast dan promosi di media sosial yang memperkuat citra para pelaku sebagai trader yang sukses.
Regulator menegaskan bahwa kasus ini merupakan peringatan keras bagi investor ritel agar tidak menelan mentah-mentah rekomendasi yang beredar di media sosial. Popularitas, gaya bicara meyakinkan, dan klaim kesuksesan tidak otomatis berarti nasihat tersebut jujur atau sejalan dengan kepentingan pengikutnya. Di pasar yang digerakkan oleh atensi dan algoritma, nasihat yang tampak gratis bisa saja mahal harganya, terutama ketika pihak yang berbicara memiliki insentif tersembunyi untuk menjadikan follower mereka sebagai exit liquidity.
Sumber: https://t.co/hEHw3icsLI
For the first time, @TIME and Statista have identified the World’s Top 500 Universities using a robust set of quantitative indicators. It highlights not only academic excellence, but also how universities turn knowledge into real-world impact.