Tulisan di Kompas kemarin menarik. Ahli Filsafat lebih dibutuhkan di era AI ini. US menyadarinya lebih dulu, kita masih sibuk diskusi apakah filsafat berguna atau tidak.
perbedaan mendasar zen rs dan malaka project (ferry, cania, dll) dalam melihat tan malaka : kang zen melihat kalo madilog itu digunakan tan sebagai cara berfikir revolusioner. sementara anak2 malaka project melihat madilog itu pelajaran logika aja, untuk melawan logika mistika.
Eskiden çok kitap okursam her şeyi çözeceğimi, zihnimin berraklaşacağını düşünürdüm. Gecelerce okur, notlar alırdım. Ama zihnimdeki karmaşa hiç bitmedi; ta ki İmam Gazali’nin bilgiyi 'istiflemek' ile 'hazmetmek' arasındaki o ince çizgiyi nasıl çizdiğini görene kadar. +
Seorang ahli saraf ngabisin waktu 20 tahun buat ngebuktiin kalau nulis pakai tangan ternyata bisa ngubah cara kerja otak dengan cara yang nggak bakal bisa ditiru sama ngetik.
Tapi lucunya, hampir nggak ada yang pernah baca hasil penelitiannya.
Ini yang dia temuin:
“Buku yang bagus itu sebetulnya novel. Karena di situ ada logika, ada estetika, ada sejarah, ada humor segala macam. Novel itulah yang membuat kita ‘bergentayangan’ di dalam alam yang tidak bisa dinegosiasikan.”
Rocky Gerung,
The more you read the more you win:
1. Philosophy for thinking clearly
2. Poetry for feeling deeply
3. History for learning from the past
4. Science for understanding the world
5. Fiction for growing your empathy
6. Biography for life inspiration
7. Essays for better writing
8. Economics for smarter choices
9. Psychology for knowing yourself
10. Journalism for staying informed
11. Mythology for sparking creativity
12. Silence for inner peace
13. Travel writing for cultural awareness
14. Self-help for personal growth
15. Classics for timeless lessons
16. Spirituality for deeper meaning
17. Anthropology for human understanding
18. Art history for seeing beauty
19. Neuroscience for brain power
20. Letters and diaries for real stories
21. Sociology for social awareness
22. Language learning for new perspectives
23. Stoicism for mental strength
24. Leadership books for guiding others
25. Nature writing for a calm mind
26. Crime writing for sharp focus
27. Finance books for building wealth
28. Health books for a stronger body
29. Parenting books for raising good humans
30. Children's books for pure joy
31. Short stories for quick wisdom
32. Memoirs for raw honest truth
33. Science fiction for bold new ideas
34. Political books for world awareness
35. Cooking books for everyday creativity
Ini akal-akalan Charles McDermid yg jadiin omongan Maslow jd piramida (utk kebutuhan artikel bisnis -_-) dan bikin org jd klasis, merasa kebutuhan tersier gaboleh diperjuangkan/dimiliki org miskin kalo mereka lapar/gapunya private property. Ini kutipan dari Maslow langsung:
ada artikel serem banget,
"..Ketika Kampus
Menjadi Pabrik..."
ditulis oleh Bondan Kanumoyoso, seorang sejarawan dan dosen dari FIB Universitas Indonesia.
Penulis mengkritik kebijakan pemerintah yang ingin menutup jurusan kuliah tertentu hanya karena dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini
Universitas adalah tempat untuk mengasah pemikiran dan intelektual, bukan sekadar pabrik yang memproduksi tenaga kerja untuk industri.
Masa depan sulit diprediksi, sehingga jurusan yang dianggap tidak laku sekarang bisa jadi sangat dibutuhkan di masa depan untuk mengatasi masalah sosial dan teknologi. Ilmu seperti sejarah, sastra, dan filsafat tetap sangat penting karena membantu masyarakat tetap kritis, berempati, dan memahami identitas bangsanya.
Kebijakan yang terlalu fokus pada pasar kerja dikhawatirkan akan membuat mahasiswa menjadi pragmatis dan membuat bangsa kehilangan sosok pemikir atau intelektual publik.
Penulis menyarankan agar pemerintah melakukan kolaborasi antarilmu dan memperbarui kurikulum, daripada langsung menghapus atau menutup jurusan tersebut.
Mengapa filosofi pendidikan “sesuai industri” itu problematis?
Saya agak gelisah baca wacana menutup prodi yang dianggap “tidak relevan dengan industri”, yang disampaikan Sekjen Kemendikti, Prof Bakri Munir Sukoco.
Bukan karena saya anti industri.
Tapi… industri yang mana?
Yang hari ini?
Atau yang bahkan belum ada 10 tahun lagi?
Masalahnya sederhana: industri sendiri sering belum tahu arah masa depannya.
Laporan World Economic Forum dan McKinsey & Company berulang kali bilang hal yang sama: banyak pekerjaan masa depan belum eksis hari ini.
Jadi kalau kampus sibuk “menyesuaikan diri” dengan kebutuhan sekarang, kita mungkin sedang menyiapkan lulusan… untuk dunia yang sudah lewat.
Dan biasanya, yang pertama dikorbankan itu selalu sama:
Filsafat.
Sejarah.
Sastra.
Yang dianggap tidak praktis.
Padahal banyak pemimpin, pembuat kebijakan, bahkan inovator yang lahir dari sana.
Sekarang bahkan keguruan dan kedokteran ikut disorot oleh Sekjen Kemendikti. Keduanya dibutuhkan masyarakat tapi katanya terlalu “market-driven”, harus jadi “market-driving”.
Tapi jujur saja kedua istilah ini masih dalam logika yang sama: pasar sebagai penentu. Bedanya hanya soal siapa yang lebih pandai meramal pasar.
Padahal masalah utamanya bukan di situ.
Masalah pendidikan di Indonesia itu ada di tata kelola.
Prodi dibuka karena tren. Karena peminat. Karena pemasukan. Bukan karena visi pendidikan.
Kalau akarnya di situ, menutup prodi dari atas itu cuma seperti memotong daun, tanpa menyentuh akar.
Yang kita butuhkan bukan sekadar menutup prodi, tapi membenahi cara kita menilai dan membiayai pendidikan. Quality control dan akreditasi tetap penting, tapi ukurannya harus nyata: kualitas belajar, daya pikir lulusan, dan dampaknya bagi masyarakat, bukan sekadar dokumentasi.
Yang dibutuhkan adalah pendanaan berbasis kualitas, kurikulum yang lentur, dan keberanian menjaga ilmu yang tidak selalu “laku”.
Karena saat industri jadi satu-satunya ukuran, dunia kampus menjelma hanya melatih tenaga kerja bukan melahirkan manusia yang mampu berpikir, menilai, dan membentuk zamannya sendiri.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
1) Speak like a Lawyer.
2) Express like a Philosopher.
3) Think like a Scientist.
4) Analyze like a Psychologist.
5) Observe like a Detective.
6) Love like a Poet.
7) Decide like a Judge.
8) Create like an Artist.
9) Work like an Engineer.
Orang kayak Abu Janda, Pigai, Bahlil dan anomali lainnya cuma di-set kekuasaan biar masyarakat lupa bahwa kita ada dalam fase krisis, rupiah anjlok, PHK dimana mana, pengangguran meningkat dan MBG yang sangat amburadul
Dalam buku “The Politics and Governance of Blame” dikatakan bahwa akan ada figur figur yang disiapkan untuk menjadi kambing hitam dan samsak publik. Jangan sampai energi kita berlarut-larut ngurusin anomali-anomali itu, fokus pada isu yang lebih krusial!
Pemangku kebijakan Endonesia ki iso gak dadi sing lurus-biasa wae. Punya kebijakan yang bagus, yang berskala "prioritas", bukan hanya berkedok program "penting" tok. Berita di mana-mana isinya cuma pejabat yg ngeles gak jelas. Berita dgn pernyataan yg lucu, kocak, tolol! Tolol.
Halo boleh tolong rt/like? aku ada file belajar TOEFL, IELTS, TOEIC, JLPT, mandarin, sama beberapa file belajar bahasa jerman juga. Semuanya free‼️Buat JLPT bisa klik link yang tertera. Have a great day all <3
link akses: https://t.co/gynqXnCopi
#studytwt#langtwt
“Kenapa Renaissance Mula di Itali, Bukan di Perancis, Jerman atau England?”
1. Sebut je Renaissance, mesti terus terbayang:
Leonardo da Vinci, Michelangelo & Raphael.
Tapi persoalannya:
Kenapa kebangkitan ni mula di Itali?