Fajar Alfian
"Kami sebenarnya sudah sisa-sisa tenaga, dua minggu yang sangat melelahkan tapi kami coba terus bertahan, mencari cara bagaimana untuk memenangkan pertandingan. Saya berterimakasih buat Fikri yang sudah meng-cover semua bagian area lapangan."
"Ini rezeki dan hasil kerja keras kami. Semoga menjadi momentum untuk ganda putra semakin baik, bangkit lagi dengan junior-junior kami semakin termotivasi untuk terus mengejar dan menempel ranking kami jadi di level atas, yang ikut tidak hanya dua pasang tapi bisa tiga, empat bahkan lima."
"Hasil tidak maksimal di Indonesia Open, di kandang sendiri membuat kami terpukul tapi dari situ pasti ada motivasi sendiri buat kami bisa menjawab keraguan semuanya."
Muhammad Shohibul Fikri
"Jujur saya tidak merasa meng-cover a Fajar hari ini, malah saya merasa sangat dibimbing tadi. Jika saya melakukan banyak kesalahan, dia tidak pernah mengerutu, tidak pernah menghakimi saya. Dia selalu membangkitkan semangat dan itu yang membuat saya jadi tidak lelah, tidak mudah capek."
"Kondisi kami sudah menurun tapi ini final, sayang banget kalau kami tidak memaksa. Alhamdulillah, dua minggu ini sangat luar biasa."
"Berikutnya Kejuaraan Dunia, kami berharap dengan hasil ini semoga bisa mendapatkan hasil yang baik juga di sana. Setelah pulang, kami akan langsung melakukan persiapan yang intensif."
Fajar/Fikri🇮🇩 hari ini meraih gelar China Open 2026, mengalahkan unggulan 1 dan No.1 Dunia Kim/Seo��🇷, ini gelar Super 1000 satu2nya yg didapatkan pemain Indonesia tahun ini.
📸🗣️: PBSI
Bayangin, tanganmu diborgol, kakimu diiket, terus kamu diceburin ke waduk. Ngga ada yang liat seberapa tersiksanya kamu waktu air mulai penuhin paru paru. Ngga ada yang liat seberapa putus asanya kamu waktu matamu masih bisa natap matahari dan langit biru, tapi kamu sadar, kamu ngga bisa ngapa ngapain. Alm Bapak Sumarna, security Waduk Jatiluhur yang meninggal. Dia meninggal karena berupaya membubarkan kerumunan anak muda tapi dia dilakban dan diceburkan ke waduk. Jasadnya baru ditemukan jam 11.00 Katanya para pelaku masih SMP
semoga seluruh pelaku segera ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. @prabowo@ListyoSigitP@DivHumas_Polri@DediMulyadi71 bantu di followup bang budi @BudiBukanIntel
Di negeri ini, bukan para perusak, melainkan pembela lingkungan yang dikriminalisasi.
Setelah penangkapan Dera dan Munif, pemeriksaan terhadap Gunretno, kini giliran Pak Fendy—Kepala Adat Dayak Kualan yang jadi korban kriminalisasi aparat.
🇮🇩 This is just one of the landslides that struck Sumatra, Indonesia. You can see how the soil behaves almost like a liquid.
From the looks of it, this slide began farther down the slope. If something like this started higher up, especially above a populated area, there’d be virtually no chance of escape.
📍 Lake Laut Tawar, Central Aceh Regency
This is not an outdoor expedition
This is not a scene from a movie like The Hunger Games
This is real life
Flood victims in Aceh are forced to cross steep, dangerous terrain just to reach basic food aid and survive.
Their villages are completely isolated by floods and landslides
Jumlah korban meninggal dunia dalam banjir dan longsor di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat telah menembus 1.006 jiwa, Sabtu (13/12) petang. Adapun jumlah pengungsi nyaris menembus angka satu juta di tiga provinsi. https://t.co/BV8SSjILhn
Ini adalah keadaan Pulau Sangihe pada hari ini, pergulatan yang dimenangkan Rakyat di Mahkamah Agung pada tahun 2022 lalu sia-sia. Seharusnya, wilayah Sangihe adalah Pulau kecil yang tidak boleh ditambang tetapi Sangihe Masih terus dihajar oleh perusahaan tambang emas Dari Kanada
Kalau dilihat dari perspektif risiko, pola MBG ini terlalu konsisten untuk diabaikan. Ribuan anak keracunan, puluhan kasus berulang, dan sekarang mobil MBG menabrak 20 siswa + 1 guru di area sekolah. Ini sudah bukan outlier lagi, tapi justru menjadi indikasi kuat bahwa kontrol risiko di seluruh rantai proses memang tidak bekerja.
Dengan anggaran Rp 71 triliun, seharusnya ada standar keamanan pangan yang solid, protokol logistik yang ketat, alur verifikasi sopir yang jelas, serta pembatasan kendaraan di zona anak. Tapi yang terlihat justru sebaliknya: risiko-risiko kritis dibiarkan terbuka, dan ketika satu titik gagal, titik lain ikut runtuh.
Ini tanda klasik dari sistem yang tidak pernah dirancang serius untuk tahan terhadap kesalahan yang berulang.
Setiap insiden selalu dibingkai sebagai kesalahan individu, padahal pola kegagalannya muncul berulang di dapur, pengadaan, distribusi, hingga transportasi. Itu semua menunjukkan bahwa akar masalahnya struktural, bukan personal.
Jujur saja, dengan tren seperti ini, sulit berharap ada perbaikan. Semua sinyal mengarah pada kesimpulan yang sama: program ini memang GAGAL, dan setiap kejadian baru hanya semakin menegaskannya. Selama risiko terus diabaikan demi menjaga citra program, korban anak-anak berikutnya tinggal menunggu giliran.
Saat Aceh dan Sumatera "Tenggelam", Percakapan Publik Mengungkap Sesuatu yang Lebih Gelap dari Sekadar Banjir
Banjir mungkin datang dari langit, tapi kemarahan publik datang dari bawah. Dari lumpur, dari jalan-jalan terputus, dari warga yang berteriak minta tolong sementara negara sibuk berdebat soal status bencana nasional. Dan di balik semua itu, satu pertanyaan menggantung di udara. Apakah Aceh dan Sumatera sedang kebanjiran air, atau sedang kebanjiran ketidakadilan?
Bencana Besar yang Membuka Luka Politik Lama
Laporan Drone Emprit menunjukkan betapa besar skala bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Antara 25–29 November 2025 saja, percakapan publik mencapai 102.599 mentions dengan 382 juta interaksi, mayoritas dari X/Twitter dan TikTok. Di lapangan, kerusakan sangat masif. Jembatan putus, jalan nasional lumpuh, puluhan kecamatan terisolasi, dan korban jiwa melonjak hingga 303 orang pada 29 November.
Tetapi data ini mengungkap sesuatu yang lebih besar dari bencana. Kemarahan terhadap persepsi ketidakadilan politik.
Di media sosial, sentimen negatif mencapai 35–46%, didorong oleh narasi:
- Penolakan pemerintah menetapkan status bencana nasional
- Isu Jawa-sentrisme dalam penanganan bencana
- Tuduhan bahwa izin tambang & sawit adalah akar kerusakan ekologis
- Persepsi bahwa Sumatera diabaikan karena bukan Jawa
Tagar seperti #SaveOrangUtanTapanuli dan kritik terhadap deforestasi masif semakin mempertegas bagaimana publik melihat bencana ini bukan lagi sebagai musibah alam, tetapi kejahatan ekologis.
Dua Realitas: Apa yang Dilihat Media, dan Apa yang Dialami Warga
Menariknya, laporan menunjukkan jurang persepsi antara pemberitaan media online dan narasi publik di medsos.
Media mainstream menonjolkan hal-hal positif: helikopter TNI, evakuasi udara, kunjungan presiden, dan bantuan puluhan ton logistik. Sebanyak 60% pemberitaan bernada positif.
Media sosial menampilkan realitas yang lebih gelap: warga terjebak, akses komunikasi hilang, solar habis, listrik padam berhari-hari, dan banyak yang tidak tersentuh bantuan karena terisolasi.
Peta percakapan X menunjukkan empat kluster besar:
1. Narasi Pemerintah: update cuaca, instruksi evakuasi, dan evaluasi tata kelola hutan.
2. Narasi Publik Positif: doa & donasi.
3. Narasi Media: penyebab banjir (Siklon Senyar & deforestasi).
4. Narasi Aktivis & Publik Kritis: tuduhan bencana ekologis & kritik politik.
Di sinilah terlihat Indonesia hidup dalam dua realitas informasi. Yang satu melihat negara bekerja, yang satu melihat warga berjuang sendiri.
Banjir atau Bencana Ekologis? Publik Mengarahkan Tudingan
Walau BMKG menyebut Siklon Tropis Senyar sebagai pemicu hujan ekstrem, publik menolak menjadikan cuaca sebagai kambing hitam. Data percakapan menunjukkan narasi ekologis sangat dominan.
Beberapa tokoh menegaskan hal ini, misalnya:
- WALHI menyebut banjir sebagai “bencana ekologis akibat campur tangan manusia”.
- Komisi VIII DPR menunjukkan keberadaan kayu gelondongan mengindikasikan perambahan hutan di hulu sungai.
- Tagar seperti #SaveOrangUtanTapanuli memperkuat desakan publik untuk audit izin tambang dan sawit.
Ratusan ribu warga membagikan video satelit, drone, dan foto deforestasi, menunjukkan perubahan tutupan lahan secara drastis di daerah-daerah terdampak.
Di panggung opini publik, bencana ini bukan lagi “banjir karena hujan”, tetapi “banjir karena kebijakan”.
Solidaritas Warga
Di tengah isolasi dan terputusnya akses, publik bergerak sendiri.
Gelombang solidaritas terlihat jelas:
- Donasi publik meningkat tajam
- Warganet membuat peta lokasi warga terjebak
- Organisasi masyarakat, PMI, MDMC, dan lembaga keagamaan bergerak lebih cepat di beberapa titik dibanding bantuan pemerintah daerah
Laporan menunjukkan tagar #PrayForSumatera bukan hanya doa, tetapi alat mobilisasi kolektif untuk bantuan darurat. Ini menunjukkan apa yang disebut laporan sebagai “solidaritas organik”. Saat warga mengambil alih peran yang seharusnya dikerjakan pemerintah dalam kondisi darurat.
Ketika Mesin Negara Dikerahkan
Di tengah kritik keras soal lambatnya respons di darat, negara sebenarnya sudah mengerahkan kekuatan udara secara masif untuk menjangkau wilayah yang lumpuh total. Menurut laporan, akses darat ke Sibolga dan beberapa daerah di Tapanuli sempat tidak bisa ditembus karena jalan nasional terbelah dan jembatan putus. Satu-satunya cara masuk adalah lewat udara.
Presiden Prabowo memerintahkan mobilisasi TNI–Polri–BNPB untuk percepatan evakuasi dan distribusi logistik, termasuk:
- Helikopter SAR untuk evakuasi dan airdrop bantuan
- Pesawat angkut untuk mengirim logistik dalam jumlah besar
- Bantuan pangan seperti 32,7 ton beras dan 6.300 ton minyak goreng dikirim via udara oleh pemerintah pusat
- Operasi cuaca untuk mengurangi curah hujan ekstrem di wilayah terdampak
Data ini tercatat sebagai salah satu faktor yang menciptakan sentimen positif di media online, yaitu 60% pemberitaan memuji respons cepat dan koordinasi negara dalam pengerahan bantuan udara.
Bahkan di media sosial yang cenderung kritis, visualisasi helikopter dan aparat menyelamatkan warga mampu mendorong peningkatan sentimen positif, khususnya di platform berbasis video seperti YouTube dan TikTok.
Bencana Ini Mengungkap Lebih dari Sekadar Kerusakan Fisik
Data dalam laporan menunjukkan bahwa bencana di Sumatera adalah:
1. Krisis ekologis yang lama ditumpuk, baru meledak sekarang.
Deforestasi, tata ruang yang lemah, dan izin lahan dilepaskan seperti bom waktu.
2. Krisis kepercayaan terhadap pemerintah pusat.
Penolakan menetapkan status bencana nasional menjadi simbol “ketimpangan respons negara”.
3. Krisis infrastruktur vital.
Ketakutan terbesar publik bukan airnya, tapi terjebak tanpa listrik, komunikasi, atau logistik.
4. Krisis komunikasi pemerintah.
Media memberikan narasi positif, tetapi publik melihat kenyataan berbeda.
Dan pada akhirnya, laporan ini menunjukkan: banjir membanjiri Aceh dan Sumatera, tetapi ketidakadilan membanjiri percakapan publik.
Pesantren lahir dari semangat kesederhanaan dan pengabdian, tempat di mana ilmu, akhlak, dan kerja keras seharusnya bertemu dalam satu ruang suci pembentukan karakter. Namun, kini makna itu perlahan bergeser: banyak pengurus yang hidup dalam kenyamanan hasil ceramah dan donasi, sementara santrinya berkeringat tanpa kejelasan batas antara “pengabdian” dan “pekerjaan gratis.” Tradisi gotong royong yang dulu menjadi latihan kemandirian kini kerap dipoles menjadi simbol “ngalap berkah,” bahkan ketika ia menutupi eksploitasi yang terang-terangan.
Orang tua, dengan niat mulia agar anaknya tumbuh berakhlak dan jauh dari pengaruh dunia luar, tanpa sadar sering menyerahkan anaknya ke sistem yang tak lagi sepenuhnya mendidik, melainkan menanamkan kepatuhan tanpa nalar. Banyak pesantren kini lebih sibuk membangun citra dan fasilitas dibanding membangun daya kritis; santri diajari tunduk, tapi tidak diajari berpikir logis dan kritis. Mereka dijejali ajaran moral, tapi jarang diberi ruang untuk bertanya: siapa yang paling diuntungkan dari semua “pengabdian” ini?
Pesantren adalah benteng moral kini sebagian berubah menjadi cermin keserakahan yang dibungkus kesalehan. Di balik kalimat “ikhlas karena Allah,” terselip industri karisma dan bisnis berkah yang sulit dibedakan dari kapitalisme biasa. Esensi kesantrian, belajar, berkhidmat, dan berpikir merdeka, terancam larut dalam ritual yang kehilangan makna. Jika tak segera dikembalikan ke akarnya, pesantren bukan lagi rumah pembentuk akhlak, melainkan pabrik kepatuhan yang menyiapkan generasi untuk diam dalam ketimpangan yang mereka sebut “ikhlas.”