Dear football,
Today, I want to share with you that this season will be my last as a professional footballer. After so many years living my dream, I feel it’s time to start a new chapter in my life.
Being honest, even though I have been preparing myself for this moment, I found it hard to write this letter. After 20 seasons , many people have played an important role in my career.
When I first kicked a ball as a child in Pamplona with my schoolmates, I never imagined the amazing journey ahead. I’m grateful for every moment: the wins, the tough losses, the challenges, and most of all, the people I’ve met and the friendships I’ve made along the way.
To my teammates, coaches, and every staff member at all the clubs I’ve been lucky to be part of, thank you for helping me grow as a person and a player every day. Wearing the shirts of CA Osasuna, Olympique Marseille, Chelsea FC, Atlético de Madrid, Sevilla FC, and representing my country at the biggest stages has been a true privilege. Every moment has meant so much to me…
I have witnessed this club go from doubters to believers, and from believers to champions. It took hard work and I always did everything I could to help the club get there. Nothing makes me prouder than that.
Us crumbling to yet another defeat this season was very painful and not what our fans deserve. I want to see Liverpool go back to being the heavy metal attacking team that opponents fear and back to being a team that wins trophies. That is the football I know how to play and that is the identity that needs to be recovered and kept for good. It cannot be negotiable and everyone that joins this club should adapt to it.
Winning some games here and there is not what Liverpool should be about. All teams win games.
Liverpool will always be a club that means a great deal to me and to my family. I want to see it succeed for long after I have moved on.
As I’ve always said, qualifying to next season’s Champions League is the bare minimum and I will do everything I can to make that happen.
Pada era di mana sepakbola seperti hafalan dan pemain layaknya robot di lapangan, mereka kembali mengingatkan kita alasan menyukai olahraga ini.
Ballers ✨
Did not expect a question that starts out 'Do you think before you speak?' to go so well. A+ question from Charlotte Harpur A++ response from Eileen Gu.
Di umur berapa kalian tau kalau yang bikin skripsi susah itu bukan nulis, tapi nyari research gap?
Research gap itu krusial, kalau gap-nya ga valid proposal kamu gampang "ditembak" dosen.
Gap yg diambil mahasiswa seringkali kurang di-backup dengan literatur, sehingga hanya akan dianggap sebagai asumsi penulis.
Di thread ini aku mau share tools + langkah singkat utk bantu kamu mencari research gap.
Save thread ini buat kamu baca nanti.
Banyak yg ga sadar betapa rumitnya geografi Italia buat pembangunan ekonomi.
Daerahnya kalo ga ada di zona rawan gempa, brati kemungkinan besar zona rawan banjir atau tanah longsor, ditambah tantangan topografi yang memaksa pembangunan dilakukan di atas kemiringan setidaknya 15%.
mirip daerah sukabumi dan lembang gak sih?
skrg jadi masuk akal, kalo Tim Nasional Italia / @infoAzzurri memiliki pertahanan yang oke.
saya meyakini,
bagi mereka seni bertahan atau Catenaccio bukan lagi sekadar taktik main bola,
tp udah jadi manifestasi/ wujud bertahan hidup yang udh diasah selama berabad-abad dalam menghadapi tantangan alam yang ekstrem.
jujur ini agak maksa cocokloginya, udh kyk buzzer MBG 😅😭
📹 : @andreamatranga
Orang merasa “bahagia” tugas sekolah dan kuliahnya bisa di one-shot ama AI, dapat nilai bagus.
Kenapa? Karena metode penilaiannya berasumsi kalau orang ga pakai AI. Proses dinilai dari hasil. Dan sekarang prosesnya bisa di-skip.
Jangan senang dulu. Karena kalau masalahnya bisa di one-shot tanpa paham prosesnya maka akan ada jutaan orang lain yang bisa nge one-shot.
Jadi walau dosenmu bingung dan kamu ngerasa “menang” karena dibantu LLM, percayalah, kemenanganmu itu semu.
Skill “copas soal” kamu itu ada jutaan orang lain yang bisa. TERMASUK calon employer kamu. Tetep aja bakal nganggur walau punya duit buat subs AI mahal,
Misalnya dia programmer tua kaya saya, yg ga pernah pegang React. Sampai 3 thn lalu saya mungkin akan berpikir buat hire orang yang bisa React karena saya perlu pengetahuan Reactnya.
Sekarang kalo ada yang datang terus tidak paham apa-apa dan hanya nge-prompt dan meneruskan instruksi saya aja, terus apa gunanya saya spend uang untuk bayar kamu, mending saya skip kamu dan langsung sub LLM.
Jadi ending-endingnya kalau ga mau belajar ya tetap unemployable.