Analoginya sederhana, Nadiem diibaratkan pasien, sedangkan Jamdatun sebagai dokternya.
Pasien BERKONSULTASI kepada dokter mengenai menu makanan yang harus dikonsumsi, dokter tau bahwa menurut rekam medis pasien tersebut memiliki GEJALA diabetes.
Berdasarkan pertimbangan tersebut maka dokter MENYARANKAN agar pasien tidak lagi mengkonsumsi gula tebu, namun menggantinya dengan gula dari daun stevia.
Pasien yang merasa bahwa dirinya sehat tidak mengindahkan sara dari dokter, dia tetap mengkonsumsi gula tebu.
Setahun berlalu, pasien mulai merasa ada perubahan drastis pada tubuhnya. Dia mengalami disfungsi ereksi dan muncul bercak hitam di area lipatan tubuh (seperti leher atau ketiak), yang menjadi tanda resistensi insulin.
Perubahan tersebut diketahui oleh istri si pasien, dia memaksa agar suaminya pergi ke RS untuk memeriksakan kesehatan, hasil medical check up menunjukkan bahwa kadar gula darah pasien meningkat dan melebihi ambang batas sehingga menyebabkan rusaknya pankreas.
Dokter menyarankan agar pasien menjalani perawatan, namun pasien menolak dan justru balik menyalahkan dokter. Alasannya dia sudah pernah berkonsultasi dengan dokter... Kan aneh banget ini pasien.. π
Begitulah kira-kira yg terjadi dengan Nadiem, dimana dia memang pernah BERKONSULTASI dengan Jamdatun untuk meminta saran terkait rencana kebijakan pembelian laptop.
Karena Jamdatun mengetahui bahwa perusahaan Gojek milik Nadiem pernah disuntik investasi oleh Google pada tahun 2017, ketika itu Nadiem belum dilantik menjadi menteri.
Berdasarkan fakta tersebut, guna mencegah terjadinya konflik kepentingan dalam program pengadaan laptop, Jamdatun membuat garis merah dengan menyarankan pembelian laptop berbasis windows.
Mendapatkan saran tersebut, Nadiem malah ngeyel dam kekueh membeli laptop chromebook, akhirnya kini terlibat kasus hukum dan Nadiem dianggap t telah memperkaya korporasi. Nadiem gak terima lalu mencoba meraih simpati masyarakat dengan menyebarkan isu bahwa dibalik kebijakan yang diambilnya selalu berkonsultasi dengan Jamdatun, namun tidak menjelaskan bahwa dalam pengambilan keputusan dirinya sama sekali tak mau mengikuti saran dari Jamdatun.
Ya, konsultasi yang dilakukan oleh Nadiem cuma formalitas belaka, guna melegitimasi keputusan yang telah ditetapkan jauh sebelum dia menjabat sebagai menteri.
Begitulah modus yang coba disembunyikan oleh Nadiem dari perhatian publik.
Indonesia menyampaikan 12 syarat pengiriman pasukan perdamaian ke Gaza. Di antaranya:
1. Tidak bertugas di lokasi perang dan bukan untuk melucuti senjata pejuang Palestine
2. Fokus pada urusan kemanusiaan dan rekonstruksi Gaza
3. Menolak semua bentuk relokasi rakyat Gaza
4. Harus dengan persetujuan rakyat Palestine
5. Keikutsertaan Indonesia bukan berarti normalisasi dengan Israel
6. Indonesia akan menghentikan keikutsertaannya jika kondisi di lapangan sudah keluar dari garis politik luar negeri Indonesia.