Tahun 2026 stop beli buku! Saatnya habiskan TBR yang sampe seribu 😌.
Buat penerbit dan jastiper, stop menggoda dengan PO dan buku yang lucu-unik-nan menggoda itu 👊
Belakangan saya sering lihat teman-teman pembaca yang suka bikin anotasi langsung di buku yang sedang dibaca—entah dicoret pulpen, pensil, spidol, atau sebatas menandai kutipan/kalimat menarik dengan highlighter. Apa salah? Jelas tidak, apalagi kalau itu buku milik pribadi.
Terus muncul pertanyaan, bagaimana kalau buku itu berpindah tangan dan dibaca orang lain? Nah, ini yang menarik untuk dibahas.
Note: utas ini tidak bermaksud untuk memancing keributan antara tim anotasi langsung atau tim yang menjaga "kemurnian" buku. 😂
Aku skrg udh di fase:
*kepikiran beli ramen yang harganya 60rb
*tiba2 kepikiran, duit 60rb bisa buat beli 1 buku 200hlm
*akhirnya gajadi beli ramen dan malah checkout buku 😩
Di Indonesia, orang tua sering mati-matian nabung buat ninggalin warisan tanah, rumah, atau kos-kosan. Tapi, ada satu warisan antargenerasi (generational wealth) yang paling diremehkan: exposure (paparan dunia luar). Ngajak anak merantau, nyobain makanan daerah yang aneh di lidahnya, ngobrol sama orang beda suku/agama, atau sekadar lihat cara hidup orang di beda kota ⬇️
@insidefolkative as a woman 25+ years old, skrg ini lebih mikir ke:
1. ibadah lancar
2. financial stable
3. career path ok
4. pendidikan jalan trs
5. wishlist kecapai semua
6. orgtua bahagia
7. happy without bothering others (qona'ah dan bersyukur)
nikah atau enggak, 7 diatas penting for me
Saat seseorang belum menikah di usia tertentu, jawabannya ga pernah sesederhana satu atau dua alasan. Selalu ada banyak hal yang berjalan di belakangnya.
Ada yang masih memikul tanggung jawab finansial keluarga. Ada yang belum percaya bahwa pernikahan akan membawa kehidupan yang lebih baik. Ada yang takut pada komitmen, ada juga yang masih ingin memberi ruang seluas-luasnya untuk dirinya sendiri. Apa pun alasannya, semuanya valid.
Pernikahan bukan ajang judi tentang siapa yang paling cepat sampai. Bukan pula perlombaan tentang siapa yang lebih dulu menikah. Pernikahan membutuhkan banyak kesiapan. Ga hanya materi, tapi juga mental, hati, dan kesadaran untuk bertumbuh bersama orang lain.
But somehow, I feel like her question carries a bit of regret.
It's okay, Mama Pau. Jalan hidup setiap orang memang berbeda. Ada yang memilih fokus membenahi diri, ada yang mengabdikan waktu untuk keluarga, ada yang membangun hidup bersama pasangan, dan ada yang masih menikmati perjalanan hidupnya sendiri.
Ada yang menikah lalu bahagia, ada yang menikah lalu gagal. Ada yang terlambat menikah dan menemukan kebahagiaannya, ada pula yang memilih tidak menikah dan tetap menjalani hidup dengan penuh makna.
Apa pun pilihannya, apa pun hasil akhirnya, ga ada yang lebih baik atau lebih buruk. Kita cuma sedang berjalan di waktu dan jalur yang berbeda.
Living abroad benar-benar mengubah perspektif & cara berpikir gue.
Ternyata, kita bisa mulai APAPUN dari nol tanpa melihat usia.
Standard sosial di Indonesia jadi terlihat toxic. Tentang, usia sekian harus lulus S1, usia sekian harus kerja, menikah, punya anak, yadda-yadda.
@Naandaa27 Lucu juga ya, wacananya penerima manfaat dari MBG itu anak2 sekolah, tp ketika MBG ini disetop yg teriak2 itu bukan anak2 atau ortunya, malah pengusaha2 sppg yg teriak2, jadi real penerima manfaat ini ya bukan anak2 tp pengusaha2 sppg ini
- ChatGPT: anak manis yang ingin semua orang senang.
- Claude: dosen serius yang lupa kelas sudah selesai.
- Gemini: pustakawan pintar yang terlalu berhati-hati.