Ketua Umum GRIB Jaya, Rosario de Marshall alias Hercules, melalui Kuasa Hukum GRIB Jaya, Wilson Colling, membantah organisasinya terlibat kerusuhan usai demo 27 Agustus.
Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya membantah pihaknya terlibat kerusuhan yang terjadi di depan Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (27/8/2026) malam.
“Saya mengatakan bahwa GRIB tidak terlibat di dalam kerusuhan tersebut. Secara institusi, kelembagaan ya, kami orang hukum pasti mengetahui jika ada pergerakan-pergerakan seperti itu,” kata Wilson Colling, Jumat (28/8/2026).
"Kesaksian dan fakta dilapangan berbicara beda
Bapak bayar BPJS tiap bulan. Rp 100.000.
4 tahun. Total hampir Rp 5 juta.
Bapak mungkin mikir: "Ya kan buat jaga-jaga. Kalau sakit baru dipakai."
Justru itu. Gak perlu nunggu sakit.
Kacamata? Bisa diklaim. Bersihin karang gigi? Ditanggung. Tambal gigi? Gratis. Dan jutaan orang GAK TAU. Termasuk mungkin Bapak
Nadiem Makarim akhirnya dituntut hukuman total 27, tahun penjara (18 tahun penjara, denda Rp1 miliar subsider 190 hari kurungan)
Sampai azan magrib saya nonton persidangan itu. Dan sehabis magrib, nonton Nadiem diwawancarai pers.
Kalian tahu kasus Nadiem? Dia dituduh melakukan tindak pidana korupsi dan merugikan keuangan negara. Tapi apa fakta yang ditemukan?
- Tidak ditemukan PPATK yang masuk ke rekeningnya,
- Tidak ditemukan aliran dana dari vendor ke Nadiem,
- Tidak ditemukan aliran dana dari Google ke Nadiem,
- Tidak ditemukan aliran dana dari PT Akab ke Nadiem, dan
- Tidak ditemukan aliran dana dari PT GI ke Nadiem.
Ada pernyataan menarik dari Pak OC Kaligis:
“Kalau bicara soal Pasal 2 & 3 Undang-Undang Korupsi, maka cantolannya adalah BPK (Badan Pemeriksa Keuangan). BPK mengatakan bahwa tidak ada kerugian negara. Namun, oleh jaksa penuntut, BPK dibilang tidak independen.”
Karena gagal membuktikan semua aliran dana ini, maka ada nuansa menciptakan fakta, seolah-olah ada pemufakatan jahat atau penyamaran penipuan uang yang dilakukan Nadiem.
Itulah berita hukum terkini, Gais. Dan hal yang sama juga saya temukan di kasus Gus Yaqut (baru sampai pra-persidangan, namun sudah ditetapkan KPK sebagai tersangka).
- Tidak ditemukan bukti korupsi ketika rumah Gus Yaqut digeledah,
- Tidak ditemukan aliran dana ke Gus Yaqut,
- Tidak ditemukan suap ke Gus Yaqut,
- Tidak ditemukan gratifikasi ke Gus Yaqut,
- Tidak ditemukan intervensi apapun dari Gus Yaqut terkait pembiaan jamaah haji khusus, dan
- Tidak ditemukan mens-rea (iktikad jahat).
Bahkan untuk sangkaan $1 Juta, ternyata hal itu dikerjakan oleh bawahannya ketika Gus Yaqut di Eropa. Sekembalinya Gus Yaqut ke Indonesia, ia memerintahkan bawahannya untuk menarik uang itu kembali.
Saya tidak sedang bilang Nadiem bersih. Saya juga tidak sedang bilang Gus Yaqut tidak bersalah. Saya cuma mau bilang, mengutip Fiersa Besari:
“Negara sedang dirusak secara sistematis, dan sepertinya kita cuma bisa menonton saja.”
Teman-teman, Insya Allah 7 hari lagi saya akan berangkat haji ke Tanah Suci bersama PIHK Sahid Tour.
Saya mendapat amanah untuk mendampingi dan menjaga kesehatan 500 ++ jamaah Haji Khusus Sahid Tour dari berbagai kota, sejak keberangkatan sampai Insya Allah nanti kembali ke Tanah Air.
Tanggung jawab besar yang saya persiapkan 2 bulan terakhir bersama dg tim medis.
Insya Allah, selama di sana saya akan berbagi catatan perjalanan, edukasi kesehatan haji, dan hal-hal kecil yang bermanfaat untuk teman-teman yang suatu hari nanti juga Allah panggil ke Baitullah.
Teman-teman juga bisa follow @sahidtour untuk mengikuti perjalanan yang lebih lengkap.
Bagi saya, perjalanan ini terasa amat sakral.
Ini jawaban dari doa yang saya panjatkan saat embrio-embrio calon bayi saya dan istri terbentuk.
“Ya Allah Ya Robbi, beri aku petunjuk-Mu. Apa yang harus aku lakukan agar Engkau Ridho aku mendapatkan predikat seorang Ayah."
Lalu tiba-tiba Sahid Tour menghubungi.
“Dokter Gia, apakah dokter bersedia menjadi tim medis untuk menjaga kesehatan Jamaah Haji Khusus Sahid Tour?”
Saya gemetaran saat membaca, lalu menjawab.
“Bersedia.”
Karena saya tahu, ini bukan perjalanan biasa.
Jelas bukan perjalanan untuk mencari kenyamanan. Ini perjalanan melepaskan keduniawian selama sebulan dan untuk pertama kalinya sejak menikah, saya tidak bersama istri lebih dari 10 hari.
Mohon doanya, teman-teman.
Semoga seluruh jamaah diberi kesehatan, kekuatan, kesabaran, keselamatan, dan pulang menjadi Haji yang Mabrur.
Postingan ini akan saya pin.
Teman-teman boleh titip doa di kolom komentar.
Insya Allah, saya akan usahakan membacanya satu per satu saat berada di Tanah Suci, terutama ketika berada di Masjidil Haram.
Semoga setiap doa yang teman-teman titipkan, Allah terima dengan kasih sayang-Nya, Allah jaga dalam rahasia terbaik-Nya, lalu Allah kabulkan pada waktu yang paling indah.
Dan semoga suatu hari nanti, nama teman-teman semua ikut dipanggil ke Tanah Suci.
@GiaPratamaMD Aamiin,
sehat selalu unt. dr. @GiaPratamaMD dan seluruh jamaah haji @sahidtour
smg Allah SWT. meridhoi ibu dan saya (mewakili almarhum bapak) bertamu ke Baitullah 🤲🙏🏼
"Dok, saya capek terus."
Kalimat yang hampir setiap hari saya dengar di RS.
Biasanya saya tidak langsung meresepkan apa-apa.
Saya perhatikan dulu.
Matanya lelah. Cara duduknya seperti menahan beban di punggung.
Pegal, katanya. Sudah lama. Sudah berobat. Sudah mencoba macam-macam.
Tapi keluhannya berulang terus.
Indonesia itu terang.
Matahari datang pagi-pagi, bertahan sampai sore, dan kadang senja pun seperti enggan pergi.
Tapi di rs, saya sering menemukan hal yang sama:
Kadar vitamin D yang rendah.
Pada pasien yang tinggal di negeri paling yang mataharinya bisa sepanjang tahun sekalipun.
Melihat matahari dan disentuh matahari adalah dua hal yang berbeda.
Vitamin D terproduksi dari kulit yang disapa cahaya.
Lalu ia berjalan jauh, diolah di hati, diaktifkan di ginjal, sebelum akhirnya bekerja.
Membantu kalsium duduk rapi di tulang.
Menjaga otot agar tidak terlalu cepat mengeluh.
Menopang tubuh yang kita pakai setiap hari, tanpa pernah kita ucapkan terima kasih.
Ketika kadarnya kurang, tubuh mulai mengirim 'surat.'
Pegal yang datang tanpa sebab.
Lelah yang tidak sembuh oleh tidur.
Otot yang terasa berat padahal tidak mengangkat apa-apa.
Nyeri tulang yang tersirat, seperti bisikan yang tidak mau hilang.
Surat-surat itu sering kita abaikan.
Kita sering berangkat saat langit masih gelap.
Pulang saat matahari sudah pamit.
Duduk di Ruangan ber-AC. Jendela tertutup. Tirai tebal.
Kulit yang tidak pernah disentuh matahari, tidak pernah punya kesempatan membentuk vitamin D.
Matahari melimpah tetapi tidak sampai ke kita.
Anjuran asupan harian vitamin D cukup sederhana.
*600 IU per hari.*
Angka yang IDAI anjurkan sejak usia 1 tahun.
Kecil. Tapi baiknya setiap hari.
Dan di situlah banyak orang tidak berhasil.
Bukan karena tidak mau, tetapi karena konsistensi memang seni yang tidak banyak orang kuasai.
Saya sering menyarankan bentuk yang tidak membuat orang menyerah di minggu kedua.
Vitamin D yang dalam bentuk gummy, satu butir sehari, rasa yang bersahabat, tanpa drama menelan.
Opsi bentuk lain ada,
Tapi yang paling baik adalah yang benar-benar kita minum. Bukan yg dibeli lalu diletakkan begitu saja.
Tubuh kita jarang berteriak.
Ia hanya berbisik, lewat pegal yang pulang-pergi, lewat lelah yang tidak masuk akal.
Dan yang ia minta bukan obat yang rumit.
Hanya fondasi kecil yang kita jaga konsistensinya setiap hari.