bapak/ibu @DitjenPajakRI apa pertimbangannya sehingga pencairan JHT dikenakan pajak? JHT itu tabungan. Iurannya dibayar oleh pegawai dan pemberi kerja selama bertahun-tahun.
Tak elok rasanya uang pensiun pun dipajakin.
"Si no firmáramos este acuerdo con Irán, nos hubiéramos quedado sin petróleo, perdíamos 600 o 700 millones por día, nos quedábamos sin reservas en 4 semanas. Hemos sido muy duro con lo nuclear, está bien que Irán tenga energía nuclear para electricidad".
Trump firmó su rendición con Irán, humillándose públicamente admitiendo que estaban desangrándose en su guerra contra el pueblo iraní, perdiendo hasta 700 millones diarios y quedándose sin reservas de petroleo... incluso han terminado tragando con que Irán tenga energía nuclear y pagándole 300.000 millones por los daños.
Esta es la mayor humillación a EEUU desde Vietnam, la realidad es que esperaban que Irán cayese en 3 dias... ahora van a tener que retirar sus soldados de toda la región en las bases que rodean a Irán y pagar por sus crímenes.
Lupakan sejenak soal Maurizio Ganz..🤣
1. Juara Dunia biasanya habis itu jeblok? Bro lupa yg terdekat di Qatar, Prancis juara bertahan lalu tembus final.
2. Ngomong blank spot utk tim kaliber Piala Dunia itu adl pengakuan bahwa orang2 yg ngobrol di sini memang pemalas.
Dlm sepak bola modern apalagi kelas Piala Dunia, nggak ada lagi tim yg benar2 blank spot apalagi bagi yg ia bilang sejago2nya pundit. Jika satu tim dianggap blank spot, ya itu krn punditnya kurang baca, males, bodoh, bukan krn tim itu nggak bisa dianalisis.
Baru 2 tahun lalu, Austria jadi juara grup di Euro, di atas Prancis, Belanda, Polandia. Ini tim kuat.
Lalu bilang Austria nggak punya pemain terkenal dan cuma bisa nyebut Arnautovic itu juga konyol banget. David Alaba (Real), Marcel Sabitzer (Dortmund), Konrad Laimer (Bayern).. Belum lagi Christoph Baumgartner (RB Leipzig) yg cedera...🤡
Lupakan sejenak soal Maurizio Ganz..🤣
1. Juara Dunia biasanya habis itu jeblok? Bro lupa yg terdekat di Qatar, Prancis juara bertahan lalu tembus final.
2. Ngomong blank spot utk tim kaliber Piala Dunia itu adl pengakuan bahwa orang2 yg ngobrol di sini memang pemalas.
Dlm sepak bola modern apalagi kelas Piala Dunia, nggak ada lagi tim yg benar2 blank spot apalagi bagi yg ia bilang sejago2nya pundit. Jika satu tim dianggap blank spot, ya itu krn punditnya kurang baca, males, bodoh, bukan krn tim itu nggak bisa dianalisis.
Baru 2 tahun lalu, Austria jadi juara grup di Euro, di atas Prancis, Belanda, Polandia. Ini tim kuat.
Lalu bilang Austria nggak punya pemain terkenal dan cuma bisa nyebut Arnautovic itu juga konyol banget. David Alaba (Real), Marcel Sabitzer (Dortmund), Konrad Laimer (Bayern).. Belum lagi Christoph Baumgartner (RB Leipzig) yg cedera...🤡
Bukan cuma rezim ini! Hampir semua rezim penguasa negara ini (setidaknya sejak orba) cenderung ngadu domba. Menciptakan konflik horizontal ketika ga kompeten menangani konflik vertikal. Ormas PP, PAM Swakarsa dan sejenisnya adalah bukti DNA devide et impera negara ini!
Ada yg ngerasa gak, Demo stop MBG dilawan demo Pro MBG. Demo BEM dicounter sm BEM tandingan. Sutradara Pesta Babi dilaporkan aktornya sendiri Mama Sinta. Saya bertanya, Apakah rezim ini menggunakan politik adu domba? Jika benar, artinya pemimpin kita mengadu domba rakyatnya sendiri.. Jahat sih
cc:threadmustrlkm
Bro Fiersa, kritik itu memang hak, tapi menggeruduk panggung, bubarin acara paksa, teriak-teriak sampai narasumber dievakuasi bukan kritik. Itu pembungkaman terhadap orang lain yg juga punya hak bicara.
Kalau setiap diskusi pejabat langsung digeruduk mahasiswa, besoknya nggak ada diskusi lagi. Yang tersisa cuma chaos atau monolog penguasa. Itu namanya kemunduran demokrasi, bukan kemajuan.
Ego penguasa memang masalah. Tapi ego ‘aktivis mahasiswa’ yg merasa hanya cara keras yg sah, dan kritik sopan dianggap ‘pengecut’ atau ‘dibeli’, juga masalah besar.
Disuruh santun bukan berarti bungkam. Santun = pakai argumen, bukti, dan nggak ganggu hak orang lain berpendapat. Kalau kritiknya bagus, nggak perlu geruduk.
Bikin acara tandingan, tulis paper, debat terbuka, atau demo damai. Itu jauh lebih intelektual & efektif.
*sambil mendengarkan 🎶
Fiersa Besari~ "Tulang Punggung"
Kenapa setiap kritik dibalas pembungkaman, dan setiap masukan ditanggapi dengan emosi? Karena yang diberi saran memiliki ego yang lebih besar dibandingkan otak yang lebih pintar.
Disuruh santun di sebuah negara yang meledek rakyatnya adalah sebenar-benarnya anomali
Akhirnya terbukti PROVOKATOR itu mereka sendiri... Kocak.. Intel aja kebongkar mahasiswa, gimana mau nyusup ke musuh asing😭😭😭 Kalo ketahuan baru ngaku, kalo ga ketemu lanjut provokasi gitu??? Tanya aja gw mah
Temanku di Banggai Laut, Sulawesi Tengah, cerita soal menu SPPG di sana yang menyajikan menu ikan lele fillet, padahal kami di Banggai tiap hari makan ikan laut.
Ikan lele itu dikirim dari Surabaya.
Parah2 ini MBG.
Temanku komen di konten YouTube @pandji
Indonesia has swung from an emerging-market darling to a global laggard, with insiders blaming the president and his inner circle for erratic and poorly communicated policies. Read more: https://t.co/kwD7XVZsip
📷️: Dimas Ardian/Bloomberg
Menurut gw pribadi, mending keberadaan IPDN itu ditinjau ulang deh…
Asal kelen tahu..
Ilmu-ilmu yang ada di IPDN itu udah diajarin di FISIP dan FIA di seluruh Indonesia.
Perbedaannya, IPDN itu ikatan dinas, biaya minim, dan juga semi-militer.
Lantas buat apa ada IPDN? Wong lulusannya juga jadi ASN. Anak FISIP dan FIA mah disuruh jadi ASN juga bisa.
Dan yang gw juga heran kenapa IPDN semi-militer?Padahal lulusannya itu ya jadi sipil semua…
Terus yang lebih ga nyaman lagi:
Tiap tahun, IPDN butuh ratusan miliar.
Kalian tahu ga? Berapa anggaran IPDN di 2026?
814 MILIAR!
Padahal tahun lalu hanya 517 miliar.
Mana masuk pos anggaran pendidikan lagi.
Dan ini diperuntukkan untuk 5-6 ribu orang praja..
Sayang banget menurut gw.
Duit 817 M itu bisa dipakai buat subsidi PTN-PTN di seluruh Indonesia.
Foto: Rakyat Merdeka dan Pos Jateng
List Professor (beneran) yang pernah gue undang/bantu-bantu undang dulu waktu jadi mahasiswa dan rate cardnya:
Prof. Boediono: 0 juta
Prof. Iwan Jaya Azis: 0 juta
Prof. Emil Salim: 0 juta
Prof. Bambang Brodjonegoro: 0 juta