Buat meeting sekarang ga perlu lagi ke calendar app terpisah untuk kirim calendar invite. Bisa jadwalkan langsung di inLive Room. Silakan dicoba bulan depan harga naik loh ๐
Fitur baru "scheduled meeting" di InLive Room sudah rilis! Tentuin tanggal dan waktu meeting, kirim email undangan ke peserta, dan jadwal masuk ke kalender juga.
Mau cobain? sat set ke sini ๐ https://t.co/I4S2wikUif
Setelah coba, share pengalamanmu ke kami.
Atas nama keluarga kami, terima kasih bang Ferry ๐๐ผ
H-6 menuju putusan, teman-teman sekalian mohon bantu #kawalibam selalu ๐๐ผ
https://t.co/cLizUgb4lz
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.โ
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
Hi @ecommurz ๐๐ผ Ini Ririe, makasih supportnya!
Ibam titip pesan. Kenapa dia mau fight kriminalisasi sampai titik darah penghabisan, karena ingin ujungnya semua bisa teriak lantang:
"Ngga perlu takut bantu Indonesia!"
11 hari jelang putusan, teman2 mohon bantu share di IG ya ๐๐ผ
Introducing Gemini 3.1 Flash TTS, our latest text-to-speech model, providing new levels of control to build audio experiences.
Letโs dig into the new enhancements โ
โ Audio tags: Guide expressivity and pace by directly embedding natural language commands within text
โ Scene direction: Define specific dialogue instructions to build context and natural-sounding reactions between speakers
โ Speaker-level specificity: Use unique audio profiles to cast characters
Start building with the model in preview via the Gemini API and the new Playground experience in @GoogleAIStudio: https://t.co/vwzYhsZk31
@PromptSlinger Using latest build from repo llama.cpp for fixed tool calling issue. And use quantization q4 gguf 17GB VRAM used. Token generation 70 token per second
AMD Radeon AI 9700 Pro + Gemma 4 26B perfect combo banget ya. Ngerasain kayak punya Gemini Flash unlimited buat agentic flow. Belum dicoba buat coding sih.
@imrenagi@ivankrisdotcom Betul, mending ngulik sendiri dulu biar belajar jg. Kadang jg ada library siap pake di luar sana malah mencoba bikin dari awal biar ngerti dalemannya
@seipent@pebaryan I don't evaluate the output but more into the thinking process. I care more about the process than the answer. I like to know more how do you decide when choosing between explore more edge cases than deep dive into the bottom of the problem.
I was interviewing for AI Software Engineer at Sirclo . The test: build a price surge mechanism (Gojek/Grab) with a coding assistant. Most candidates struggle to "think out loud" and identify the root cause: demand higher than supply in clustered zones. They're aware that rush hours, rain, or concert triggered the price surge, but they're not able to identify what those conditions leads into which basically demand > supply.
We don't write code anymore; we control coding agents. I'm thinking these skills are what we as software engineer need to have today.
https://t.co/gKrBTF0h2o
@pebaryan Sadly no, they assumed they were understand the problem triggered by state like rush hour, rain, or event like concert and jump directly into prompting the how to.
Mungkin bisa explore source buat huntdown judol website ini juga dari Chrome UX Report yang di country level data di Bigquery. https://t.co/aHDJZGHXx9
Data ini adalah URL web yang banyak diakses dari Indonesia dan di update setiap bulannya. Dulu sempat mencoba query dengan common words kayak Zeus, gacor, dll di content pagenya dan berhasil deteksi beberapa web judol yang masih aktif. Cuma agak hati2 querymya jangan tau2 kena billing jutaan karena datanya sangat massive.