selalu amaze sama orang-orang yang pernah mengalami tough upbringing, struggle sama kondisi keluarga, no privilege, trauma atau kesulitan-kesulitan lainnya dalam hidup tapi bisa manage untuk grow, punya impact positif buat orang lain dan ga pernah nyerah sama kesulitannya.
hidup yang keras ngga membuat mereka jadi orang yang "dingin"
90% orang mengira no contact akan otomatis bikin mereka lebih tenang. Aku juga dulu berpikir begitu. Putus komunikasi = perasaan ikut reda. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Semakin lama no contact berjalan, aku malah makin gelisah. Makin sering kepikiran. Makin pengen ngecek. Makin pengen tahu dia lagi ngapain.
Dan butuh waktu lama sampai aku sadar yang aku kira “kangen”, ternyata gak selalu tentang dia.
@ariesourries Agreee. Buat apa sih kita pake strategi abcde in relationship. Kalo kamu sayang, kamu cinta, kamu bucin ya show it aja. Ga pernah nyesel nunjukin cintaku yg ugal2an itu sih. Kalo pada akhirnya ditinggalin, it’s their loss. Karena aku totalitas kalo udah sayang
imo the concept of "jangan keliatan kecintaan" just to be loved back is so exhausting. i don't get it aslii cs im always gonna be all in with my feelings and if they decide to be toxic or act up yaudah it's their loss 🤷🏻♀️
Abis nonton toy story 5 terharu banget 🥲
filmnya ngingetin:
1. Bukan karena lu aneh tapi karena belom ketemu orang-orang yang sefrekuensi aja 🫶🏻
2. People come and go, grow up and grow old but memories last forever
3. Berbeda bukan berarti lu aneh!
4. Some things are just temporary and it’s not that deep
5. Orang tua harus lebih aware sama hubungan anak dengan teman-temanya
6. You’ll find your people don’t worry!
7. If there’s a will, there’s a way
8. Jangan online terus, touch some grass!
IPK gue 3.9.
Waktu wisuda, gue merasa di atas dunia. Cumlaude 3.5 tahun. Foto toga dipajang di rumah.
Sekarang, 8 tahun kemudian, gue masih di posisi yang sama.
Yang dulu seangkatan gue. IPK 2.5. Dulu gue pandang sebelah mata.
Sekarang? Dia dua level di atas gue. Gajinya mungkin 3x lipat.
Dan gue, cumlaude, masih di sini.
Bukan karena gue bodoh. Tapi karena ada satu skill yang gue gak pernah pelajari.
Adek-adek, kalo masih 20an jangan buru2 mikirin siapa suaminya. Nikmatin hidup sama diri sendiri. Pahami diri sendiri. Gagal gpp, bangkit lagi. Hura2 gpp tp jaga diri. Bikin salah gpp tp perbaiki.
20an adalah masa-masa terbaik untuk salah paham sama kemampuan diri sendiri. You'll thank me when you hit 30 🫶🏼
INI SIH 😭 banyak orang bilang pengen pasangan yang komunikatif, tapi pas pasangannya beneran terbuka dan ngomongin apa yang dia rasain malah dibilang ribet, terlalu sensitif, overthinking, atau kebanyakan ngeluh. terus maunya komunikatif yang gimana jir 😭
Menurut psikologi & sains
Orang yang memiliki banyak pengalaman emosional dan pernah mengalami kekecewaan berulang cenderung mengembangkan kemampuan pattern recognition yang lebih kuat.
Otak mereka belajar mengenali pola perilaku, red flags, dan ketidakkonsistenan dari pengalaman sebelumnya. Ini bisa terlihat seperti "instinct" yang tajam, padahal sebenarnya hasil dari pembelajaran bawah sadar.
Sering disalahartikan sebagai overthinking, padahal itu bentuk kewaspadaan (hypervigilance) yang terbentuk dari pengalaman hidup.
Dan dalam banyak kasus, respons itu justru membantu mereka menghindari situasi yang berpotensi menyakitkan lagi.
Life hack: always balance something cheap with something expensive.
Enough with still water that cost me 30k. I watched a bule casually bring his own 1.5L Aqua to the table (not even trying to hide it like I do) while eating overpriced pasta at a coworking space. So please, let me bring my 8k 1.5L Aqua that can keep me hydrated all day 🙂🙏🏻
Terserah sih, tapi basically manusia tuh memang benci proses yg tinggi beban mentalnya tapi rendah penghargaan instannya. Skripsi tu energi intelektual yg gede. Sementara culture selalu nuntut tangible outcome. No wonder kenapa intelektualitas ngga dihargai.
Kita ngalamin yang namanya Inflasi Pendidikan.
Gelar S1 zaman now itu nilainya udah setara sama ijazah SMA zaman dulu karena hampir semua orang bisa kuliah.
Efeknya, HRD jadi kebingungan ngefilter lautan sarjana ini. Solusinya? Mereka nyiptain rintangan ala Ninja Warrior atau Hunger Games (Online Test berlapis, FGD/LGD, presentasi kasus, psikotes berjam-jam).
Proses ribet itu berevolusi bukan karena kerjaannya butuh skill yang bagus, tapi semata-mata buat nge-eliminasi ribuan kandidat dengan cepet aja. 🤓
Supply and Demand buat lapangan pekerjaan disini juga jomplang banget cik. Supply tenaga kerja di Indo kata GIBRAN membludak ruah, sedangkan lapangan kerjanya seret.
Dampaknya? Karena tahu yang butuh kerja itu ada jutaan orang, perusahaan seenaknya melempar beban biaya penyeleksian ke pelamar. 👹
Kalo dibandingin di US atau di Eropa mah proses rekrutmen rata-rata straight to the point. Kirim CV/Resume - Screening (via telepon) - Interview (1 atau 2 kali sama user/manager) - Offering.
Tes aneh-aneh berjam-jam atau MCU sampai disuruh puasa dan bugil itu jatuhnya red flag dan bisa kena tuntutan pelanggaran privasi malahan di US/Eropa. KECUALI lu daftar masuk militer, kerja di lab berbahaya, atau buruh fisik berat.
Di Indo? Daftar staf admin entry level aja MCU-nya kayak mau dikirim dinas ke daerah konflik 💀
BOYOLALI
- punya bandara Adi Soemarmo.
- ke Solo 30-60 menit, ke Jogja / Semarang 1.5-2.5 jam.
- udara seger, Merapi Merbabu bosss
- ada sekolah Pradita, SMA terbaikkk. SMP & SMA lokalnya juga oke.
- biaya hidup masih oke, UMR di sana 2.5jutaan. pasar tradisional masih banyak.
- punya beragam tempat wisata. banyak franchise makanan populer jg.
- tidak macet. penduduk 1jutaan, tapi cukup luas. 10 kilometer 15-30 menit.
- kriminalitas cukup rendah, biasa pulang malem sendirian ga kenapa2. cuma, jalan desanya masih banyak yang gelap sih.
Kenapa si generasi sekarang tuh kalo kerja:
1. Kurang inisiatif untuk problem solving
2. Meskipun udah kepepet, tetep lebih milih nunggu daripada solving the problem dengan berbagai excuse
Of course ga semuanya. Tapi beneran penasaran bgt kenapa si orang bisa ga punya urgency atau critical thinking? 🥹