pas kuliah sering banget dosen ngomong "jangan sampai melihat peristiwa sejarah pakai lensa dan standar masa kini"
dulu mah saking seringnya denger, sampe mikir siapa juga yang gitu buset. sekarang baru agak paham kenapa itu diulang-ulang terus.
Kalo di ilmu kesadaran, sebaik-baiknya bersyukur itu enggak lahir dari membandingkan, tapi dari sadar penuh hadir utuh di sini-kini. Be present.
Jadi bukan bersyukur karena: “untung hidupku lebih baik dari dia.”
Bukan bersyukur karena: “lebih baik dari orang lain.”
Karena itu masih ego yang membandingkan, diam-diam merasa lebih. Kesombongan.
Bersyukur itu sesederhana: menyadari apa yang ada, tanpa hanyut terseret drama dari pikiran masa lalu atau masa depan.
Menyadari napas, masih bernapas. Menyadari badan, masih hidup. Menyadari momen saat ini, di sini-kini, seapaadanya.
Jadi bersyukur karena hidup yang sedang kita alami. Nggak dari perbandingan, tapi karena kesadaran, presence.
Aku pernah baca entah di mana, memang letak kenikmatan itu ada pada batas.
Hari libur itu menyenangkan bagi mereka yang berkegiatan, beda cerita kalau pas lagi nganggur. Misal suka banget sama bakso, tapi apa bisa makan sehari 3x selama 2 minggu? Bosen kan? Nah, itu maksudnya.
Cara tercepat menjadi pintar adalah dengan bertanya dan mengakui aja kalau kita gak punya knowledgenya. 0 knowledge. Lebih mudah daripada harus ribut2 di luar bidang yang gak kita kuasai.
Pas lebaran nanti, biasanya baru kepikiran,
ternyata kemaren lebaran terakhir,
ternyata kemaren ramadan terakhir bisa ketemu.
Kehilangan biasanya terendap dan baru menghantam pas kita gak pernah siap.
Untuk semua yang telah berpulang lebih dulu,
Rest in Love.
Banyak orang ga bisa mikir sendiri, jadi mereka cuma "menyalin" apa yang disebut orang lain tanpa mikir. Nah, kalo kebetulan mereka dikelilingi orang yang bodoh atau jahat, jadilah banyak hal2 bodoh dan jahat disalin ke dalam pikirannya. Lama2 mereka sendiri jadi bodoh atau jahat tanpa sadar
Kadang2 orang merasa dirinya bisa "menyaring", tapi yang saringan mereka sendiri itu kadang2 tak bagus; Mereka malah sengaja cari tulisan & omongan yang bahasaya meyakinkan dan "apik". Sekalinya orang2 yang salah & jahat menulis dengan apik, mereka pun serta-merta terima; Mikir pun nggak
Ada lagi yang saringannya berbasis "circle" atau "feed"; Apa yang kebanyakan temannya percayai, dia pun percayai. Apa yang banyak muncul di timelinenya (yang ia sudah "pilah2 sendiri"), ia percayai. Sekian temannya bahas berita A dengan yakin, dia ikut; Dia ikut bukan karena mikir bahwa beritanya benar, bukan karena kroscek, tapi karena beritanyalah yang paling "nyaring", paling "umum". Awalnya mungkin dia tak ikut percaya, tapi karena kebanyakan temannya percaya, ia pun secara tak sadar mulai ikut; Mungkin karena "takut ditinggalkan", atau alasan2 lain lagi yang ada di alam bawah sadar
1 kali lihat konten, dia pikir "apalah ini". 20x lihat konten sejenis, dia mulai terbujuk; 3x dengar teman di kantor mendukung... Ia pun luluh. Luluh bukan karena mikir... Tapi karena lingkungan
dari yang gue perhatiin (sekalian terapin di kerjaan) orang orang sekarang lebih seneng sama sesuatu yang organic karna banyak konten yang over-fabricated. organic ini konteksnya luas, sesuatu yg bikin audience merasa ada genuinity, more "humane", sesuatu yang berjiwa
i have assumption bakal ada masanya orang mulai content fatigue sih, kelelahan liat terlalu banyak konten beredar. di ranah marketing ini sudah kejadian, contohnya orang-orang yang muak sama gimik yang norak/terlalu drama, affiliate/KOL yang kalimatnya "briefing banget",
Paham poinnya, kurang setuju sama urutan langkahnya.
1. Validasi dulu emosinya.
2. Emosi tervalidasi, data akan naik ke permukaan, emosi akan minggir alami.
Kalau emosi langsung dibuang, pencernaan data juga tidak akan jernih karena masih terganggu rasa yang masih nyangkut.