Zoom sama dinas
Sambutan 1: nanti teknisnya dijelaskan oleh teman2
Sambutan 2: teknisnya sama teman2 ya
Narsum: maaf ini sambil menunggu aplikasi nggih nanti akan dijelaskan oleh teman2
Kemudian "maaf waktunya habis nanti bisa langsung telfon kami jika ada kendala"
Indonesia
Unit Pelayanan Publik.
Kalau WFH paling terakhir.
Kalau apel, paling depan.
Kalau lembur, paling sering.
Tapi kalau pemotongan anggaran… paling duluan kena. 😅
Sudah begitu, masih juga jadi sasaran komentar:
“Kerjanya apa sih?”
“Lama banget ngurusnya.”
“ASN enak ya…”
Padahal yang dimarahin masyarakat itu yang di depan meja.
Yang jelasin aturan juga yang di depan meja.
Yang nerima emosi, komplain, bahkan bentakan… tetap yang di depan meja.
Kadang bukan gak mau cepat.
Kadang sistemnya yang belum siap.
Kadang aturannya berubah.
Kadang anggarannya dipotong.
Tapi ya sudahlah… namanya juga pelayanan.
Tetap datang paling pagi, pulang paling akhir, dan tetap berusaha senyum.
Karena kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?
Ujar ASN Pemda Jelata
Telah nyata kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia. (QS 30:41)
Catatan reflektif tentang bencana…
Rangkaian badai, tanah longsor, banjir bandang, gunung meletus, hingga satwa yang kelaparan belakangan ini jangan hanya kita pandang sebagai musibah alam, tetapi wajib dipandang sebagai cermin diri.
Badai, hujan lebat, gunung meletus, adalah peristiwa alam yang telah berlangsung jutaan tahun. Namun, kita memperparah dan mengubahnya menjadi bencana ketika kita memperlakukan alam tanpa etika. Tata ruang dilanggar, hutan ditebang habis, pesisir dicemari, habitat satwa dihancurkan.
Ingat kan di masa kampanye lalu kita pernah sama-sama membahas tentang pentingnya tobat ekologis, yaitu mengakui dosa kolektif kita pada bumi, lalu mengubah cara kita hidup dan cara negara mengelola kuasa?
Kita perlu mengakui bahwa kerusakan ini adalah hasil pilihan kolektif, mulai dari kebijakan yang lemah, mengabaikan analisis risiko, pengawasan yang longgar, serta ketidakpedulian ketika aturan dilanggar demi keuntungan jangka pendek yang hanya dinikmati sebagian orang.
Hari ini kita harus jujur bahwa kita terpaksa hidup berdampingan dengan bencana. Terlalu sulit untuk mencegah semuanya. Iklim sudah berubah, bentang alam sudah banyak dilukai. Namun, kita masih bisa mengurangi risikonya, sembari terus berusaha memperbaiki kerusakan alam.
Caranya, dengan tata kelola yang transparan, penegakan hukum yang tegas, gaya hidup yang lebih ramah bumi, keberanian berkata “tidak” pada proyek yang merusak, serta mendidik dan membiasakan mitigasi bencana secara serius bagi seluruh masyarakat.
Ini mungkin unpopular opinion: bumi tidak peduli pada kita, dan bumi tidak butuh kita peduli padanya. Bumi akan terus berputar, dengan atau tanpa manusia. Yang sedang terancam punah bukanlah planetnya, tapi keberlangsungan hidup kita sendiri. Maka kitalah yang butuh peduli pada bumi.
Tobat ekologis, sebuah pengingat dari Paus Fransiskus, adalah upaya yang harus kita jalankan untuk mengembalikan batas. Batas serakah, batas abai, batas melanggar aturan. Demi bumi yang lebih layak dihuni untuk anak dan cucu kita semua. •••
Per hari ini, ada 30 wakil menteri aktif yang tercatat rangkap jabatan sebagai komisaris atau komisaris utama di BUMN atau anak/cucu BUMN.
Belum termasuk timses yang menjabat komisaris, staf ahli atau stafsus.