ㅤㅤ As the time almost ended, Kazehaya tidied up his stationery on the table and put them back on his bag. “Thank you, Professor. Have a good rest.” He said before leaving the classroom.
⠀
Tamara menutup koper besar itu perlahan. "That's it. Tiga benda dulu untuk hari ini." Senyumnya kembali muncul. "Sisanya akan saya kirimkan dalam bentuk rangkuman. Silakan bereskan barang-barang kalian di meja dan kembali ke asrama, terima kasih sudah hadir!"
⠀
⠀
Dengan satu hentakan, koper besar itu terbuka. Berbagai benda memenuhi bagian dalamnya, tersusun rapi seperti koleksi pribadi yang berharga. "Daripada duduk jauh-jauh di sana, sini dulu semuanya." Tamara melambaikan tangan, mengajak para murid mendekat.
⠀
⠀
Tak lama, meja pengajar dipenuhi murid yang berkerumun mengelilingi. Volume suara ia turunkan, seolah tengah membagikan rahasia. "Semua benda di dalam koper ini berkaitan dengan satu nama yang cukup terkenal dalam dunia ramuan." Senyumnya mengembang. "Horace Slughorn."
⠀
⠀
"Hari ini kita tidak akan mempelajari resep baru." Jemarinya bertumpu pada permukaan koper. "Karena sebelum memahami sebuah ramuan, ada satu hal yang menurut saya tidak kalah penting untuk dipelajari—tokoh-tokoh yang berada di balik ramuan itu sendiri."
⠀
⠀
Pandangannya kemudian beralih ke deretan murid dengan wajah-wajah yang lebih familiar. "Nah, kalau yang ini saya kenal. Bagaimana ujian kalian kemarin? Soal ramuan sangat mudah sekali bukan?" kekehnya jahil.
⠀