Adikku pesen ojol jam 11 malam, mau pulang dari kosan temennya. Pas driver dateng, dia liat adikku jalan pincang keluar gang.
Bukannya langsung jalan, dia malah turun dari motor. "Kenapa, Dek? Kaki kenapa?"
Adikku bilang cuma kesleo dikit, gapapa. Tapi mukanya pucat banget.
Driver itu nggak langsung anter. "Saya bawa ke klinik dulu ya, ini kalo dipaksa jalan bisa tambah parah."
Adikku nolak, takut ongkosnya nambah. Orderan cuma sepuluh ribu, klinik jauh dari rute.
Tapi driver itu udah nyalain motor duluan.
Di klinik, driver itu nungguin sampe adikku selesai diperiksa. Bayar sendiri biaya periksa, 75.000, dari dompetnya.
Adikku protes, mau ganti. "Anggap ini bonus dari saya. Semoga cepat sembuh ya."
Orderan yang harusnya kelar dua puluh menit jadi satu setengah jam. Ratingnya nggak nambah sepeser pun buat waktu itu.
Adikku nanya kenapa dia mau repot begitu. Katanya dia inget anaknya sendiri, umur sama kayak adikku, dulu pernah jatuh sendirian di jalan waktu nggak ada yang nolong.
"Saya cuma nggak mau itu kejadian lagi ke orang lain," katanya, terus pamit lanjut narik.
Ratna, Semarang
cc : wnmei_at
Bagian Akhir.
dulu, orang-orang saling membicarakan cerita pendakian ini, berawal dari satu mulut sampai ke mulut yg lain, mereka bilang yg naik ada 6 orang, tapi yg turun?
hanya dia, saja.
-itu tempat yg paling tua berada, tempat dia yg membutuhkan jaminan tadi)
Riski menoleh melihat Koco yg sudah kocar kacir dimana dibelakangnya ada wujud familiar yg Riski kenal,
seonggok Pocong dengan kain berwarna hitam legam hanya saja ukurannya tujuh kali manusia normal.
“Jemuran”
-Based on true experience-
“ mbak, jangan lupa angkat jemuran ya, udah magrib, mendung juga takut kehujanan” ucap ibu lewat telfon
.
bergegas ku dari kasur menuju halaman belakang rumah, “ ini rumah gelap banget, pada kemana sih?” tanyaku dalam hati.
setelah dua minggu absen, akhirnya ada waktu edit video sendiri. mumpung udara lagi dingin-dingin, boleh lah mampir sebentar kesini hahaha.
https://t.co/KkDGPnva0O
sebuah cerita yg dikirim oleh mbak Widiya yg cukup menarik bagi saya.
Kalau mau kompres, jgn di dahi/jidat krn kurang efektif. Lokasi kompres yang benar tuh di lipatan2 tubuh seperti pada gambar nih. 😉
Itu krn lipatan2 tubuh punya lebih banyak pembuluh2 darah besar shgg perpindahan panas semakin maksimal