Tidak berfikir berbeda sama sekali dengan bodoh. Orang bisa saja amat cerdas, namun tak menggunakan kecerdasanya itu untuk berfikir secara menyeluruh, berfikir secara sistematis. Dan karena tidak berfikir seseorang kadang tak sadar bahwa tindakanya merupakan suatu kejahatan.
Apakah benar kesuksesan hidup kita benar2 ditentukan oleh kemampuan berbicara, menulis, dan kualitas ide.. dlm urutan itu?
Pertanyaan ini langsung menyentuh saya, krn selama ini saya merasakan sendiri betapa sulitnya mengeluarkan isi kepala ketika komunikasi verbal menjadi kendala. Ide2 tentang fisika teori, AI, kuantum, atau apapun tentang alam semesta sering berputar2 di otak, tapi sulit sekali disampaikan dgn jelas sehingga orang benar2 bisa mendengarkan dan memahami.
Saya ingat betul saat mentor saya menyarankan dgn tegas: “Kamu harus belajar menulis dan belajar bicara.. terserah mana dulu. Kalau kamu belajar menulis dulu, pada akhirnya kamu tetap harus belajar bicara. Itu cara terbaik untuk mengeluarkan apa yang ada di kepalamu.”
Saran itu bkn sekadar motivasi, tapi kebutuhan. Krn tanpa kemampuan menyampaikan, ilmu yg kita miliki.. sekaya apa pun, hanya bisa digunakan sendiri bahkan bisa hilang begitu saja, seperti informasi yg terserap ke dlm kekacauan entropi tanpa ada usaha untuk menjaganya tetap teratur.
Dari situ, saya mulai mencoba belajar dan berlatih menyusun kalimat, merangkai argumen, hingga mencoba berbicara di depan orang meski awalnya terasa kaku.
Lalu melalui seorang teman yg kebetulan ke MIT, saya diberi kuliah legendaris dari Prof. Patrick Winston di MIT berjudul “How to Speak” pada akhir 2023.
Prof. Patrick Winston, seorang profesor komputer dan AI yg mengajar mata kuliah yg sama selama lebih dari 40 tahun, katanya selalu membuat ruangannya penuh sesak setiap Januari.
Meski beliau sudah tiada sejak 2019, rekamannya masih ada gratis di MIT OpenCourseWare dan YouTube.
Dlm kuliah itu, Prof. Winston langsung membuka dgn pernyataan yg tajam: kesuksesan hidup kita sgt ditentukan oleh kemampuan berbicara, kemampuan menulis, dan kualitas ide.. secara berurutan. Bkn IPK, bkn latar belakang, bkn pula seberapa tinggi IQ kita.
Beliau punya kerangka yg praktis dan saya coba terapkan. Mulai dgn “janji pemberdayaan”.. katakan di awal apa yg akan didapat pendengar, agar mrk punya alasan untuk tetap mendengarkan.
Gunakan teknik 5S: Symbol, Slogan, Surprise, Salient, Story.
Jgn langsung ringkas apa yg sdh dikatakan, tapi berikan kontribusi baru.
Dan yg paling berkesan bagi saya adalah “near miss” >> tunjukkan bkn hanya yg benar, tapi juga yg hampir benar tapi salah. Kontras itu membuat pemahaman lebih melekat, mirip cara kita memahami hukum termodinamika: baru benar2 mengerti entropi setelah melihat betapa mudahnya segala sesuatu menuju kekacauan jika tdk ada upaya menjaga keteraturan.
Saya sdh mencoba menerapkan sebagian kerangka ini dlm tulisan2 tentang fisika dan AI yg saya buat. Hasilnya memang berbeda.. sebagian orang jadi membaca sampai selesai, dan kdg bertanya lebih dlm.
Meskipun verbal masih menjadi tantangan, menulis utas, buku, dan artikel membantu saya “mengeluarkan” isi kepala dgn lebih terstruktur.
Panah waktu memang bergerak 1 arah.. semakin lama kita tunda untuk belajar menyampaikan ide, semakin sulit mengejarnya.
Warisan Prof. Winston mengingatkan saya bahwa ilmu paling hebat sekalipun akan sia2 jika tdk ada yg menangkao dgn sungguh2. Dan untuk itu, kita perlu terus berlatih.. menulis, berbicara, dan menyusun ide dgn lebih baik.
Terima kasih juga kpd mentor sebelumnya yg bkn hanya mengajari saya menulis dan bicara, tapi mengajarkan saya segalanya.
Kamu sendiri pernah merasa ide atau pemahamanmu sulit disampaikan ke orang lain? Atau sdh punya cara sendiri yg efektif?
Film Terbaik Oscar kerap dianggap sebagai penghargaan tertinggi yang bisa dimenangkan oleh sebuah film. Kami pun coba mengurutkan 10 pemenang film terbaik Oscar teranyar berdasarkan kualitasnya.
Di masa depan, orang pintar bukanlah yang paling banyak tahu, tapi yg paling cepat mengoreksi kesalahan pikirannya.
Karena kalau banyak tahu saja, AI sudah lebih banyak tahu daripada manusia.
Selamat hari Jum’at…
@tempodotco Problem utamanya adalah kesalahan kita memperlakukan AI. Jika ingin bertumbuh bersama perlu literasi: Hukum Inferensi Manusia & Logika Dasar AI
Dari podcast Dedy dan Aiman yang bahas AI kemarin, gua jadi tahu betapa “kocaknya” masyarakat Indonesia dalam menanggapi AI. Kalian baca komennya deh di video itu, itu adalah gambaran masyarakat kita sekarang. Sedih sebenernya bacanya.
Ada yang bahas ini adalah rencana Elit Global, bahkan Dedy sendiri kasih teori kalau manusia akan punah nantinya. Bahkan sampai bahas fitnah Dajjal, untuk yang ini kita “stop” sampai disini karena gamau bahas agama.
Dari situ gua berfikir, kenapa ya orang Indonesia ini suka banget narasi level rendah?
“AI bakal menghancurkan manusia”
“AI mengawasi hidup kita sehari-hari”
Ternyata menurut UNESCO, minat baca orang Indonesia itu rendah, salah satu paling rendah sedunia, satu dari seribu orang yang gemar membaca. Makanya literasi kita rendah, lebih suka teori konspirasi daripada memaksa otak berfikir untuk mencari reasoning dari suatu masalah/teknologi.
Bahkan Dedy kasih contoh kalau GPT awasin kita dengan tanya pakai “constraint filter” “Yes” or “No”. Padahal dengan follower sebesar itu, tidak mungkin GPT gak punya data tentang dia. Saya saja nih yang followersnya mungkin 10%-nya doi, lengkap data saya di GPT kalau dicari tau. Dengan constraint sesempit itu akhirnya juga memaksa LLM Model buat jawab seadanya tanpa bisa jelaskan alasannya.
Daripada berfikir seperti itu, kenapa kita gak mempelajari apa itu AI secara basic. Tokens (Input), Embeddings (Meaning), and Transformer/Attention (Context). Apa model yang dipakai GPT sampai bisa jawab seperti itu? Apa perbedaan model yang dipakai tiap-tiap LLM? Apa itu Training process? apa itu Temperature buat atur “creativity”? Bagaimana proses Training suatu LLM? Kenapa model satu dengan yang lain jawabannya bisa berbeda-beda? Apa itu parameter? Apa itu Mixture of Expert?
Kemudian tanya ke diri sendiri, apa yang seharusnya gua lakukan dengan perkembangan AI ini? Habit apa yang harus gua rubah? Bukan konek-konekin ke ELIT GLOBAL. Yang ada negara lain tambah maju, kita tambah b*go. Kebanyakan overthinking tapi gamau action untuk belajar perkembangannya.
AI gak salah apa-apa dikaitin sama Iblis. Bukannya belajar malah Mistis.
Yang saya takutkan dari Ai bukan karena akan mengambil alih kerjaan manusia, tetapi penurunan kemampuan kognisi karenanya, bisa jadi Gen-Z adalah manusia terakhir yang masih bisa mikir tanpa Ai, murni pakai otaknya sendiri.
Untuk itu, kita perlu terus-menerus mengasah logika dan analisis guna mengevaluasi dan memperbarui niat tersebut. Terlebih lagi banyak pihak yang sukanya cek ombak.
ANALISIS KRITIS ATAS PIDATO PRESIDEN PRABOWO 31 AGUSTUS 2025
https://t.co/6aPzVHKGgY
1. Dua wajah dalam satu pidato: Akuntabilitas minimal, koersi maksimal
Pidato Presiden berusaha tampil seimbang: mengakui hak berpendapat (mengutip ICCPR Pasal 19 dan UU No. 9/1998) sekaligus menegaskan perintah tindakan tegas bagi TNI dan Polri. Tetapi substansi menunjukkan asimetri: janji akuntabilitas hanya sebatas “pemeriksaan” aparat oleh Polri, tanpa komitmen investigasi independen. Sebaliknya, bagian yang paling kuat justru adalah instruksi koersif, dengan label makar dan terorisme. Ini membuka jalan kriminalisasi protes.
Dengan kata lain, pidato ini menegaskan prioritas: negara lebih fokus menjaga stabilitas daripada memulihkan trust publik. Ini khas pola authoritarian resilience (Diamond, 2002), di mana legitimasi formal (kutipan pasal hukum, komitmen demokrasi) ditampilkan, tetapi isinya kosong karena jalur koersif lebih dominan.
2. Pengorbanan politik: scapegoating DPR sebagai katup pelepas tekanan
Presiden menekankan bahwa partai-partai akan “mencabut keanggotaan” anggota DPR yang dianggap keliru, dan DPR akan mencabut tunjangan serta moratorium kunjungan luar negeri. Ini gesture politik yang dramatik, tetapi dalam analisis politik, ia lebih merupakan scapegoating untuk meredakan kemarahan publik. Beban dilempar ke legislatif, sementara eksekutif berperan sebagai penyelamat. Strategi ini bisa menenangkan sesaat, tapi tidak menyentuh akar problem: trust publik yang retak karena tindakan aparat.
3. Normalisasi pelibatan TNI dalam ranah sipil
Instruksi eksplisit kepada TNI untuk ikut menindak kerusuhan, disampaikan di forum resmi negara, adalah sinyal bahaya. Reformasi 1998 menegaskan pemisahan militer dari politik domestik, tetapi pidato ini memberi legitimasi baru atas kehadiran TNI di ranah sipil. Jika pola ini berlanjut, kita akan melihat normalisasi operasi gabungan TNI-Polri di ruang publik, yang secara de facto melemahkan prinsip civilian supremacy (supremasi sipil).
4. Pidato sebagai reposisi politik
Perlu dibaca bahwa Presiden menyampaikan pidato ini dengan didampingi seluruh pimpinan partai dan lembaga negara. Secara simbolis, ini adalah “show of force” politik: menegaskan bahwa seluruh elite berada di belakang Presiden. Dari perspektif politik kekuasaan, ini mengirim sinyal bahwa protes publik bukan hanya terhadap kebijakan, tetapi dianggap mengancam seluruh sistem. Di titik ini, peluang reformasi substantif semakin mengecil, sementara peluang konsolidasi otoritarian semakin terbuka.
APA YANG MASUK AKL (PLAUSIBLE) BISA TERJADI?
1. Skenario Stabilitas Koersif
Negara akan menurunkan eskalasi di jalan dengan kekuatan aparat, sementara memberi konsesi simbolik (pemotongan tunjangan DPR). Publik mungkin mereda sementara, tetapi trust tidak pulih. Kita akan masuk fase “stabilitas semu” dengan benih delegitimasi jangka panjang.
2. Skenario Normalisasi Militer
Instruksi Prabowo kepada TNI adalah turning point. Jika terus dipraktikkan, kita akan melihat TNI semakin rutin hadir dalam urusan sipil, dari pengamanan demonstrasi hingga pengendalian konflik horizontal. Ini menandai kemunduran langsung dari agenda Reformasi.
3. Skenario Demokrasi Prosedural tanpa Substansi
Jika konsesi simbolik DPR tidak menenangkan publik dan represi terus berjalan, Indonesia bisa tergelincir ke competitive authoritarianism (Levitsky & Way, 2010): demokrasi formal (pemilu, parlemen) tetap ada, tetapi ruang sipil terkooptasi. Supremasi sipil terkikis, logika keamanan menjadi norma.
4. Risiko Polarisasi dan Radikalisasi Sipil
Labelisasi protes sebagai makar dan terorisme bisa mendorong sebagian kelompok masyarakat kehilangan kepercayaan pada jalur demokratis dan beralih ke kanal radikal. Ini berbahaya, karena justru memperkuat narasi negara untuk memperluas mandat represif.
REFLEKSI
Pidato ini menandai titik persimpangan penting. Bukannya memulihkan trust publik dengan akuntabilitas, Presiden lebih memilih strategi koersif yang dibungkus legalitas dan simbol konsesi politik. Jika pola ini berlanjut, Indonesia bisa masuk ke fase resilience otoritarian: demokrasi tetap ada di kulit luar, tetapi kosong di dalam.
Dengan demikian, pertanyaan yang paling krusial: apakah masyarakat sipil mampu menahan arus ini dengan tekanan politik yang konsisten, ataukah kita akan melihat hasil Reformasi 1998, yakni supremasi sipil sebagai pondasi demokrasi, ditinggalkan lewat logika stabilitas ala Orde Baru?
YN, @nalarinstitute, 31/8/25
Berharap penegakan hukum oleh pelanggar hukum itu seperti main kucing-kucingan yang berarti bukan kucing, seperti main pahlawan2nan yang berarti bukan pahlawan. Hukum itu tentang keadilan yang harus kita upayakan sejak dalam pikiran.
Simplify Your PhD Thesis & Dissertation Structure in 7 Clear Steps
Diving into a PhD thesis or dissertation can feel like navigating a labyrinth.
But what if we could break it down into manageable, clearly defined steps?
Here's how:
Ini adalah character sheet untuk karakter Nani Ismaya yang diperankan oleh Christine Hakim di Siksa Kubur.
(Konteks: tiap bikin film saya selalu membuat background character untuk tiap pemain, yang saya jadikan dasar untuk mengembangkan karakter bersama aktor sebelum suting dimulai).