Roy Keane abis kena komen sama Bruno Fernandes di podcast Diary of CEO.
Abis ini dia marah-marah komen nyindir Bruno di the Overlap terus ngajak Gary Neville ikut-ikutan, terus kumpulin Scholes sama Butt buat komen nyerang Bruno dan Manchester United.
Well, kalian legenda dan idola saya sedari kecil menonton bola, but just shut up. Support the team and support the players!
Gue ga pernah melihat legenda tim lain yang seberisik dari legenda-legenda Manchester United ini.
Seperti yang gue bilang di eps terbaru @Box2BoxBola jadi pemain or pelatih Manchester United yang diurusin bukan gimana cara ngalahin tim lain doang, tapi ada legenda-legenda yang suka nyinyir yang buat suasana jadi makin kusut.
Gimana tanggapan warga soal ini?
Selamat buat fans manutd, bruno fernandes dapet player of the season.
Bukti bahwa untuk dapet penghargaan ini ga harus dapet trofi, melainkan konsistensi.
Even di saat manutd buruk, pemain ini ttp berusaha perform.
Penghargaan yg sangat layak.
🤝
🚨 OFFICIAL: Bruno Fernandes breaks Kevin De Bruyne and Thierry Henry’s record for most assists in a single Premier League season.
21 assists delivered this season. 👑🇵🇹
History. 🎞️
Januari 2020. MU lagi dalam kondisi yang susah dideskripsikan.
Lini tengah diisi Fred, McTominay, Matic, Andreas Pereira. Pogba. Dari nama-nama tadi, praktis hanya Pogba yang di level world-class. Matic sudah habis, McTominay terlau inkonsisten, Fred juga, Pereira apalagi. Kreatifitas tim hampir nol. Solskjaer butuh sesuatu, dan dia memutuskan untuk mendatangkan seorang gelandang dari Liga Portugal.
Reaksi publik? Skeptis. Wajar.
Datang dari Sporting CP, liga yang bukan benchmark kualitas Eropa. Badannya krempeng, bukan tipikal gelandang Premier League yang kekar dan bisa survive di intensitas liga Inggris. Belum pernah sekalipun proven di level ini.
Tapi dari menit pertama dia injak lapangan Old Trafford, ia langsung kasi instant impact ke dalam tim. Ia langsung keliatan beda mulai dari cara dia membaca permainan, cara dia bikin orang lain terlihat lebih baik, cara dia selalu ada di momen yang paling penting.
Enam musim berlalu. Manajer silih berganti. Tim naik turun, hancur, rebuild, hancur lagi. Sementara Bruno tetap ada. Week in, week out.
Dan musim ini, di tengah MU yang masih dalam transisi, dia diam-diam nulis namanya di buku sejarah Premier League.
21 assist dalam satu musim. Henry cetak 20 di 2002/03, setahun sebelum Arsenal Invincibles. De Bruyne cetak 20 di 2019/20 dengan mesin City yang hampir sempurna di belakangnya.
Bruno melakukannya dengan absen di 3 laga, dan dengan tim yang masih cari bentuk terbaik mereka. Dari gelandang Liga Portugal yang diragukan, jadi pemegang rekor assist terbanyak dalam satu musim sepanjang sejarah Premier League.
Enam tahun. Tujuh manajer. Satu nama yang selalu ada di tengah semua kekacauan itu. Bruno Miguel Borges Fernandes! 👏👑
#utdfocusid #mufc
Di tengah masifnya seruan #OleOut waktu itu, ada satu hal yang sering dilupakan: era Ole Gunnar Solskjær sebenarnya tidak seburuk narasi yang dibangun media dan netizen.
Ya, dia gagal bawa trofi. Tapi kalau kita lihat lebih dalam, ada fondasi yang jelas terbentuk. Di bawah Ole, United mencapai 3 semifinal (FA Cup 2x, Carabao Cup 1x), 1 Final Europa League 2021, Finis 3rd (2019/20) dan 2nd (2020/21) di Premier League.
Ini bukan pencapaian tim yang “berantakan”. Ini jelas tim yang on trajectory. Masalahnya? Ekspektasi.
United pasca Sir Alex Ferguson hidup dalam bayang-bayang kejayaan instan. Setiap progres harus langsung berujung trofi, padahal secara struktur skuad, mereka belum sepenuhnya siap.
Musim 2021/22 seharusnya jadi titik penentuan. Banyak yang melihat United hanya butuh satu kepingan penting: defensive midfielder elite yang bisa menyeimbangkan lini tengah. Alih-alih mengisi kebutuhan itu, klub justru mengambil keputusan oportunistik dengan memulangkan sang Legenda.
Di atas kertas, itu terlihat seperti no-brainer. Tapi secara taktik, itu mengubah arah proyek Ole: Sistem pressing-nya jadi tidak konsisten. Struktur serangan berubah lebih direct. Ketergantungan pada individu kembali muncul.
Hasil akhirnya? Proyek yang sebelumnya dibangun perlahan jadi kehilangan arah sebelum sempat matang. Apakah Ole pelatih sempurna? Jelas tidak. Dia punya keterbatasan dalam game management dan struktur taktik di level elite. Tapi menyederhanakan eranya sebagai “gagal total” juga gak adil.
Karena kalau dilihat secara objektif, Ole sama sekali gak menghancurkan United seperti framing yg dia terima waktu itu, dia justru membawa United kembali ke jalur kompetitif, sebelum arah itu berubah di momen yang sangat krusial.
#utdfocusid