Maybe he was wrong, but the unfamiliar voice surely did him a favor—dimming down the noises that only he could hear.
Hengkara put a halt to his hand and slowly turned to the feminine figure not so far from where he sat.
DAN. If anyone wishes to write a (short) plot or some kind of one-liner with Hengkara, please do let me know. Get me out of this writing slump and make me write.
“Last cut aja dihapus, dok. Dokter kapan mau menghapus kesendiriannya?”
“Walah, tak adusi kopi, lho, suwi-suwi.*” (*Walah, saya mandikan kopi, lho, lama-lama.)
Begitu kurang lebihnya kehidupan sehari-hari seorang Hengkara Ibrahim. Masih sama, masih begitu-begitu saja.
“Dok, si Rahman kemarin keringet dingin itu dibantai di laporan pagi.”
Belum juga jadi menyesap kopi yang baru saja dibuat, Hengkara kembali meletakkan cangkirnya di atas meja. Bagian Bedah Digestif pagi itu masih tergolong sunyi, jarum jam belum genap menunjukkan pukul tujuh.
Selalu buat keringet dingin kalau jadi moderator laporan pagi, karena katanya suka tanya aneh-aneh. Padahal cuma tanya berkaitan sama kasus yang ditampilin, dan kasus juga biasanya code trauma kebanyakan, itu-itu lagi yang dibahas.
“Yo wes, bejomu meh lulus, nang.* Hidup segan mati tak mau itu kalau last cut dihapus. Baik-baik sama adek-adekmu biar gak pada resign.” (*Ya udah, untungmu udah mau lulus, nang.)
Datu hanya mampu mengangguk dengan senyum getir, membayangkan lelah yang bisa dialami.