Ada rezeki beli buku, ada waktu bacanya
Ada rezeki beli tiket konser, ada waktu menghadirinya
Ada rezeki makan enak, pas makannya nggak harus buru-buru 🤍
Keuangan & keluangan.
Amin.
Doa akhir tahun buat yang baca ini
1. Hp baru
2. Mobil baru
3. Kerjaan nyaman
4. Hidup tenang
5. Gaji 2 digit
6. Hidup yang lebih baik
semoga kalian bisa mendapatkan ini semua di tahun 2026.
Mari kita usahakan bantal-bantal enak versi low budget itu, king koil minggir dulu :
1. King Rabbit
2. Lady Americana
3. Bantal Domi
4. Quantum Hotel Pillow
5. Lazy Sunday
Dapet bayi diare. Bayi ni 3 bulan.
Gue : susunya sufor apa asi?
Ibu : asi dok
Oh aman ni.
Tibalah anam
Gue : ga ada dikasih makan lain?
Ibunua : kemaren dok nyoba durian.
Gue : DURIAAAAN?????? KENAPA DIKASIH DURIAN.
ibu : kasian dok soalnya anaknya kepengen, ngeliatin terus
January 2026 will be full of good physical health
January 2026 will be full of good mental health
January 2026 will be full of answered prayers
January 2026 will be full of good energy
January 2026 will be full of good news
January 2026 will be full of good luck
January 2026 will be full of blessings
January 2026 will be full of peace
Sekarang saya mikir gimana cara ambilnya?
Kepala saya ya penuh sama opsi-opsi, endoskopi, laringoskopi atau semua yg memungkinkan mengakses esofagusnya.
Bowo sama Ella seperti bisa baca pikiran saya.
"Poli THT sama endoskopi tutup dok." Kata Ella.
Kita berempat liat foto rontgen yang sama. Saya menghela nafas, "Laringoskop, angkat epiglotis trus ambil pake pinset?"
"Sudah terlalu dalam itu, dok." Agus menjawab. "pakai NGT?" Tanya saya lagi. "Ga ada alat ikatan buat nariknya dok." Jawab Ella.
"DOK, kateter urin! Ada balonnya!" Kata Bowo.
Saya mikir sejenak, "Cerdas Bowo."
Sangat masuk akal, kateter urin itu juga karet, tidak akan melukai anaknya. Saya tinggal sesuaikan tiupan balonnya dengan diameter minimal esofagus.
"Ok wo, ambil Folley Catheter no.12. Sama handscoen steril buat kita."
Saya menjelaskan hasil rontgen ke orang tuanya, ibu dan bapaknya tampak syok melihat fotonya, ibunya bahkan sampai meneteskan air mata.
"Aku ngerasa bersalah dok, kurang merhatiin dedek tadi." Isak ibunya.
"Gak apa apa.. gak apa apa.. tenang aja.." Saya menepuk-nepuk lengan kedua orang tua tersebut untuk membesarkan hatinya, "Saya mau coba ambil."
Padahal sejujurnya saya belum pernah menangani kasus seperti ini.
Bowo datang bawa folley cath no.12, Ella datang bawain handscoen no.8.5 utk saya.
"Bu, pak, dd nya kita selimutin dulu ya biar tangan kakinya mudah kepegang." pinta Ella. Ella dengan cekatan membulen anak itu, "aku ga mau disuntik.. aku ga mau disuntik.." Celoteh anaknya.
"Engga, gak ada yg bawa suntikan." Jawab bowo. "La, pegangin badannya, Wo, aku pegangin kepala, sama pantau rongga mulut, kamu masukin kateternya. Kalo aku bilang stop, stop ya." Bowo dan Ella ngangguk.
"Nak nanti ada selang kayak permen karet, kamu telan ya." Saya usap-usap kepalanya.
Saya lupa selang steril itu pahit. Jadi pas masuk ke mulutnya langsung dia gigit. "Nak jangan digigit nak, ayo telan."
Dan dimulai lah perjuangan kita bertiga menghadapi anak meronta-ronta sambil berusaha membuat dia menelan selang karet sedalam batas bawah koinnya sesuai hasil rontgen.
Detik itu terasa menit lamanya.
Gemes pengen maksa tapi harus tetap lembut biar nurut.
Dia jerit-jerit, nangis-nangis.
Kita juga dalam hati jerit-jerit, nangis-nangis, ngapain sih nak kamu pake nelan koin. Ampun.
Tapi air matanya, liurnya mulai banyak, dia terpaksa menelan dan menelan, perlahan selangpun tertelan sesenti demi sesenti.
"Stop Wo. Cukup." saya pompa balon kateternya pakai spuit hanya berisi udara sesuai cc yang saya persiapkan.
"Yuk tarik pelan-pelan." Bowo melingkar pangkal foley cath di ke empat jarinya lalu menarik. Pelan. Pelan.
Saya perhatiin wajah Bowo, di salah satu momen tarikannya tiba-tiba matanya melebar, seperti orang mancing yang kailnya ditarik ikan. "dok, dapat dok."
"TARIK, WO!" Saya teriak sambil menguatkan pegangan saya di kepalanya. Bowo menarik balon sekuatnya.
"Ooeekkk" muntahlah anak itu.
Dan dalam muntahannya, bersama balon kateter, keluarlah koinnya.
Koin Rupiah indonesia, Rp 1000.
"Alhamdulillaah." Ucap kita berlima berbarengan padahal gak janjian.
Melihat saya memegang koin seribu, dedeknya teriak sambil nunjuk, "Uuiiittt.." dia langsung ceria lagi.
Saya usap-usap kepalanya, "Iya nak, uit nya ditabung yaa naak, jangan ditelan lagi."
"Makasi ya dok, makasii ya dok." Ucap kedua orang tuanya menyalami saya, "ini pak bu yang punya idenya, Ners Bowo." Saya tepuk-tepuk pundaknya.
"Oiya, makasi ya mas bowo. Makasi byk." keduanya berlinang air mata lega, mereka bertiga pulang dengan bahagia.
Kami bertiga kembali ke nurse station juga dengan sangat bahagia, sambil tidak lupa membuang kateter urin yang beralih fungsi menjadi alat pancing koin.
Jepang gempa gede gak sampe 1 jam dari kejadian perdana mentri nongol bikin pers. Evakuasi warganya gercep pol pdhl tengah malem. Sebuah kesenjangan pemerintahan😭🫱🏼🫲🏽 Oiya gak boleh bandingin eaa wkwk😇👊🏽