Our president, leader of the Republic of Indonesia, watches the poor eat their meal.
He does the watching from a lavish setting, his own plate stacked with expensive food.
Poverty as an evening's entertainment.
Tau ga kenapa yang AFnya TigerHead? Bukan tigerbois16? Soalnya klo tigerbois16 pada ga bisa berantem, bisanya sweeping diacara2 musik sama sweeping2 tempat2 kos orang sunda yang berkegiatan di jakarta. Ya klo lg pengen "cucitangan" mereka nyuruh ade2an manggarainya 🤫🤫🤫 FAKTA.
Kalau yang nulis orang Indonesia bakal dicap antek asing nih. Nah, sekarang yang nulis dari luar beneran. Artinya, mata dunia semakin terbuka tentang situasi di Indonesia. Dan ini bukan hanya media Barat, sebelumnya Kamar Dagang China juga komplain ttg situasi Indonesia. Apa masih akan menggunakan narasi antiasing untuk delegitimasi kritik dan masukan? Khawatir rupiah bakal terus nyungsep.
Himbauan kepada seluruh BOBOTOH, untuk TIDAK beli tiket pertandingan terakhir (home) Persib di CALO/Komunitas berkedok calo/ "tokoh" "sebagai" yang sebenarnya adalah CALO.
Mari persempit ruang manusia korup/nyiuk dalam pepersiban.
Jangan dipaksakan, Persib ga akan lari kemana👌
Bagi yang belum yakin tentang rapor merah Prabowo-Gibran:
1. Nilai tukar rupiah terendah sepanjang sejarah
2. Kabinet tergemuk sepanjang sejarah
3. Presiden paling sibuk ke luar negeri dan wapres paling tidak berguna sepanjang sejarah (51 kunjungan dalam 2 thn, sementara Jokowi 58 dalam 2 periode)
4. Nominal utang & suku bunga APBN terbesar sepanjang sejarah
5. Proyek Korupsi termahal sepanjang sejarah
6. Praktek Nepotisme terparah sepanjang sejarah
7. SDM generasi muda terendah sepanjang sejarah
Mie instan adalah penyebab meme brainrot generasi sekarang!
Komersialisasi mie instan pada akhir 1950-an adalah titik nol yang secara diam-diam menetaskan embrio budaya brainrot saat ini.
Mie instan secara fundamental merekayasa ulang psikologi masyarakat dengan menormalisasi kepuasan instan; mengajarkan umat manusia bahwa sebuah proses kompleks dapat dipangkas habis demi hasil cepat. Pergeseran paradigma dari "menghargai proses" menjadi "memuja kecepatan" ini secara perlahan mengikis kesabaran kolektif kita, menciptakan fondasi kognitif yang rapuh bagi generasi mendatang.
Akibatnya, ketika era digital tiba, otak kita telah terkondisi untuk menuntut asupan dopamin yang sama cepat dan "murahnya" dengan tiga menit menyeduh mie, yang pada akhirnya memuncak pada fenomena brainrot internet saat ini: kecanduan massal terhadap rentetan konten pendek minim makna yang dikonsumsi secara rakus tanpa pernah benar-benar dicerna secara intelektual!
Oke, mana kaos saya, Bung?
bukan.
ini foto gagalnya negara dan pemerintah menyediakan transportasi umum yg selamat, nyaman dan terjangkau utk rakyatnya yg sudah berkontribusi patungan lewat pajak.