Biar sekalian saya bantu BPS menjelaskan.
Desil tidak dihitung dari gaji bulanan.
Rumah tangga diperingkat memakai puluhan indikator sosial ekonomi.
BPS menyebut sekitar 39 variabel, PMT, machine learning, dan data administratif.
Nah, problemnya di sini.
Kita cuma dikasih hasil dan infografik, sementara bagian paling penting yang auditable justru nggak dibuka
Parameter model, bobot variabel, cara pemeringkatan, performa model, sampai inclusion dan exclusion error tidak dibuka secara rinci untuk bisa diaudit.
Lalu bagaimana kita tahu desil 9 memang lebih sejahtera dari desil 8?
Bagaimana menguji bias wilayah, bobot kendaraan, rumah, pekerjaan, atau aset?
Di medsos sudah banyak warga mengeluh desilnya jauh dari kondisi nyata. Itu seharusnya jadi alarm validasi.
Kalau desil dipakai menentukan bansos dan subsidi, buka metodologinya sampai bisa diuji.
Jangan cuma kasih infografik SALAH, BENAR, HOAX, tapi ketika diminta hitungan detail jawabannya selalu:
POKOKNYA ADA.
Siapa belum ngantuk? Ini ada video yang isinya trivia singkat perihal Kopdes Merah Putih dari Mba Diana Nurindrasari sama Mas Harkan. Kabarin ke kami yaa kalo kalian tercengang;)
Prabowo ini bikin semua presiden pendahulunya jadinya terlihat bener kerjanya.
SBY itu nilainya 3/10, Jokowi 2/10 tapi Prabowo ini beneran 0/10. Nepotismenya gila. Temennya ditunjuk jadi Menhan yang ngurusin koperasi. Ajudannya dijadiiin Seskab. Adiknya dikasih jabatan multifungsi. Ponakannya dikasih Deputi BI.
Ekonomi lagi ambruk-ambruknya tapi presidennya macem gini. Hancur total.
Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara?
Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu.
Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun.
Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai.
Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain.
Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi.
Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook.
Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa:
1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN.
2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal.
3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu.
4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan.
5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian.
Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam.
Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka.
Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam.
Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan.
Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja.
Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam.
Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek.
Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan.
JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun.
Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara.
Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan.
Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga.
Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum.
Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi.
Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun...
Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit.
Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus.
Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini?
Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara?
Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian.
Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi.
Jakarta, 16 April 2026
Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
Min @KemensetnegRI, ini saya bertanya murni ya. Berbasis protokoler dan kapatutan pertemuan pemimpin dua negara. Kepala Negara.
Ini kan acara resmi undangan Kaisar Jepang ya. Artinya undangan Kepala Negara pada Kepala Negara. Tapi yg mengganjal saya, itu Mas Teddy duduk sebagai apa di meja? Posisi terhormat yang Perdana Menteri Jepang saja tidak akan ambil jika itu pertemuan dua kepala negara (CMIIW).
Kedua, Mas Teddy itu hanya eselon 2 di Setneg kan? Masih ada di rombongan yang jauh di atas itu, eselon 1 bahkan Menteri hingga Menko. Kenapa koq malah eselon 2 yang di sebelah kanan Presiden?
Kalau putra Presiden, itu wajar dalam jamuan kenegaraan, apalagi memang Pak Prabowo saat ini masih sendiri, wajar duduk bersama Kaisar mendampingi bapaknya di jamuan kenegaraan.
Coba jelaskan agar tidak jadi isu, bukan hanya nasional juga International.
Mungkin bisa dicek di protokoler Kemenlu, apa pernah kejadian seperti ini.
Terimakasih jika dijelaskan.
Kok serem sih… mbak Nana berkali-kali bilang banyak yang protes, dia keukeuh ngebantah. Ga ada gitu dia penasaran, nanya dulu minimal, “Siapa yang protes? Mana?” Malah come on come on doang ga mau tau. Nuduh orang ga objective tanpa tabayyun.
Bener-bener buta mata buta telinga.
Fix! Ketua @YLBHI Muhammad Isnur konfirmasi:
Serangan air keras ke Andrie Yunus berkaitan dengan temuan keterlibatan BAIS TNI di Kerusuhan Agustus 2025.
Andrie bukan cuma pejuang HAM, dia adalah saksi kunci yang mau membongkar siapa dalang kerusuhan massal setahun lalu.
Operasi air keras ini adalah upaya PENGHILANGAN BARANG BUKTI secara fisik & psikis.
Di Republik Komorbid ini, aparat yang harusnya jaga rakyat malah jadi aktor kerusuhan & pelaku teror.
Kami menuntut:
Adili di Peradilan Umum (Koneksitas).
Bongkar 'Jenderal' di balik operasi BAIS ini.
TGPF Independen sekarang juga!
Jangan biarkan kasus ini dikanibal oleh mekanisme internal militer.
Rakyat berhak tahu siapa yang memesan air keras itu.
Informasi dari Muhammad Isnur (Ketua Umum YLBHI) dalam video ini adalah konfirmasi final atas kekhawatiran kita: serangan terhadap Andrie Yunus adalah sebuah Operasi Intelijen yang berhubungan dengan pengungkapan borok masa lalu.
https://t.co/JMjwYM7dC0
Dari kunjungan kak luna cinta Kita bisa lihat apa yang disampaikan oleh tedy Buna 100% adalah penyesatan opini publik.
Berisik dilarang, diam dianggap pulih🥀 Aceh lon sayang😭
Penangkapan aktivis dan tokoh kritis bakal makin marak pada 2026. Saking seringnya, peristiwa itu akan menjadi hal yang lumrah.
#TempoPlus
https://t.co/VRlLTfS805
Kawan-kawan solidaritas di Bandung setiap waktu selalu memberikan dukungan yang melimpah untuk Rifa. Di BandungBergerak, Sastra Wijaya menuliskan sebuah surat dukungan. Mari tengok dan bagikan!
https://t.co/a6I2JEbZ4G
Salah satu kombinasi berbahaya awal tahun ini jatuh kepada KUHP dan KUHAP.
Ada kombinasi lain yang ngga kalah berbahaya. Misal; Banjir dan Inkompetensi Negara; Jurnalis dan Penangkapan Sewenang-wenang; Ruang Pengadilan dan Militer; Apalagi?
Geng SOP (Solo, Oligarki, dan Parcok) sedang unjuk gigi di Morowali. Menangkap dan “mencekik” wartawan/aktivis pake senjata laras panjang.
Apakah ini wujud perlawanan terhadap operasi penertiban tambang yang dilakukan oleh Presiden Prabowo lewat Pak Menhan Pak Menhan @sjafriesjams ?