After that night, our relationship continued in secret.
She started spending more time in my room, sometimes falling asleep there and occasionally borrowing my clothes.
My roommate began noticing the changes.
One morning, he saw his sister leaving my room wearing one of my shirts.
He immediately confronted me.
Roommate: “Are you sleeping with my sister?”
I panicked.
Me: “No! Why would you think that?”
Roommate: “She's always in your room, she's wearing your clothes, and you two suddenly act differently around each other.”
Me: “You're imagining things.”
He stared at me suspiciously.
Roommate: “If I find out you're lying, you'll regret it.”
Later that evening, I told his sister we needed to stop hiding.
Me: “Your brother suspects something. We can't keep doing this behind his back.”
Her: “Then let's tell him the truth.”
Me: “You know he'll be furious.”
Her: “I'm not ashamed of loving you. I don't want to keep pretending we're just friends.”
Before I could convince her to wait, she went straight to her brother and told him everything.
A few minutes later, he stormed into my room.
Roommate: “YOU'RE SLEEPING WITH MY SISTER?”
I stood up immediately.
Me: “Please, let me explain.”
He grabbed my shirt and shoved me backward.
Roommate: “I TRUSTED YOU! I TOLD YOU TO STAY AWAY FROM HER!”
Me: “I know, and I'm sorry I lied. But I never planned for this to happen.”
Roommate: “So you think you can betray my trust and simply tell me you're sorry?”
Before things got worse, his sister stepped between us.
Her: “Stop blaming him alone! I wanted this too. I love him, and I'm tired of hiding it.”
Her brother looked at her in disbelief.
Roommate: “You're choosing my roommate over your own brother?”
Her: “No. I'm asking you to accept that I'm happy with him.”
I took a deep breath.
Me: “I should have been honest with you from the beginning. I value our friendship, and I never wanted to hurt you. But my feelings for your sister are real.”
He looked at both of us, still furious.
Roommate: “I need time. Don't expect me to accept this overnight.”
We gave him space.
Over the following weeks, we had several difficult conversations. Eventually, he began to accept our relationship, although he never let me forget how badly I had handled the situation.
His sister and I stayed together.
I never expected to fall in love with my roommate's sister. Our first meeting was an embarrassing accident, but what followed was something neither of us planned. I nearly lost my best friend by hiding the truth, and I learned that when love enters a friendship, honesty matters just as much as the feelings themselves.
Cerita BDSM MMF
Part 1
Nama ceweknya Rara, 24 tahun. Dua cowoknya: Dimas (27, lebih tinggi, suara dalam) dan Reza (26, lebih build, suka main rough). Mereka bertiga sudah saling kenal lewat circle BDSM yang sama, dan malam ini adalah sesi pertama mereka bertiga secara resmi.
Rara datang ke apartemen Dimas dengan dress hitam pendek dan collar kulit sederhana di lehernya. Begitu pintu terbuka, Dimas langsung bilang pelan tapi tegas, “Masuk. Tutup pintu. Berlutut.”
Rara menurut. Reza sudah duduk di sofa, celana jeans-nya masih terpakai, mata menatap Rara dari atas ke bawah. Dimas berjalan mengelilinginya, jari-jarinya menyentuh rambut Rara, lalu menarik collarnya pelan ke belakang.
“Malam ini kamu milik kami berdua,” kata Dimas. “Kamu boleh ngomong ‘merah’ kapan saja kalau mau stop. Selain itu, kamu patuh. Mengerti?”
Rara mengangguk. “Iya, Sir.”
Reza berdiri, mendekat. Dia mengambil tali shibari yang sudah disiapkan di meja. “Tangan di belakang punggung.”
Rara menurut. Reza mulai mengikat pergelangan tangannya dengan simpul yang ketat tapi tidak sampai memotong sirkulasi. Dimas membantu mengikat bagian atas, lalu menghubungkan tali ke collar Rara sehingga posisinya sedikit tertarik ke belakang, dada terangkat. Setiap kali Rara bergerak, tali itu menegang.
“Bagus,” gumam Reza. Dia mengelus pipi Rara, lalu menamparnya pelan sekali. “Lidah keluar.”
Rara menjulurkan lidah. Reza menekan ibu jarinya ke lidah itu, lalu menuntun Rara untuk menyentuh celana jeans-nya. Dimas di belakangnya sudah mulai mengangkat dress Rara ke pinggang, memperlihatkan bahwa dia tidak memakai celana dalam sesuai instruksi.
“Udah basah?” tanya Dimas sambil mengusap dua jarinya di antara paha Rara. “Iya, basah. Gadis nakal.”
Rara merintih pelan saat Dimas memasukkan dua jari sekaligus, memompa pelan sementara Reza membuka celananya dan menuntun kepala Rara ke arahnya. Rara membuka mulut, menerima Reza pelan-pelan. Dimas terus memainkan jarinya di dalam Rara sambil sesekali menampar pantatnya—bukan keras, tapi cukup untuk meninggalkan bekas merah muda.
Mereka pindah ke kamar. Rara masih terikat, berjalan tertatih karena tali dan karena Dimas terus menyentuhnya dari belakang. Di kamar, Dimas menyiapkan sprei dan beberapa alat: paddle kulit, tali tambahan, dan blindfold.
“Berlutut di tepi ranjang,” perintah Reza.
Rara menurut. Blindfold dipasang. Dunia Rara jadi gelap. Dia hanya bisa mendengar napas dua cowok itu dan merasakan tangan mereka. Reza mengikat pergelangan kaki Rara juga, memisahkan kakinya sedikit. Dimas memegang paddle.
Pukulan pertama mendarat di pantat kanan Rara. Suara kulit bertemu kulit menggema pelan. Rara tersentak, tapi tidak berteriak. Pukulan kedua di sisi kiri. Ketiga. Keempat. Setiap kali paddle mendarat, Reza memegang rambut Rara dan menyuruhnya menghitung.
“Satu… dua… tiga…” suara Rara bergetar.
Setelah sepuluh, Dimas berhenti. Dia mengusap bagian yang memerah dengan telapak tangan, lalu membungkuk dan menggigit pelan kulit yang sudah panas. Reza di depan sudah membuka celananya sepenuhnya. Dia menuntun kepala Rara lagi, kali ini lebih dalam.
“Isap dengan benar,” kata Reza rendah. “Jangan sampai gigi kena.”
Rara patuh. Sementara mulutnya sibuk, Dimas sudah berdiri di belakangnya, celana diturunkan. Dia mengoleskan pelumas, lalu mendorong masuk perlahan. Rara merintih di sekitar Reza. Dimas tidak buru-buru; dia bergerak pelan, dalam, sambil sesekali menampar pantat Rara yang masih merah.
Mereka bergantian posisi. Reza menggantikan Dimas di belakang Rara, sementara Dimas pindah ke depan. Rara tetap terikat, blindfold masih terpasang, hanya bisa menerima. Kadang mereka menyuruhnya diam, kadang menyuruhnya memohon.
“Bilang kamu mau diisi dua-duanya,” bisik Dimas.
“Saya… mau diisi… dua-duanya, Sir,” Rara menjawab terputus-putus.